31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Tangkal Radikalisme, Gandeng Ponpes

SEMARANG – Pemprov Jateng perlu lebih intensif untuk menggandeng pondok pesantren (Ponpes) dan kampus. Langkah tersebut sebagai upaya untuk menangkal dan mengantisipasi aksi radikalisme.

Ketua Forum Silaturahmi Kiai Muda Jateng, KH Anis Maftuhin mengatakan, radikalisme masih menjadi persoalan serius. Semua itu tidak lain disebabkan, karena aksi tersebut mulai menyasar anak-anak muda, tak terkecuali di Jateng. ”Kami berharap lembaga pendidikan bisa dioptimalkan sebagai antisipasi aksi radikalisme,” katanya dalam diskusi ”Menangkal Terorisme” di Hotel Dafam Semarang, kemarin.

Ia menambahkan, radikalisme bertahan karena kelompok-kelompok tersebut mulai menggunakan media sosial untuk melancarkan aksinya. Di sisi lain, banyak kiai-kiai atau anak-anak pesantren yang agamanya bagus tidak bisa berkomunikasi karena gagap teknologi. ”Padahal jika mereka ahli agama tidak gaptek bisa menjadi tameng radikalisasi. Radikalisme muncul karena pemahaman agama mereka minim,” ujarnya.

Gus Anis tidak menampik jika selama ini radikalisme dan terorisme diidentikkan dengan Islam. Padahal, sejatinya Islam tidak mengajarkan aksi terorisme. Dalam Islam memang ada istilah jihad (berjuang dengan sungguh-sungguh). Istilah itu yang seringkali digunakan sebagai tameng dan dalih untuk melakukan aksi terorisme. ”Seluruh pihak harus bisa ikut terlibat untuk menangkal radikalisme. Bagaimanapun tidak ada satu agama yang membolehkan seseorang melakukan aksi terorisme,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Jateng, Fuad Hidayat mengaku prihatin dengan aksi radikalisme yang mulai menyasar anak muda. Ia berharap pemerintah maupun pemprov bisa melakukan inovasi untuk menangkal radikalisme. Salah satunya dengan mengajak dan membekali anak-anak muda dengan pemahaman agama yang bagus. ”Bisa saja menggandeng pondok pesantren atau kampus-kampus. Karena radikalisme ini merupakan persoalan serius,” katanya.

Ia menambahkan, sebenarnya pemprov sudah melakukan upaya dengan cipta kondisi. Tetapi memang perlu untuk ditingkatkan untuk terus bisa menjaga kondusivitas di Jateng. Untuk itu, program deradikalisasi harus terus digiatkan.

Direktur Eksekutif JC-LEC, Brigjen M. Syafei tidak menampik jika kelompok radikalisme mulai menggunakan media sosial. Untuk itu, semua pihak terutama orang tua harus benar-benar mengawasi anak-anaknya agar tidak terjebak dalam gerakan tersebut. ”Pengaruh media sosial sangat besar, ini harus menjadi perhatian,” katanya. (fth/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here