31 C
Semarang
Selasa, 18 Mei 2021

Dinamakan Bakso Petruk karena Penjualnya Tinggi dan Kurus

Nama warung bakso Bu Petruk di Jalan Indraprasta Semarang cukup legendaris. Ciri khas bakso Bu Petruk adalah salah satu butir bakso yang disajikan berukuran jumbo. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

BAKSO Bu Petruk dulunya bernama Bakso Pak Petruk. Warung bercat kuning ini sudah berdiri sejak 1984 atau sudah 33 tahun. Saat koran ini datang ke warung ini, seoarang wanita paro baya menyambutnya dengan ramah.

Monggo, Mas, pesan apa? (Silakan Mas, mau pesan apa?)” sapa wanita yang belakangan diketahui bernama Yatini, pemilik warung tersebut.

Ibu tiga anak dan dua cucu ini tampak sigap menyiapkan beberapa mangkuk bakso yang dipesan sebelumnya. Dua orang putranya, yakni Dwi Yulianto dan Bambang Tugiono, juga sibuk menyiapkan pesanan lain dari pelanggan yang datang.

Ya, walaupun memiliki dua karyawan serta dibantu kedua putranya, Yatini tetap meracik sendiri bakso kepada pelanggannya. ”Kalau saya capek ya cuma ngawasin anak-anak saya, biar nanti ada penerusnya,” kata wanita berusia 54 tahun ini.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Yatini mengaku berjualan bakso sejak 1984 silam. Ketika itu, ia dan almarhum suaminya, Tukiman, berjualan bakso karena terimpit kebutuhan ekonomi. ”Dulu karena belum punya kerjaan tetap, setelah menikah, suami saya kepikiran jualan bakso yang kelihatannya gampang,” tuturnya.

Yatini mengenang, ketika itu ia membeli daging sapi di pasar, kemudian dihaluskan secara manual. Ia dan suaminya belajar membuat bakso secara otodidak. Beberapa kali, Yatini dan Tukiman sempat melakukan uji coba membuat bakso. Beberapa kali pula ia mengalami kegagalan karena bakso kurang bumbu maupun kelebihan bumbu.

Nah, setelah beberapa kali mengalami trial and error, Tukiman memberanikan diri berjualan bakso keliling di daerah Plombokan dan sekitarnya.  ”Setelah berjuang dan sempat gagal, Alhamdulillah berhasil. Saat itu, suami saya nekat jualan keliling kampung tahun 1984,” kenangnya.

Dengan gerobak dorong sederhana, kala itu Tukiman hanya menggiling daging sapi sebanyak 2 kg, dan selalu habis diburu warga sekitar. Karena terlalu letih, akhirnya kedua pasangan ini menetap di daerah Indraprasta dengan membuka warung sederhana pada 1985. ”Dulu bapak capek kelilingan, soalnya dari pagi sampai malam. Sampai akhirnya jualan menetap di Jalan Indraprasta,” katanya.

Disinggung terkait nama usahanya, yakni Bakso Pak Petruk, Yatini lantas tersenyum. Ia pun dengan malu-malu menjelaskan dari mana nama tersebut berasal. Menurutnya, almarhum suaminya memiliki badan yang kurus dan tinggi. Karena pelanggannya tidak mengenal namanya, Tukiman pun kerap dipanggil dengan nama Pak Petruk hingga akhir hayatnya.

”Bapak kan orangnya tinggi, kemudian dipanggil Pak Petruk. Sampai akhirnya nama usaha kami diberi nama Pak Petruk. Karena bapak meninggal tahun 2005 lalu, sekarang namanya ganti Bu Petruk,” cetusnya.

Seiring berkembangnya usaha dan banyaknya pelanggan, Yatini mengaku pernah dalam sehari menghabiskan daging sapi hingga 1,5 kuintal. Sayangnya, masa kejayaan itu kini sudah memudar lantaran harga daging sapi yang semakin meroket. Belum lagi ditambah persaingan antar pedagang bakso yang kini semakin banyak serta lebih modern.

”Dulu yang jualan bakso masih sedikit, hanya beberapa. Sekarang kan tambah banyak. Belum lagi harga-harga bahan pembuat bakso yang naik tinggi, masyarakat pasti berpikir daripada beli bakso mending buat beli kebutuhan pokok. Saat ini, setiap hari paling hanya habis daging sapi 15-20 kg,” katanya.

Meski begitu, ia bersyukur usahanya tidak gulung tikar seperti usaha bakso lainnya. Yatini berharap agar pemerintah bisa menjaga harga-harga bahan pokok agar pengusaha kecil seperti dirinya tetap bertahan. Saat ini, satu porsi bakso Bu Petruk dijual seharga Rp 15 ribu.

”Kalau harga naik, omzetnya pasti turun. Belum lagi biaya produksi seperti bayar listrik, gaji karyawan dan lainnya,” bebernya.

Selama 33 tahun berjualan, Yatini mengaku selalu menjaga kualitas bakso yang dijual dengan menggunakan bahan-bahan unggulan, seperti daging sapi segar. Dengan bahan yang segar, dan olahan tepung yang pas akan membuat bakso lebih kenyal, namun tetap berserat. ”Nggak ada bumbu rahasia, sama kok kayak bakso lainnya. Menurut saya, memasak itu ya tangan-tanganan, masing-masing orang pasti rasanya beda,” ucapnya.

Agar tidak tergilas zaman, Yatini mengaku melakukan beberapa inovasi. Salah satunya adalah membuat bakso super, bakso berukuran besar yang di dalamnya berisi urat, jantung, dan hati sapi. Selain itu, ia juga menambah menu lainnya, yakni mi ayam.

”Ada dua menu bakso, yakni bakso biasa dan bakso super. Selain itu juga ada menu mi ayam,” katanya.

Saat ini, dirinya berharap agar salah satu dari tiga putranya, yakni Sumarni, Dwi Yulianto dan Bambang Tugiyono bisa meneruskan usaha kulinernya itu. Ia mengaku telah melatih dua putranya agar bisa membuka cabang baru dan bersemangat dalam bekerja untuk mengembangkan usaha yang telah dirintis bersama almarhum suaminya selama 34 tahun tersebut.

”Anak saya yang cowok, kebetulan minat buka cabang. Alhamdulillah Mas ada yang meneruskan. Saat ini mereka terus belajar dan selalu saya dampingi. Kalau sudah tahu resepnya dan sudah tahu caranya, serta ada modal dan tempat yang strategis, keduanya berencana buka cabang Bakso Bu Petruk,” ujarnya. (*/aro/bersambung/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here