31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Mangkrak, 16 Kios Pasar Bulu Disegel

SEMARANG – Sedikitnya 16 kios yang tidak digunakan alias mangkrak di Pasar Bulu lantai II disegel oleh petugas Dinas Perdagangan Kota Semarang. Hal ini dilakukan sebagai langkah tegas kepada para pedagang yang mangkir berjualan dan enggan menempati kios yang disediakan. Saat melakukan penyegelan, Rabu (22/2) kemarin, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto memasang stiker bertuliskan ”Kios/Los Bermasalah.”

Penyegelan dilakukan mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pengaturan Pasar Tradisional pasal 17 ayat 6 (c), yakni tidak menjalankan usahanya berturut-turut selama 3 bulan, maka hak tempat berjualan dikuasai oleh dinas.

Fajar mengatakan, dirinya berusaha tegas ingin menjalankan amanah dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi agar Pasar Bulu bisa dihidupkan lagi dan ramai. ”Kasihan Mas Hendi (sapaan Wali Kota Hendrar Prihadi, Red) sudah mbangun seperti ini tapi pada ndableg. Sudah dua kali diberi peringatan, tapi tidak diindahkan. Jadi ini peringatan terakhir. Sebanyak 16 kios ini dikuasai Dinas Perdagangan,” ungkapnya.

Fajar menyayangkan oknum pedagang yang tidak mau berjualan dengan alasan tertentu, dan ada yang membuatnya menjadi lahan investasi.

Ia mengutarakan hal tersebut merupakan sebuah pelanggaran, dan pedagang tidak memiliki hak tersebut. Karena kios dan lapak sepenuhnya aset milik Pemerintah Kota Semarang, para pedagang hanya memiliki hak menempati.

Selain itu, ia juga mengungkapkan kekecewaannya pada pedagang yang sejak awal pasar dibangun, namun tidak membuka usahanya. Mereka meninggalkan lapaknya begitu saja.

Dikatakan, nantinya pedagang yang kiosnya disegel bisa menghadap ke Dinas Perdagangan jika ingin membuka kembali kiosnya. Syaratnya, harus membayar uang retribusi baik kebersihan maupun listrik terhitung sejak awal mereka memiliki tempat tersebut.

”Mereka itu tidak bayar retribusi kebersihan dan listrik, ini kan aset pemerintah, jadi jangan seenaknya. Kami beri waktu satu bulan, jika tak diurus, akan kami berikan ke pedagang yang membutuhkan,” tegasnya.

Ditambahkan, akan ada 100 pedagang baru yang segera menempati lantai III Pasar Bulu. Dijadwalkan pada minggu pertama Maret mendatang semua sudah harus menempati. Pihaknya masih memberikan waktu kepada pemilik kios lantai II yang disegel untuk menemuinya. Sebab, gembok yang dipakai mengunci kios telah diganti secara perorangan, dan tidak lagi menggunakan gembok milik Dinas Perdagangan.

”Minggu depan kami akan koordinasi dengan Polres dan Satpol PP, karena gembok sudah diganti bukan yang dari dinas. Kalau kami buka paksa, nanti malah menimbulkan kericuhan. Kami berikan waktu untuk segera menghadap ke kami, kita rembuk baik-baik, apabila tidak bisa setengah bulan dari hari ini, kita buka paksa dengan melibatkan petugas Polres maupun Satpol PP,” ujarnya.

Ia membeberkan, setelah tenggat waktu usai ia akan membuka peluang bagi pedagang yang ingin menempati kios di Pasar Bulu. Sehingga Pasar Bulu bisa kembali ramai dan hidup seperti yang diinginkan pemerintah saat awal pembangunan.

Dikatakan, Pasar Bulu bisa dijadikan tempat baru bagi pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Johar atau pasar lain yang belum mendapatkan tempat. Selain itu, kebijakan ini juga akan diberlakukan di pasar lain, agar kondisi pasar bisa lebih tertib dan kios dipakai sesuai fungsinya.

Santi, pemilik kios usaha jahitan di lantai II mengungkapkan, ia ingin bisa mendapat kios lagi, karena saat ini yang digunakan dirasa kurang, dan tidak seperti miliknya dulu ketika belum dibangun.

”Itu yang tutup kan biasanya milik pedagang yang dulu punya beberapa kios, tapi setelah dibangun dapat jatahnya misah-misah, makanya tutup. Ya, saya setuju kalau kepemilikannya kembali pada dinas, dan senang kalau ada yang mau jualan di sini jadi ramai. Kan jadi semangat kalau banyak yang jualan,” katanya. (mg26/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here