31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Bekali Keterampilan Tata Boga dan Kenakan Hijab

SEMARANG Indah (bukan nama sebenarnya) tampak puas setelah mengenakan hijab. Beberapa kali ia melakukan foto selfie dengan kamera ponselnya. Pekerja seks komersial (PSK) ini mendapat tutorial mengenakan hijab dari pegawai Pand’s Collection Semarang yang dihadirkan untuk memberikan pelatihan kepada para warga binaan Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning. Pelatihan keterampilan busana, tata boga dan pembinaan kerohanian  ini digelar di Balai Kelurahan Kalibanteng Kulon, Senin (20/2) kemarin.

”Waduh, cantik juga ya kalau pakai hijab. Pakainya juga cukup mudah dan simpel. Rasanya jadi adem,” ucap Indah sambil memotret dirinya pakai HP.

Setelah mengenakan hijab, para peserta pelatihan juga diminta berlenggak-lenggok layaknya model hingga memancing tawa warga binaan lainnya.

Kepala Dinas Sosial, Tommy Y Said, mengatakan, pelatihan tersebut akan digelar selama lima hari hingga Jumat (24/2) mendatang. Pelatihan keterampilan ini diikuti 488 penghuni Resosialisasi Argorejo secara bergiliran. Untuk keterampilan tata boga, para warga binaan akan diajari membuat makanan dari bahan dasar kedelai. Pihaknya juga menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang untuk memberikan bimbingan kerohanian.

”Warga binaan diajari keterampilan membuat makanan dari bahan kedelai, seperti tahu, susu kedelai, dan makanan lainnya,” katanya.

Untuk bimbingan kerohanian, warga binaan diajari memakai hijab yang baik dan benar dan diberikan pembinaan kerohanian, serta kepribadian, dengan harapan akan muncul kesadaran dan semangat untuk memulai hidup baru. ”Harapannya tentu keluar dari tempat ini, dan menjadi warga seperti orang lain,” tuturnya.

Pihaknya menjelaskan, jika Dinsos rutin melakukan pembinaan dengan melalukan pelatihan membuat prakarya, wirausaha, maupun salon dengan tujuan agar warga binaan bisa hidup mandiri, dan mendirikan usaha sendiri, serta bisa pensiun menjadi PSK.

”Sekitar 25 persen alumni lokalisasi Sunan Kuning setiap tahunnya mentas dan punya usaha sendiri,” ungkapnya.

Owner Soyger, Feb Sihsia D.S yang menjadi trainer warga binaan Argorejo menjelaskan, dengan memberikan materi berupa olahan kedelai, para warga binaan ini bisa membuat tahu, susu, nugget, maupun wedang air perasan tahu dengan mudah dan modal relatif kecil.

Basic-nya sangat mudah, bahkan tidak membutuhkan banyak orang. Selain itu, pasarnya sudah ada. Sebab, tahu adalah makanan pokok orang Indonesia,” jelasnya.

Ia menuturkan, dengan modal Rp 7,5 juta, warga binaan bisa mendapatkan peralatan berupa  mesin penggiling kedelai, panci-panci, sari bahari untuk bahan pembuat tahu, dan alat pres tahu dengan konsep pemberdayaan industri rumahan. Selain itu, juga akan dilakukan pendampingan seumur hidup, seperti analisis bisnis dan pengemasan. ”Jadi, tinggal menjalankan saja, pemasaran akan dibantu oleh kami, saat ini kami sudah menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit untuk menyediakan tahu,” tuturnya.

Ketua Resos Argorejo, Suwandi, mengatakan, pelatihan tersebut bisa menjadi pijakan awal untuk warga binaan agar bisa hidup mandiri di masyarakat sesuai dengan konsep resos, yakni pengentasan, kesehatan, dan pengamanan. ”Pelatihan yang diberikan, sesuai dengan terget dari Kementerian Sosial yang ingin Indonesia bersih dari lokalisasi tahun 2019,” ungkapnya.

Menurut dia, program dari Pemerintah Kota Semarang ini sangat tepat sasaran, lantaran bukan hanya menggusur lokalisasi dan memulangkan para warga binaan, melainkan dengan memberikan ilmu dan modal agar warga binaan bisa hidup mandiri.

”Target dari Dinsos, 3 tahun ke depan, Kota Semarang bisa bersih dari prostitusi. Sosialisasi sering dilakukan kepada warga binaan dan pengasuhnya agar mereka bisa beralih profesi,” katanya. (den/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here