31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Lawan Informasi Hoax dengan Literasi, Independensi dan Justice

WAHIB PRIBADI, MALUKU

Gencarnya informasi yang bernada fitnah atau hoax mendapat sorotan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Untuk mengatasi membanjirnya hoax ini diperlukan langkah antisipatif, seperti mensosialisasikan budaya literasi kepada masyarakat.

Selain itu, media arus utama (mainstream) harus lebih mengedepankan nilai nilai inklusifitas atau menghargai keberagaman (suku bangsa, agama, dan lainnya), serta lebih adil (justice).

Selain itu, tetap menjaga independensi dan cover both side. Demikian disampaikan Menkominfo Rudiantara disela mengisi seminar persiapan perhelatan world press freedom day di gedung Siwalima, Karangpanjang, Kota Ambon, Maluku, kemarin.

Menurutnya, informasi hoax yang cenderung memecahbelah masyarakat merupakan isu atau gejala global. Karena itu, hoax harus diatasi bersama sama.

“Informasi hoax yang belum terverifikasi kebenarannya seperti ini tentu sangat mempengaruhi dan merugikan industri pers ditanah air, utamanya media mainstream. Sebab, sesuatu informasi yang belumtentu kebenarannya sudah diviralkan di media sosial,” katanya.

Menurutnya, meski pemerintah diberi kewenangan untuk membuat regulasi pembatasan akses informasi, namun hal itu tidak menyelesaikan masalah.

“Nah pemerintah berupaya bagaimana informasi hoax hilang dan semua menjadi sehat. Diantaranya lewat sosialisasi literasi ke masyarakat atau komunitas termasuk dengan insan pers, seperti PWI, IJTI, AJI, dan lainnya. Dan, penerapan code of conduct untuk media juga bagus untuk melawan hoax,”jelasnya.

Pemerintah juga mensosialisasikan anti hoax melalui kegiatan kemasyarakatan yang bersifat inklusif. “Jadi, momentum hari pers nasional (HPN) ini untuk refleksi diri bagi insan pers,”kata Rudiantara. Tokoh Dewan Pers, Bagir Manan mengatakan, media sosial tidak mungkin dihindari karena itu bagian dari perkembangan tekhnologi informasi.

“Nah bagaimana medsos ini agar bisa bermanfaat, maka membangun kepercayaan (trust) ini sangat penting. Hoax yang bernada mengolok olok dan memfitnah itu sangat berbahaya bagi demokrasi. Sebab sangat subjektif dan rawan meninbulkan konflik,” katanya.

Menurutnya, media agar terhindar dari hoax juga harus tetap independen. Dengan sikap itu memungkinkan orang punya pilihan untuk menjaga kebebasannya atau kemerdekaannya yang bertanggungjawab. “Independen itu tidak bohong dan disorder. Pers yang sehat membuat masyarakat sehat,”ujarnya. (*/ap)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here