31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Sekolah Sewa Genset, Khawatir Server Ngadat

Ujian Nasional (Unas) dari tingkat SD hingga SMA dan sederajat tahun ini akan digelar berbasis komputer. Padahal tahun sebelumnya, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) ini hanya digelar di sekolah-sekolah tertentu yang dinilai siap sarana dan prasarananya, khususnya dalam penyediaan komputer dan server. Seperti apa?

BAGI pengelola SMA dan SMK Negeri di Jateng, tahun ini dinilai sebagai masa yang sulit. Sebab, sejak 1 Januari lalu, kewenengan pengelolaan SMA dan SMK Negeri dialihkan dari pemerintah kabupaten/kota kepada Pemerintah Provinsi Jateng yang berimbas pada molornya gaji guru PNS, serta honor para guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT). Selain itu, masih ditambah kewajiban menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dengan syarat sekolah minimal punya 20 unit komputer dan 1 unit server.

Meski hampir semua SMA dan SMK di Jateng sudah siap menggelar UNBK, namun kekhawatiran akan terjadi pemadaman listrik saat ujian berlangsung masih menghantui sejumlah sekolah. Apalagi rata-rata sekolah tak memiliki fasilitas genset. Selain itu, sekolah juga terkendala kapasitas server yang masih terbatas. Sehingga dikhawatirkan mengalami trobel (hank) saat pelaksanaan UNBK.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Kendal, Yudi Wibowo, mengatakan, semua SMA dan SMK di Kabupaten Kendal telah siap melaksanakan UNBK. Total SMK dan SMA di Kendal yang akan menggelar UNBK tahun ini sebanyak 80 sekolah. Rinciannya, 32 SMA dan 48 SMK. ”Untuk kesiapan siswa dan perangkat sudah 100 persen,” kata Yudi Wibowo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakuinya, sejumlah sekolah masih khawatir terkendala server ngadat dan pemadaman listrik dalam pelaksanaan UNBK pada 10-13 April mendatang. ”Persiapan UNBK ini memang serba mendadak, sementara semua sekolah wajib ikut UNBK. Karena tidak semua sekolah memiliki mesin genset. Terpaksa banyak sekolah yang harus membeli maupun sewa genset ke pihak swasta,” jelas Kepala SMK Negeri 7 Kendal ini.

Pihaknya berencana menyurati PLN di Kendal agar tidak melakukan pemadaman ketika pelaksanaan UNBK mendatang.

Ditambahkan, tahun lalu UNBK hanya dilaksanakan di tujuh SMK dan delapan SMA. Praktis, pada tahun ini, banyak SMK dan SMA di Kendal yang baru kali pertama menggelar UNBK. Sehingga belum banyak pengalaman. ”Tapi sejauh ini, dari 48 sekolah belum ada kendala sama sekali. Meski begitu nantinya akan diberikan try out kepada siswa dan pengawas. Sehingga siswa tidak kesulitan dalam mengerjakan UNBK,” katanya.

Hal senada dikatakan Ketua MKKS SMA Kabupaten Kendal, Sunarto. Ia mengakui, memang kendala listrik masih menjadi momok bagi sejumlah sekolah, mengingat minimnya ketersediaan genset. ”Sebagian sekolah ada yang beli sendiri, sebagian lainnya ada yang sewa dari pihak swasta. Tapi, kebanyakan sekolah belum memiliki genset sendiri,” kata Kepala SMA Negeri 1 Kendal ini.

Seperti pengalaman tahun lalu, lanjut dia, dari 8 SMA yang mengikuti UNBK, ada dua sekolah mengalami kendala lantaran listrik mati. Yakni, SMA Negeri Boja dan SMA Negeri Weleri. ”Antisipasinya, sekolah memang harus punya genset sendiri agar tidak jadi kendala kalau listrik PLN padam  nantinya,” ujarnya.

Salah satu panitia UNBK SMK NU 04 Patebon Kendal, Solikun, mengakui jika sekolah sudah mulai menyiapkan sarana dan prasarana pendukung UNBK. Seperti membeli unit komputer, menaikkan daya listrik, dan memasang jaringan internet. ”Kami juga sudah membeli genset seharga Rp 11 juta untuk antisipasi pemadaman listrik saat UNBK,” katanya.

Kepala SMA Negeri 8 Semarang, Sugiyo, mengaku sekolahnya sudah melakukan simulasi pelaksanaan UNBK sejak Desember 2016 lalu. ”Ini adalah tahun kedua kami menyelenggarakan UNBK. Kebetulan persiapannya sudah matang, karena sudah ada simulasi sejak Desember lalu,” ucap Sugiyo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pihak sekolah sendiri menyambut baik digelarnya UNBK. Apalagi syarat penyelenggaraan UNBK minimal punya 20 komputer dan 1 server dinilai tak terlalu memberatkan. Tidak seperti tahun sebelumnya yang syaratnya cukup berat, yakni harus memiliki komputer minimal 1/3 dari jumlah peserta unas. ”Dengan UNBK ini peserta ujian akan lebih mandiri, lebih jujur dan efektif. Selain itu, ongkos produksi kertas untuk ujian tertulis juga bisa ditekan,” katanya.

Ia memastikan, tidak ada kendala pada pelaksanaan UNBK April mendatang. Sebab, saat ini SMAN 8 punya 110 unit komputer, 5 server, teknisi dan proktor. Selain itu, SMA yang terletak di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan ini juga telah memiliki genset jika ada pemadaman listrik. ”Jumlah total peserta 340 siswa, rencananya akan dibagi dalam tiga shift,” ujarnya.

