33 C
Semarang
Kamis, 16 Juli 2020

Bakso Doa Ibu Jadi Langganan Pemain PSIS

Warung-Warung Bakso Beken di Kota Semarang (1)

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Banyak warung bakso beken di Kota Semarang. Namanya cukup dikenal oleh para pencinta kuliner. Salah satunya Bakso Doa Ibu. Warung ini menjadi langganan para pemain PSIS. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

BAKSO Doa Ibu berada di ruko Jalan Sompok Nomor 57. Warung ini baru awal Februari lalu menempati ruko tersebut. Sebelumnya, Bakso Doa Ibu menempati sebuah rumah di pojokan perempatan Sompok-Lampersari, tepatnya di Jalan Sompok 63 atau sekitar 100 meter dari warung sekarang.

Nama Bakso Doa Ibu sudah sangat dikenal. Tak hanya warga Semarang, pelancong dari luar kota pun banyak yang mengisi perut di sini ketika melintas di Kota Atlas. Jangan heran jika pelataran parkir Bakso Doa Ibu dipenuhi kendaraan dengan pelat bukan H.

Apalagi ketika Lebaran. Warung ini kerap menjadi jujukan bagi mereka yang ingin melahap bakso dan potongan daging khas Bakso Doa Ibu. Saking penginnya, mereka rela antre karena tidak kebagian tempat duduk.

Saking terkenalnya, beberapa sosok yang kerap nongol di layar kaca pun sudah menjadi pelanggan Bakso Doa Ibu. Sebut saja petinju Chris John, penyanyi campursari Nurhana Sri Wiryanti, hingga para pemain bola PSIS, kerap terlihat sedang menikmati bakso di sini.

”Ada beberapa artis yang lain. Kadang kami tidak nglegewo karena sibuk melayani customer. Mau ngajak foto bareng saja tidak sempat,” ucap pengola Bakso Doa Ibu, Sigid Pramono, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Malang melintangnya nama Bakso Doa Ibu agaknya wajar. Sebab, perjuangan merintis warung bakso ini memang diwarnai jatuh bangun yang cukup hebat.

Sigid bercerita, Bakso Doa Ibu dilahirkan oleh dua sosok yang sangat ulet asal Gunung Kidul, DI Jogjakarta. Yakni, Sugimin –ayah Sigid— dan Trisno Suwito. Keduanya adalah kakak dan adik ipar.

Dua orang itu bekerja sama menciptakan racikan semangkuk bakso yang diharapkan mampu memanjakan lidah siapa saja yang melahapnya. Setelah dirasa pas, mereka mulai berkeliling dari kampung ke kampung di bilangan Semarang Selatan. Selama dua tahun, 1982-1983 mereka berkeliling ’babat alas’ mencari pembeli.  ”Saat itu, belum pakai gerobak, tapi pikulan. Jualannya juga sendiri-sendiri,” kenangnya.

Keduanya juga pernah tinggal di rumah Mulyono, warga Pandean Lamper IV RT 7 RW VI Peterongan yang kebetulan menyewakan gerobak bakso. Setelah dirasa cukup mendapat pelanggan, pada 1983, keduanya mulai mangkal di Jalan Sompok Nomor 65. Meski sudah mendapat tempat yang strategis, salah satu dari mereka masih jualan berkeliling. Sistemnya gantian. Kalau Sugimin jaga warung, berarti Trisno Suwito yang berliling. Begitu sebaliknya.

Baru mangkal dua tahun, mereka terpaksa angkat kaki lantaran ada penertiban dari Pemerintah Kota Semarang. ”Mereka ditawari pemilik rumah di Jalan Sompok Nomor 63 untuk jualan di teras. Uang sewanya saat itu kalau tidak salah Rp 1.000 per hari. Akhirnya, sejak 1985, Bakso Doa Ibu mendirikan warung di sana,” papar Sigid.

Semenjak itu, dua saudara ipar tersebut fokus menggarap warung. Tidak ada yang keliling lagi. Tapi karena hasilnya tidak cukup dibagi dua, mereka sepakat untuk kembali bergantian jaga setiap bulan. Sampai sekarang, manajemen Bakso Doa Ibu masih menggunakan sistem itu. Ketika Trisno Suwito dapat jatah jaga warung, Sugimin pulang kampung ke Gunung Kidul. Bulan depannya, gantian.

