31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Stuktur Tanah Labil, Jalan Langganan Ambles

Letak geografis Kota Semarang yang terdiri atas daerah dataran tinggi dan rendah, menyebabkan beberapa daerah, terutama jalan berada tepat di atas lempengan tanah dengan struktur yang labil. Kondisi tersebut, menjadikan jalanan kerap ambles saat musim hujan seperti ini.

DALAM pantauan Jawa Pos Radar Semarang, setidaknya ada tiga ruas jalan yang rawan ambles, yakni Jalan Raya Manyaran-Gunungpati tepatnya di Desa Koasen Kelurahan Sadeng, Jalan Raya HR Hadiyanto, Sampangan (ruas jalan ke arah Kampus Sekaran Unnes), dan Jalan Pawiyatan Luhur atau tepatnya di depan kampus Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang.

Khusus untuk ruas Jalan Manyaran – Gunungpati, kondisinya sempat mengenaskan, karena struktur tanahya rawan gerak. Bahkan, jalan tersebut sempat longsor hingga memakan separuh badan jalan. Namun saat ini, kondisi jalan telah berubah 180 derajat setelah dilakukan perbaikan dan pemasangan tiang pancang. ”Kebetulan sudah diperbaiki dan selesai sekitar 3 bulan terakhir. Dulu jalannya rawan banget longsor. Bahkan di tengah jalan ada retakan tanah,” kata Sugiyo, 56, pemilik warung jamu warga Koasen, Kelurahan Sadeng.

Sebelum longsor, lanjut dia, kondisi jalan tersebut tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah. Jika retakan terjadi, selalu dilakukan penambalan pada retakan yang bersifat sementara. ”Dulu hanya ditambal-tambal saja. Setelah longsor dan parah, baru diperbaiki total,” bebernya.

Ia mengungkapkan, perbaikan jalan tersebut menggunakan beberapa metode, selain memasang tiang pancang, perbaikan jalan juga mengepras jalan tanjakan agar lebih landai sehingga retakan tidak terjadi lagi. ”Kebetulan bareng sama betonisasi, pekerjaanya lumayan cepat. Warga pun tak lagi waswas saat melintasi jalan ini,” ucapnya.

Sementara itu, pengamatan Jawa Pos Radar Semarang di tanjakan Trangkil atau Jalan Raya HR Hadiyanto, Sampangan, kondisi jalan tampak bergelombang dan mengalami retakan. Menurut informasi, keadaan tanah di daerah tersebut juga rawan gerak sehingga membuat kondisi jalan berbahaya bagi pengguna jalan khususnya sepeda motor. ”Kondisi jalannya bergelombang, kalau rusak hanya ditambal saja. Kemudian kembali rusak lagi, apalagi saat hujan, begitu seterusnya,” keluh Nurhadi, 35, warga sekitar.

Kondisi jalan bergelombang, lanjut dia, sudah berlangsung cukup lama, belum lagi diperparah kondisi jalan yang minim penerangan sehingga membahayakan pengendara yang melintas. ”Idealnya dibeton, kayak Jalan Sekaran. Soalnya jalan di sini tanahnya labil,” tambahnya.

Kendati demikan, kondisi Jalan Raya HR Hadiyanto, tidak separah dengan Jalan Pawiyatan Luhur atau tepatnya di depan Kampus Untag Semarang yang ambles sekitar 20 sentimeter sejak 2 minggu terakhir. Kendaraan yang melintas di jalan tersebut harus antre dan harus melaju pelan, supaya tidak terjadi kecelakaan. Bahkan, warga secara swadaya mengatur arus lalu lintas dan memberikan peringatan kepada pengendara. ”Amblasnya sejak 2 minggu lalu. Kian parah karena diguyur hujan. Apalagi jalan di sini konstruksi tanahnya berupa patahan, kalau kena air pasti gerak,” kata Nur Ariyanto, 18, warga Selorejo Raya yang kebetulan masih mengatur arus lalu lintas.

Karena tidak ada perhatian dari dinas terkait dan kerap menimbulkan kecelakaan, warga menambal patahan dengan paving block yang hanya bertahan sementara. Penanganan darurat itu pun dilakukan agar tidak lagi terjadi kecelakaan pengendara motor yang melintas. ”Belum lama ini memakan korban, ada yang jatuh dan terperosok ke kebun sisi kiri jalan. Bukan hanya satu orang, tapi banyak banget. Kalau mobil khususnya sedan, pasti nyantol (tersangkut, Red). Jadi harus dijaga agar tidak macet dan tidak memakan korban,” tambahnya.

Ngafuf Nasirudin, 19, warga lainnya mengaku resah dengan keadaan jalan yang sangat membahayakan tersebut. Penanganan dari dinas terkait pun dinilai lambat karena hanya melakukan tambal sulam jalan yang ambles. ”Perlu ada kajian bagaimana agar tidak ambles. Beberapa tahun lalu sempat dibeton, tapi tetap saja ambles,” tuturnya.

Pada ruas jalan tersebut selain ambles, juga ada jalan yang rawan karena tepat di atas tanah bergerak. Hanya sejauh 50 meter dari titik jalan yang ambles. Pergerakan tanah yang terjadi, membuat jalan menjadi miring hampir 35 derajat. ”Kalau yang bawah, jalannya miring tapi masih bisa dilewati kendaraan. Namun tetap membahayakan,” keluhnya.

Warga sekitar sendiri berharap agar ada penanganan yang serius untuk mengatasi kerusakan jalan. Tujuannya agar lalu lintas kendaraan bisa lancar dan meminimalisasi kecelakaan. Pasalnya jalan tersebut merupakan satu-satunya akses warga untuk berpergian. ”Paling banyak yang jatuh bukan orang sekitar, soalnya tidak hafal jalan. Kami berharap cepat diperbaiki agar tidak ada korban lagi dan jalan menjadi aman jika dilewati warga ataupun kendaraan,” harapnya.

Sementara itu, di Jalan Untung Suropati di Kelurahan Bambankerep juga mengalami ambles. Jalan yang sebelumnya dua jalur, kini jadi satu jalur. Akibatnya, kerap macet terutama ketika jam berangkat sekolah dan pulang kantor. ”Kalau masih dua jalur tidak masalah. Tetapi karena masih dalam perbaikan, maka digunakan satu jalur sehingga berjalan bergantian,” ungkap salah satu warga Kedungpane Prayitno.

Prayitno mengaku amblesnya jalan tersebut karena tanah di wilayah tersebut labil sehingga ketika musim hujan terjadi goncangan, membuat jalan ambles. ”Karena sering ada lalu lalang truk sampah, membuat beban jalan bertambah besar,” katanya.

Kerusakan jalan itu memiliki lebar 3 meter dengan panjang 15 meter sehingga sudah memakan separo jalan, sedangkan separonya digunakan untuk kendaraan baik roda dua atau roda empat maka warga yang melewati jalan itu harus ektra hati-hati. (den/hid/ida/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here