Kesiapan pelaksanaan UNBK juga telah dilakukan di SMA dan SMK Bina Nusantara (Binus) Semarang, yang berada di Mangkang. Sekolah ini memiliki 80 unit komputer dan 3 server yang siap digunakan untuk penyelenggaraan UNBK. ”Di sekolah kami ada SMA dan SMK, karena jadwal ujinnya berbeda. Jadi tidak dilakukan sistem shift,” kata Kepala Sekolah Bina Nusantara, Ratih Yuni Arman.

Di SMK NU Ungaran, ratusan komputer untuk pelaksanaan UNBK sudah disiapkan pihak sekolah. ”Kami sangat siap. Kebetulan sekolah kami memang sudah berbasis IT,” kata Kepala SMK NU Ungaran, Ahmad Hanik.

Dikatakan Hanik, SMK NU Ungaran sudah melakukan UNBK sejak regulasi tentang teknis ujian nasional tersebut digulirkan. Meski begitu, bukan berarti pihaknya tidak mengalami kendala dalam proses penyiapan UNBK. Pengadaan server untuk jaringan komputer, dikatakan Hanik, menjadi kendala yang dialami sekolah. Sebab, harganya relatif mahal. ”Satu server saja Rp 16 juta. Padahal satu server itu hanya melayani beberapa klien saja,” ujarnya.

Sehingga apabila pihak sekolah ingin menggelar UNBK, setidaknya membutuhkan lebih dari 3 server dan 1 server sebagai cadangan dalam pelaksanaan ujian. ”Kita memiliki ‎100 komputer lebih, di mana akan digunakan UNBK bagi 264 siswa,” tuturnya.

Teknis pelaksanaan UNBK sendiri dilakukan dengan 3 shift. Masing-masing shift terdiri atas 100 lebih siswa.

Menurut Hanik, UNBK lebih praktis dan efisien. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas dan kejujuran siswa dalam pelaksanaan ujian dinilai sangat tepat. Kesiapan lain yang sudah dilakukan SMK NU Ungaran adalah penyediaan genset. ”Selain itu kita juga sudah menghubungi pihak PLN,” ujarnya.

Terkait dengan adanya sistem pinjam alat oleh sekolah lain untuk pelaksanaan UNBK, menurut Hanik, hal tersebut sangat membantu. Pihak sekolah yang ingin melaksanakan UNBK dapat menginduk sekolah lain yang lokasinya tidak jauh untuk mengikuti UNBK. ”Kita sangat tidak keberatan apabila ada sekolah lain yang ingin menggunakan infrastruktur komputer kita untuk melaksanakan UNBK,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih, mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu laporan berapa jumlah SMA yang melaksanakan UNBK. ”Meski sekarang SMK dan SMA menjadi ranah Pemprov Jateng, bukan berarti kita diam. Pihak kita ingin mendata berapa jumlahnya? Sekarang baru 40 SMA yang akan melakukan UNBK,” tuturnya.

Sementara itu, sejumlah SMA/SMK di pinggiran Kabupaten Demak menyatakan siap untuk melaksanakan UNBK yang dilengkapi perangkat lunak (software). Kesiapan ini antara lain disampaikan SMK Ky Ageng Giri, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen.

Kepala SMK setempat, Munhamir SE mengungkapkan, untuk menghadapi UNBK ini, pihak sekolah telah menyiapkan perangkat komputer. Kebetulan, kata dia, SMK Ky Ageng Giri memiliki jurusan multimedia. Karena itu, server komputer yang digunakan telah biasa digunakan para siswa untuk berlatih.

Menurutnya, SMK yang dipimpinnya mempunyai 50 set komputer utama. Selain itu, ada 4 komputer cadangan,  dan 4 server. Yakni, 2 server utama serta 2 server cadangan. Jaringan internet sudah memadai sesuai kebutuhan dan untuk antisipasi daya internet sudah diberikan cadangan. ”Yang pasti, hingga sekarang tidak ada kendala yang berarti dalam melaksanakan UNBK,” katanya.

Untuk mengantisipasi listrik padam saat pelaksanaan UNBK, lanjut dia, pihak sekolah telah menyiapkan mesin genset dengan daya 10 ribu watt. ”Jadi, semua sudah kami siapkan sejak dini. Begitu ada pengumuman dengan sistem UNBK, kami telah bersiap-siap melaksanakannya dan meminimalisasi gangguan yang kemungkinan muncul, termasuk listrik padam,” ujarnya.

Munhamir menambahkan, dalam UNBK tahun ini akan diikuti 143 siswa SMK Ky Ageng Giri. Sedangkan jumlah SMK di Kabupaten Demak yang melaksanakan unas sebanyak 57 SMK negeri dan swasta. Yakni, 4 SMKN dan 53 SMK swasta. Adapun, jumlah peserta ujian UNBK SMK se-Kabupaten Demak tercatat 3.953 peserta. Diakui, tak semua SMK menjalankan UNBK sendiri. Namun ada yang ikut sekolah lain. ”Karena dalam aturan yang ada, bagi sekolah yang belum terakreditasi, maka dalam melaksanakan ujian nasional harus menginduk dengan sekolah lainnya,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Demak, Anjar Gunadi, mengatakan, SMA dan SMK sekarang bukan kewenangan kabupaten lagi. Karena itu, terkait ujian nasional dengan sistem UNBK telah menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng. Ini setelah sekolah menengah atas tersebut pengelolaannya dialihkan dari kabupaten ke provinsi. ”Jadi, kita tidak berwenang untuk memberikan pendapat soal UNBK SMA dan SMK ini. Sebab, sekarang sudah menjadi kewenangan provinsi,” kilahnya. (den/ewb/bud/hib/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here