31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Satu Semester, Seorang Siswa Baca 152 Judul Buku

Di tengah minimnya budaya membaca, ada letupan kecil dari salah satu madrasah di Kelurahan Sumurrejo, Gunungpati. Sekolah berkonsep Islam ini punya trik agar siswa gemar membaca. Terbukti, dalam satu semester, satu siswa bisa melalap 152 buku. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

MADRASAH Ibtidaiyah Negeri (MIN) Sumurrejo bisa jadi harapan baru mendongkrak budaya membaca. Semua siswa yang menuntut ilmu di sana, didorong untuk mencintai buku. Membaca, merawat, hingga berbagi informasi atau intisari dari buku yang telah mereka baca.

Kepala MIN Sumurrejo, Subiyanto, menjelaskan, banyak hal yang telah dilakukan agar siswa mau memupuk budaya membaca. Guru, komite sekolah, siswa, hingga masyarakat di sekitar sekolah tidak hanya urun angan, tapi juga turun tangan.

Dia menceritakan, awalnya sekolah yang diampunya didatangi Usaid Prioritas. Kedatangan tersebut untuk memberikan pelatihan tentang pengembangan budaya baca dengan melibatkan seluruh elemen sekolah. Setelah memberi pelatihan, Usaid Prioritas juga memberikan hibah buku sebanyak 150 judul buku dan 600 buku bacaan berjenjang sebagai suplemen membaca.

Pasca pelatihan dan hibah tersebut, Subiyono bersama komite sekolah dan para guru melakukan serangkaian langkah. Di antaranya, mendirikan pondok baca sebagai pusat kendali program pembudayaan membaca di madrasah.

Pondok baca yang dibangun memang tidak terlalu megah, tapi cukup nyaman untuk ditempati. Suasananya pun merangsang siapa saja untuk membaca buku yang tertata rapi di sudut pondok baca.

Dijelaskan, pondok baca punya beberapa program. Seperti reading morning atau program kebiasaan membaca setiap pagi, Juz Amma Ceria mulai pukul 06.30-06.45, dan Duta Baca yang bertugas menjadi contoh bagi teman sebaya, memotivasi dan mengampanyekan gemar membaca, serta mengoordinasi mading madrasah di Pondok Baca.

Selain itu ada program Layanan Lambat Baca bagi siswa yang masih kesulitan membaca. Juga Layanan Baca untuk Orang Tua yang masih buta huruf.

”Ada juga mading sekolah hingga cerita bergambar, yakni program tahunan  untuk menggali bakat minat dan potensi siswa dalam menuangkan cerita melalui tulisan dan gambar,” paparnya.

Meski sudah ada pondok baca, tidak sedikit siswa yang memilih membaca buku di luar. Mereka lebih suka melalap lembaran buku di bawah pohon rindang. Membaca sambil lesehan santai, tanpa kursi dan meja. Pihak sekolah pun menyediakan rak buku di hampir setiap penjuru sekolah. Setiap kelas pun punya sudut baca dan pajangan buku. Ini untuk memudahkan anak-anak yang ingin membaca.

”Kami berupaya membentuk ekosistem cinta membaca di lingkungan madrasah, baik melalui keteladanan, komunitas, program pembiasaan, pembelajaran literasi, dan fasilitas membaca. Orang tua juga telah kita fasilitasi layanan membaca dan diberikan pemahaman pentingnya membaca. Hal tersebut yang terus kita jaga,” ungkap Subiyono.

Untuk menyemangati siswa agar mau membaca, pihaknya memberikan apresiasi kepada siswa yang mampu membaca buku paling banyak selama satu semester. Di akhir 2016 kemarin, apresiasi diberikan kepada Rizki, siswa kelas V yang telah membaca sebanyak 152 judul buku. Disusul Anggi Latifah siswa kelas VI dengan 121 judul buku, Andin Aini Nur Latifah kelas IV dengan 82 judul buku dan Hani Asri Latif 74 judul buku.

Jumlah buku yang telah dibaca, bisa dilihat dari daftar buku yang diisi oleh masing-masing siswa. Untuk menjamin siswa betul-betul membaca buku, mereka diwajibkan menulis sinopsis sederhana setiap selesai membaca. Selain itu, dilihat dari bukti fisik kunjungan dan peminjaman buku.

”Siswa tidak hanya membaca di sekolah, bukunya boleh dibawa pulang untuk dibaca di rumah. Saya sendiri kaget anak-anak bisa membaca buku sebanyak itu dalam satu semester,” katanya.

Andin Aini Nur Latifah, siswi yang sudah membaca 82 judul buku di semester akhir 2016 mengaku memang hobi membaca. Baginnya, membaca buku tidak untuk mendapat apresiasi dari sekolah. Dia pun tidak ogah-ogahan menulis kembali apa yang dia ingat setelah membaca sebuah buku.

”Saya hanya membaca dan menulis apa yang saya ingat. Kalau pas jam istirahat, jam membaca atau pas tidak banyak kegiatan,” ucapnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here