Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan Semakin Berkualitas

  • Bagikan

BIDANG kesehatan dan pendidikan menjadi salah satu tolok ukur kesejahteraan bagi suatu kota, bahkan negara. Tanpa penanganan bidang kesehatan dan pendidikan yang serius, jangan harap rakyat akan sejahtera.

Karena itulah, pasangan Wali Kota Pekalongan H Achmad Alf Arslan Djunaid SE dan wakilnya HM Saelany Mahfudz yang biasa disapa Alex–Sae, memberikan perhatian serius paa kedua bidang tersebut selama pemerintahannya. Bahkan kedua bidang itu mendapatkan prioritas dalam visi misinya ke depan.

Saat ini, menjadikan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai ujung tombak bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Telah tersebar 26 Puskesmas di seluruh Kota Pekalongan. Yakni 10 unit Puskesmas non rawat inap, 4 Puskesmas Rawat Inap yakni Bendan, Sokorejo, Kusumabangsa dan Pekalongan Selatan. Serta Puskesmas Akreditasi sebanyak 5 unit. Selain itu ada Puskesmas Santun Lansia 1 unit dan Puskesmas Ramah Anak 2 unit. “Saat ini, yang sedang digarap adalah 4 Puskesmas Layanan sampai dengan pukul 21.00,” kata Pelaksana Tugas (PLT) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan, Puji Winarti SKM Mkes.

Targetnya dua Puskesmas yakni Puskemas Noyontaan dan Dukuh akan beroperasi sebagai Puskesmas Layanan sampai pukul 21.00 pada 1 Maret 2017 dan dua lagi yakni Puskesmas Jenggot dan Tirto per 1 April 2017. Untuk menjadikan Puskesmas layanan sampai dengan pukul 21.00, Dinkes menyiapkan dokter.

Selain itu, guna mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sampai akhir 2016, ditunjang juga dengan 406 unit Posyandu, 17 unit Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu), 97 unit Posyandu Lansia dan 1 unit Rumah Singgah Gizi “Ceria Ananda”.

Keseriusan Pemkot Pekalongan menangani kesehatan ini berbuah banyak prestasi. Di antaranya Posyandu Melati 1 Kelurahan Kuripan Yosorejo meraih juara III lomba Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Tengah, serta Kelurahan Setono juara III Lomba PHBS Tatanan Rumah Tangga Tingkat Provinsi Jawa Tengah dan lain-lainnya.

Menurut Ketua Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Sujaka Martana, rencana empat puskesmas buka hingga pukul 21.00, sudah sesuai dengan visi-misi wali kota. “Keinginan kami sebenarnya bukan hanya empat Puskesmas, tapi semua Puskesmas di Kota Batik. Lebih dari itu, kami juga menginginkan pelayanan selama 24 jam. Namun hal itu belum bisa dilakukan saat ini dan akan ditingkatkan pada masa-masa mendatang,” ujar Sujaka.

RSUD Bendan, Jadi Rujukan

Selain Puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bendan yang merupakan rumah sakit milik Pemerintah Kota Pekalongan, juga terus ditingkatkan pelayanannnya. Kini, sudah memiliki pelayanan yang pantas jadi unggulan sekaligus rujukan.

Menurut Direktur RSUD Bendan dr Bambang Prasetijo M Kes melalui Humas Erna Prihantini, ada sejumlah pelayanan unggulan di RSUD Bendan yang menjadi unggulan. Di antaranya untuk pemeriksaan mata, pelayanan bedah ortopedi, bedah syaraf, pelayanan tumbuh kembang anak dan lain-lainya. “Untuk pelayanan unggulan, RSUD Bendan memiliki peralatan tercanggih di seluruh Pantura,” ujar Erna.

Sebagai contoh Erna menunjuk poli mata menjadi pelayanan unggulan karena kelengkapan alat yang dimilikinya. Sejak 2013 sudah ada alat yang namanya phaco, satu-satunya yang ada di Karesidenan Pekalongan.

Selain itu, untuk bedah syaraf, RSUD Bendan sudah memiliki alat canggih yang disebut microscope neurosurgery. Mikroskop ini digunakan untuk operasi kasus bedah saraf yang membutuhkan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. “Alat ini biasa digunakan pada kasus-kasus operasi tumor otak, tumor medulla spinalis atau sumsum tulang belakang,” papar Erna lagi.

Meski sudah memiliki sejumlah pelayanan unggulan, tak lantas menjadikan manajemen RSUD yang berdiri 2009 ini, berpuas diri. Pada tahun 2017 ini, telah dirancang sejumlah layanan baru. Di antaranya membuka pelayananan kateterisasi jantung. Meski peralatan sudah komplit, namun masih ada sejumlah kendala.

“Meskipun dokter dan perawatnya sudah ada, namun mereka masih harus memperdalam pengetahuanya terkait hal ini. Karenanya pada tahap awal dibukanya pelayanan keteterisasi jantung, masih akan didampingi sejumlah tenaga ahli dari RSUP dr Kariadi Semarang,” ujar Erna.

Saat ini, RSUD Bendan juga sedang melakukan perluasan untuk kelas III yang biasa digunakan bagi pelayanan masyarakat kurang mampu. Ke depan akan ada tambahan antara 60 sampai dengan 80 tempat tidur lagi bagi perawatan kelas III. “Jika di kelas III ini semula hanya ada 102 tempat tidur, diharapkan akan bertambah menjadi sekitar 180-an tempat tidur,” katanya.

