31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Ekspresikan Seni Grafiti tanpa Melanggar Aturan

MURAL wajah seorang pria tampil di salah satu dinding Kampung Kenari. Gambar tersebut makin bermakna dengan diimbuhi oleh kutipan yang bercerita seputar mimpi maupun kisah pahlawan lokal dari kampung tersebut.

Ya, beberapa mural dan grafiti yang menghiasi dinding tersebut boleh dibilang salah satu bentuk ekspresi seni dan kreativitas tanpa melanggar aturan. Para pelaku street art telah diizinkan untuk menorehkan karya mereka di dinding-dinding tersebut atau sering disebut legal wall.

Legal wall adalah istilah bagi tempat khusus yang boleh digambari grafiti di tembok dengan mendapatkan izin dari pemilik bangunan,” ujar salah satu anggota Komunitas Bring No Clan (BNC), Arief Hadinata, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, sebagian pelaku street art dan penikmat seni tersebut menganggap karya di legal wall kerap lebih indah dan lebih tahan lama. Tak jarang beberapa komunitas grafiti lebih memilih mencoret tembok legal daripada melakukan melakukan aksi vandalisme dan harus main kucing-kucingan dengan polisi atau Satpol PP.

BNC mewadahi para pelaku street art baik tim maupun independen di Kota Semarang yang besikap untuk berdiri di jalur legal. Sejak 2010, BNC memiliki peran menaungi para bomber agar lebih berkembang, baik teknik maupun konsep. Yakni, dengan melakukan diskusi, membuat beberapa project kolaborasi dengan komunitas lintas disiplin lainnya, dan penanaman attitude.

”Bagi kami attitude diperlukan, karena dirasa dalam 9 tahun terakhir vandalisme menjadi problem di Kota Semarang. Terkadang pelaku street art yang bukan vandalist ikut tercoreng namanya dan beberapa kali terlibat dengan Satpol PP maupun dinas terkait lainnya karena pengerusakan fasilitas umum, padahal bukan mereka yang melakukan,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, pihaknya membuat forum diskusi untuk mengedukasi pelaku street art yang kebanyakan belajar secara otodidak untuk lebih mengenal seni ini secara legal, mulai dari mengurus perizinan tembok maupun saling bertukar info di mana saja tembok-tembok legal.

”Untuk dinding sendiri, sebetulnya tidak ada kriteria soal tembok yang bisa dicoret, yang penting legal,” ujarnya.

Beberapa kali BNC juga melakukan sistem mapping spot untuk menentukan tempat yang boleh dan legal secara perizinan. Kadang mereka juga mendapat info dari warga yang juga memang menyukai seni jalanan.

”Sampai saat ini kita dapat tanggapan baik dari warga, kadang ada beberapa request minta kampungnya, tokonya bahkan rumahnya untuk digambar,” kata pria yang biasa dipanggil Hokage ini.

Kesulitan teman-teman street art saat ini adalah meyakinkan pemerintah bahwa aktivitas mereka ini positif. Beberapa wacana terkait tembok legal yang akan disediakan pemerintah masih belum terlaksana. ”Tapi enaknya kami bisa survive dengan cara kita sendiri, itu yang memicu kami untuk berpikir bagaimana bisa diterima di masyarakat,” ungkapnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here