JALAN ambles di beberapa titik jalan di Kota Semarang, kondisinya sangat memprihatinkan. Pakar Geologi dari Universitas Diponegoro (Undip), Ir Dwiyanto Joko Suprapto MT mengatakan bahwa amblesnya jalan karena kondisi tanah yang kurang baik di areanya.

Pada prinsipnya, kekuatan tanah yang tidak seimbang dengan tinggi dan kemiringan tebing. Sebagaimana jalan di Bendan Dhuwur, tepatnya di depan kampus Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) yang telah dilakukan beberapa kali perbaikan hingga betonisasi, retakan selalu terulang terjadi.

”Di Bendan memang tanahnya ada yang mudah longsor, tapi itu tidak seluruhnya. Masih bisa dilokalisir atau dipetakan sehingga dalam penanganannya bisa dibedakan,” ungkap pria lulusan S2-Geo Mekanika ITB ini.

Menurutnya, memperbaiki jalan tidak bisa disamaratakan dengan satu metode. Karena konstruksi tanah setiap meter, bahkan sentimeternya pun bisa berbeda. Ada yang strukturnya mudah longsor dan ada pula yang memang terletak di area patahan.

Gombel hingga wilayah kampus Untag saat ini, sedang menjadi tanah penelitian dalam rangka pengabdian oleh Dwiyanto dan rekan-rekannya serta mahasiswa. ”Nantinya setelah hasil pertemuan dan pemetaan yang kami lakukan selesai, akan kami usulkan ke pemkot atau provinsi, bahkan ke PU pusat,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan ada sebuah metode yang cocok digunakan pada tanah-tanah yang strukturnya lunak. Yakni, metode grouting. Yakni digunakan dengan cara menyuntikkan semen pada bagian tertentu yang sebelumnya dilakukan penelitian. Metoda ini telah ia teliti untuk penanganan tanah longsor sejak 2000, namun sayangnya alternatif perbaikan ini belum mendapatkan kepercayaan dari pemerintah.

”Saya sudah pernah mengusulkan kepada Pak Gubernur pada saat forum yang diadakan beliau bersama Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Jawa Tengah. Tetapi karena birokrasi, belum bisa diterapkan hingga kini,” tuturnya.

Sebenarnya, kata Dwiyanto, metode grouting sudah ada sejak lama. Hanya saja, pengembangan untuk tanah longsor baru ia temukan. Hal itu berawal dari diskusinya bersama teman-temannya, atas dasar kepeduliannya pada kerusakan jalan. Grouting sebelumnya dilakukan pada jalan dan tanah biasa.

”Sebetulnya betonisasi itu bagus. Tetapi karena praktiknya main pukul rata ke semua kerusakan, makanya ada yang remuk duluan. Padahal penanganannya harusnya berbeda,” katanya

Ia menyayangkan birokrasi yang sulit sehingga pemerintah tidak bisa menggunakan metode yang menurutnya efektif terkait biaya dan waktu. Namun saat memperbaiki Jembatan Comal Pemalang, tak juga menggunakan metode tersebut.

Sedangkan sistem yang sudah ada saat ini, imbuhnya, dibuat dinding penahan menggunakan batu. Itu semakin tinggi, pasangan batunya semakin lebar. Namun biayanya sangat tinggi dan harus menggali sampai ke bidang gelincirnya.

”Makanya, lokalisir dan pemetaan harus dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan yang nantinya dianalisis. Sekarang sudah ada programnya, jadi lebih mudah. Kemudian dibuat table penanggulangannya ada berapa alternatif,” terangnya.

Hal itu juga untuk mencari tahu bidang gelincirnya, agar dalam melakukan perbaikan tidak asal kepras pada tebing. Ia mengharap, perbaikan betonisasi dilakukan dengan pertimbangan dari hasil penelitian sehingga tidak sampai menutup jalan dan membuat kemacetan.

”Sebetulnya badan geologi sudah memetakan hal tersebut, tetapi areanya kecil sehingga jika ditanya pasti jawabannya titik-titik. Seharusnya hal itu ditindaklanjuti lagi, jadi dari titik-titik tersebut bisa diplot per meternya dan menghasilkan pengetahuan bagaimana menanggulanginya,” tegasnya. (mg26/ida/ce1)