Penambahan kapasitas tempat tidur di kelas III ini, tambah Erna, agar bisa lebih melayani, terutama bagi seluruh warga Kota Pekalongan yang tidak mampu. “Salah satunya adalah jangan sampai pasien Jamkesda tidak tertangani,” tambahnya.

Sementara itu, terkait masalah antrean yang sering dikeluhkan oleh masyarakat, RSUD Bendan juga sudah mengambil sejumlah langkah antisipasi. Selain melakukan sejumlah langkah penertiban, pihak RSUD juga akan segera menggulirkan terobosan mendaftar melalui SMS. “Jadi, nantinya bagi pasien yang rekam mediknya sudah ada disini, bisa mendaftar melalui SMS. Hal ini akan mengurangi antrean,” katanya.

Dengan segala upaya peningkatan pelayanan itu, harapannya pada tahun 2017, RSUD Bendan bisa mendapatkan Akreditasi Rumah Sakit versi 2012. Akreditasi itu merupakan standar pelayanan yang fokus pada keselamatan pasien.

Peningkatan Akses Pendidikan

Selama setahun perjalanan pemerintahan Alex–Sae, peningkatan akses dan mutu pendidikan juga mendapatkan perhatian besar. Apalagi adanya sejumlah sekolah yang menjadi langganan banjir rob, saat musim hujan tiba. Sebut saja, SD Muhamadiyah Kramat Sari, SMP 10 dan lain-lain. Kondisi itu, memerlukan perhatian dan penanganan segera, karena mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan telah melakukan sejumlah langkah guna meningkatkan akses masyarakat ke dunia pendidikan. Di antaranya dengan mewujudkan wajib belajar (Wajar) 9 tahun. ”Secara fisik, kami harus menyediakan tempat yang cukup dan layak untuk belajar. Selain itu, harus dipastikan agar biaya sekolah masyarakat Kota Pekalongan terjangkau,“ ujar Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dindik, Suroso.

Dijelaskan Suroso, penambahan ruang kelas pada tahun 2016 lalu mencapai 5 sekolah yang menelan dana Rp 1.253.400.000. Untuk tahun 2017 ini, anggarannya dinaikkan menjadi Rp 2.075.000.000.

Sedangkan untuk perbaikan 16 sekolah, dikucurkan anggaran Rp 1.913.451.000. Selain itu, sekolah-sekolah yang terdampak rob, sebagian sudah ditangani, meski belum bisa keseluruhan.

Salah satu kendala untuk mengatasi dampak dari rob dan genangan air hujan pada 22 sekolah yang tergenang, saat ini Dindik belum bisa menggunakan dana cadangan sebesar Rp 4 miliar. Dana itu, baru bisa dipakai jika Pemkot Pekalongan menyatakan tanggap darurat. Padahal untuk menyatakan Kota Pekalongan tanggap darurat masih dibutuhkan sejumlah persyaratan khusus.

Meski begitu, kepemimpinan Alex-Sae terus berupaya melakukan peningkatan pembangunan fisik dan non fisik. Di antaranya pemberian bea siswa kepada 1170 siswa dengan anggaran sebesar Rp 1.170.000.000 untuk tahun 2016. Sedangkan tahun 2107 mengalami penurunan, yakni hanya Rp 596.000.000. Untuk Fasilitasi Operasional Sekolah jika pada tahun 2015 tidak cair, maka pada tahun 2016 menelan dana Rp14,643 miliar. “Untuk 2017, kami anggarkan Rp 9,394 miliar dan semua siswa miskin gratis sekolah, baik negeri maupun swasta,” ujarnya lagi.

Meningkatkan mutu pendidikan tentu tak bisa dilepaskan dari meningkatkan mutu lembaga, guru ataupun siswanya. Karenanya selama tahun 2016, pasangan Alex – Sae juga sudah memfasilitasi Akreditasi bagi 32 SD/MI, 12 SMP/MTs, 6 SMA/MA, 9 Program Keahlian di 4 SMK. “Selain itu, kami juga memberikan fasilitasi laboratorium dengan anggaran Rp1.240.535.600.000,” katanya.

Untuk Mutu PTK, dilaksanakan dengan peningkatan kesejahteraan guru dengan dana sebesar Rp 12,075 miliar, Fasilitasi Diklat Kompetensi, bantuan studi lanjut ke-S1 bagi 92 guru Rp 322.000.000 dan kegiatan KKG, MKKS, pengembangan profesi guru sebesar Rp 474.300.000.

Guna peningkatan Mutu Siswa selama tahun 2016, Dindik juga menggelar beragam lomba, BTQ, Try-out dengan anggaran Rp 347.903.910. Kemudian, penyusunan kurikulum budi pekerti dan penyusunan kurikulum pengenalan batik dan ektrakulikuler membatik. “Dengan perhatian yang serius, bidang pendidikan ini telah menelurkan banyak prestasi tak hanya tingkat provinsi tapi juga nasional,” katanya.

Sementara itu, terkait banyak masalah yang harus diselesaikan di dunia pendidikan, tak hanya terjadi di Kota Pekalongan, tapi juga dialami daerah lain. Namun untuk Kota Pekalongan, akan semua bisa diselesaikan selama semangat Brayan Urip dan Brayan Kerja tak pupus dari hati seluruh anggota masyarakat. (han/adv/ida) 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *