31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Produksi Batik Tak Boleh Individualis

KAJEN–Batik dan tenun telah hidup di Kabupaten Pekalongan dari generasi ke generasi dan menjadikan orang bebas mengembangkan kreasinya serta bebas bertarung di seluruh pasar nusantara dan dunia. Karena itulah, di dalam proses produksi batik dan tenun, tidak boleh ada aspek individualitas yang terlalu tinggi.

“Karena produksi batik dan tenun, bukan saja menghidupi ribuan warga Pekalongan, namun melahirkan karya yang dikenang pada zamannya. Seperti batik Oey Soe Tjoen dan tenun karya Ridaka yang sangat mendunia itu,” kata

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, di sela pengukuhan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Profesi Batik-Tenun Nusantara (APBTN) Bhuana Kabupaten Pekalongan, di Hotel Dafam Pekalongan, Minggu malam (19/2) kemarin.

Pengukuhan tersebut tidak hanya dihadiri ratusan perajin maupun pelaku usaha batik dan tenun dari Kota dan Kabupaten Pekalongan. Tapi hadir juga Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Djunaid; Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali Bin Hasyim bin Yahya yang menjadi narasumber dalam agenda diskusi batik dan tenun di Kabupaten Pekalongan.

Dalam pengukuhan juga diberikan penghargaan kepada dua tokoh batik dan tenun, yakni Oey Soe Tjoen dan Abdul Kadir Muhammad atau Ridaka. Yaitu penghargaan Life Time Achievement dari APBTN Bhuana Kabupaten Pekalongan yang diserahkan oleh Bupati Pekalongan kepada kedua tokoh tersebut, yang dinilai telah melestarikan batik dan tenun lebih dari tu abad di Pekalongan.

Menurutnya, batik dan tenun tidak bisa lepas dari Kabupaten Pekalongan karena memiliki catatan sejarah panjang di wilayah Pekalongan, lahir sejak abad ke-8. Sebagaimana Kabupaten Pekalongan pernah dikenang oleh Sultan Syarif Hidayatullah Cirebon, yang telah memberikan karya terbaik dari putra-putra Pekalongan untuk menjadi Permaisuri Sultan. Bahkan saat Sekjen PBB Ban Ki-Moon serah terima jabatan, bingkisannya adalah batik.

Sementara itu, Panitia Pengukuhan DPC APBTN Kabupaten Pekalongan, Rininta, menjelaskan bahwa APBTN Bhuana Kabupaten Pekalongan merupakan wadah bagi para perajin batik dan tenun, pelaku usaha batik dan tenun, penggemar batik dan tenun, dan juga pemerhati batik dan tenun.

“Agar batik dan tenun tetap eksis dan selalu ada di Indonesia, melalui ide dan kreativitas masing-masing, telah dibentuk wadah yang menampung hasil karya dan ide, untuk pengembangan batik dan tenun di Indonesia,” katanya. (thd/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here