31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

PU Kewalahan Tangani Jalan Ambles

SEJUMLAH titik jalan di Kota Semarang yang memiliki karakteristik tanah bergerak, sudah berulang kali dilakukan perbaikan pembangunan, namun kondisi jalan kembali rusak dan bergelombang. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) sampai kewalahan melakukan perbaikan. Bahkan teknologi cor pun tak mampu bertahan lama. Kondisi jalan tetap saja bergelombang.

Sebut saja titik jalan di daerah Sadeng Gunungpati, Jalan Jatibarang, dan Jalan Pawiyatan Luhur depan kampus Untag hingga depan kampus Unika Semarang. ”Memang sudah diperbaiki berkali-kali, tapi kembali rusak lagi. Tanahnya bergerak, kalau cuma menggunakan aspal saja dipastikan akan rusak lagi dalam hitungan bulan,” kata salah satu warga Jalan Pawiyatan Luhur, Umam Hayyin Ajib, kemarin.

Menurutnya, Pemkot Semarang harus memiliki terobosan untuk penanganan jalan yang memiliki karakteristik seperti itu. ”Kalau tidak, tentu akan rusak lagi. Akan lebih berbahaya, kalau dibiarkan tanpa ada penanganan khusus, karena kondisinya sangat membahayakan pengendara. Apalagi kalau pengendara yang tidak mengenal medan jalan di sini, misalnya orang luar kota,” katanya.

Wakil Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto mengatakan beberapa titik jalan yang memiliki karakteristik tanah bergerak seperti di Jalan Pawiyatan Luhur, Sadeng, dan Jatibarang, telah berkali-kali dibahas. ”Jalan tersebut merupakan jalan yang menjadi tanggung jawab Pemkot Semarang. Tentunya saya yakin Dinas PU, sudah melakukan kajian sejak masih bernama Bina Marga. Kalau itu mendesak untuk segera dikerjakan, ya segera direncanakan proses penganggaran hingga pelaksanaannya,” katanya.

Termasuk berapa anggaran uang yang dibutuhkan, seharusnya segera diajukan. Sebab, kalau dibiarkan tanpa ada terobosan penanganan, nanti akan semakin parah. Warga pengguna jalan semakin terganggu dan tidak nyaman. Di sisi lain, secara ekonomis, semakin parah atau semakin banyak kerusakan, maka semakin banyak anggaran maupun waktu yang diperlukan.

”Itu yang di Jati barang, konstruksi cornya bisa sedikit mengurangi gelombang-gembang, tapi kalau menggunakan aspal, saya kira kurang tepat, karena kondisi tanahnya bergerak. Tapi saya yakin PU telah memiliki spesifikasi untuk menangani jalan yang kondisi tanahnya bergerak seperti itu,” katanya.

Menurutnya, terkait penanganan karakteristik tanah yang bergerak hanya masalah teknis saja. Kalau ditangani serius, hal itu pasti bisa disiasati. ”Tinggal menggunakan teknologi seperti apa untuk menangani kondisi jalan dengan karakteristik seperti itu. Sebagai contoh, kita pernah lihat teknologi jalan layang. Jalan layang itu di bawahnya tidak ada tanahnya, tapi kenapa kok tidak muntir-muntir?” katanya.

Ia meminta Dinas PU lebih serius melakukan penanganan, jika perlu bisa memanfaatkan teknologi konstruksi jalan. ”Kalau tanahnya bergelombang dan banyak sekali terjadi pergerakan tanah, harus ada semacam tiang pancang di bagian bawah, misalnya. Itu menjadi titik tumpu sebagai penyangga. Sehingga ketika tanah bergerak, jalan tersebut tidak akan bergerak. Harus ada produk teknologi untuk menangani kondisi tanah yang bergerak. Bisa juga dibuatkan talut yang superkuat atau bagaimana mestinya tetap bisa. Sehingga tanah tidak bergerak,” harapnya.

Mengenai anggaran, Wachid menyatakan tidak ada masalah. Sebab, anggaran Pemkot Semarang beberapa kali meninggalkan banyak Silpa. Saat ini masih memiliki Silpa Rp 1,2 triliun. Daripada menganggur, mending dimanfaatkan untuk penanganan seperti itu. Persoalannya, harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan. Baik kebutuhan teknologi, anggaran, maupun kebutuhan waktu. Misalnya kalau waktu 1 tahun tidak cukup, harus dibuat lebih panjang, yakni tidak dibuat menggunakan anggaran tahun tunggal, tapi menggunakan anggaran tahun jamak atau multiyears. ”Saya rasa, kalau teman-teman dewan tidak keberatan,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminudin mengakui bahwa masih ada sejumlah titik jalan yang memiliki karakteristik tanah bergerak. Ia mengaku akan terus melakukan penanganan terkait jalan yang memiliki karakteristik tanah bergerak. ”Iya, kondisi tanah di titik-titik tersebut sering terjadi patahan. Ini akan terus diaspal. Agar tetap bisa dilewati. Untuk permanen, kami masih melakukan penelitian. Hasilnya belum maksimal,” katanya.

Mengenai apakah ada upaya untuk penerapan teknologi khusus untuk menangani kondisi jalan yang memiliki karakteristik tanah bergerak, Iswar mengaku belum menemukan teknologi yang tepat. ”Belum, kami belum mendapatkan teknologi. Kami sudah berupaya, tapi belum ketemu. Semoga secepatnya, ini masih terus diteliti,” katanya. (amu/ida/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here