Meski gonta-ganti bos setiap bulan, Sigid memastikan resep yang digunakan tetap sama. Sebab, ketika berurusan dengan rasa, mereka tidak berani main-main. Saat ini, pengolahan bumbu juga sudah diserahkan orang yang mereka percaya agar ketika ganti ’bos’, rasa Bakso Doa Ibu tetap sama.

Sigid mengaku, tidak khawatir jika resepnya dipegang orang lain. Toh, menurutnya, tidak ada bumbu rahasia yang harus disembunyikan. Bahkan semua karyawan yang berjumlah delapan orang, tahu proses pembuatan Bakso Doa Ibu dari nol hingga disuguhkan ke meja pembeli. Meski begitu, dia tidak takut jika ada karyawan yang keluar, kemudian mendirikan warung bakso sendiri untuk menyaingi Doa Ibu.

Baginya, semua orang bisa bikin bakso yang enak. Tapi soal strategi berjualan, tidak semua orang bisa. Apalagi mengatur manajemen keuangannya. ”Kalau keluar masuk uang tidak imbang, apa bisa bertahan?” kata pria yang juga pemilik Bakso Restu Ibu di Jalan Tanjungsari Nomor 4, Ngaliyan ini.

Kunci dagang itulah yang selalu dipegang manajemen Bakso Doa Ibu. Ini juga menjadi alasan pengelola tidak latah dengan perkembangan pasar yang melahirkan inovasi isian bakso. Seperti bakso mercon, bakso isi keju, dan inovasi lain yang membuat penikmat bakso penasaran.

”Sudah, biar seperti ini saja. Simpel. Wong orang ke sini itu mau makan bakso yang ini. Bukan yang macam-macam,” tegasnya.

Sigid juga membeberkan, Bakso Doa Ibu berencana membuka cabang. Hanya saja, saat ini masih mencari waktu dan tempat yang pas. ”Yang jelas masih di Semarang. Belum ada keinginan untuk buka cabang di luar kota,” imbuhnya.

Meski akan buka cabang, warung Bakso Doa Ibu yang asli ini akan tetap dikelola dua orang. ”Mungkin karena mereka sudah merintis bareng. Dari produksi bakso yang hanya 1-2 kg sampai sekarang yang sudah 40 kg daging sapi per hari. Kulino susah senang bareng. Jadi, tetap akan dikelola berdua. Kalau yang cabang, biar kelola pihak yang buka cabang,” tegasnya. (*/aro/bersambung/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Perjuangan Orang Tua Mencari SD untuk Anaknya

Wajah-wajah resah dan penuh harap terlihat di semua SD negeri di Surabaya dalam beberapa hari terakhir. Mereka adalah para orang tua yang berjuang mendaftarkan...

Uji Sertifikasi Kompetensi LSP P1 SMK 

RADARSEMARANG.COM - SESUAI surat keputusan Direktur Pembinaan SMK bahwa SMK yang telah memiliki LSP-P1 agar melaksanakan Uji Sertifikasi Kompetensi bagi siswa kelas XII, sesuai...

Addies Adelia Ajari Memasak Kue Lebaran

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 60 orang peserta mengikuti  kegiatan  Cooking Class bersama Garnita Jateng dengan tema "Resep Millenial Kue Lebaran" di kantor DPW Partai...

Asyik Belajar Seni Budaya dengan “Permen Karet”

RADARSEMARANG.COM - PEMBELAJARAN yang menyenangkan merupakan impian bagi peserta didik. Guru yang menyenangkan menjadi idola. Namun apa yang terjadi jika kelas tidak lagI sesuai...

Pemohon E-KTP Membludak 

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Paska cuti bersama lebaran, layanan KTP Elektronik (E-KTP) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kendal membludak. Warga harus mengantre hingga...

Liga FOPSSI Jateng U-11 Segera Digelar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Liga Forum Pembina Sekolah Sepak Bola Indonesia (FOPSSI) Jateng U-11 mulai digelar 13 Mei-1 Juli 2018. Diharapakan melalui usia dini tersebut, akan...