33 C
Semarang
Senin, 3 Agustus 2020

Sampai Luar Kota, Rela Dibayar Seikhlasnya

Gunarto, Pelatih Olahraga Barongsai Siswa Sekolah

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

Gunarto adalah pelatih barongsai di sejumlah sekolah di Kota Semarang. Dalam melatih seni sekaligus olahraga barongsai ini, dia tidak pasang tarif.

HARIYANTO

GUNARTO menjadi pelatih kesenian barongsai sejak 1990. Dia melatih barongsai di SMP Karangturi, Sekolah Mataram, dan SD Marsudirini BSB, dan sejumlah sekolah lainnya.

”Kalau dulu di Sekolah Mataram ada sekitar 60-an anak. Terus di Gang Lombok, Marsudirini BSB, dan Perkumpulan Hoo Hap Semarang ada sekitar 50 anak,” ungkap pria 52 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak banyak permintaan selama melatih barongsai di berbagai tempat. Gunarto mengaku, menjadi pelatih barongsai atas panggilan jiwa. Bahkan, ia rela menghabiskan waktunya untuk menularkan cara bermain barongsai kepada siapa pun.

”Soal honor, saya tidak menuntut banyak. Karena saya sendiri juga dilahirkan di klub yang dulunya juga bermain barongsai. Jadi, hanya sukarela. Istilahnya menularkan kemampuan saja,” ujarnya.

Gunarto mengaku bisa memainkan barongsai ketika menekuni ilmu bela diri di sebuah perkumpulan di Gang Tengah Pecinan. Saat itu, ia masih berusia 10 tahun. Diajari ilmu beladiri kung fu oleh seseorang warga keturunan Tionghoa.

”Awalnya latihan di Perkumpulan Beladiri Hoo Hap. Di situ saya belajar kungfu, guru saya nama panggilannya Kong Acong, sekarang sudah meninggal. Beliau asli Gang Tengah. Karena di perkumpulan itu ada juga barongsainya, terus saya diminta ambil bagian untuk memainkan,” kenangnya.

Diakuinya, memainkan barongsai tidaklah mudah. Awalnya, ia juga merasa kesulitan meski telah memiliki bekal dasar ilmu bela diri. ”Kalau tidak memiliki basic kungfu semakin susah lagi. Karena harus memadukan langkah,” katanya.

Permainan barongsai sekarang, lanjut Gunarto, cenderung lebih ke olahraga. Selain itu, model barongsai sekarang lebih mengacu pada gaya Malaysia dan Singapura. ”Orang sekarang bilang barongsai bebek, mulutnya lebih bulat. Kalau dulu istilahnya jalan saja berbeda. Depan belakang itu kan seperti orang berjalan kaki kiri tangan kanan. Kaki kiri tangan kanan. Kalau sekarang ini berbeda. Kaki kanan-kanan semua, kaki kiri-kiri semua,” jelasnya.

Gunarto sendiri tidak hanya melatih anak-anak maupun orang dewasa di Kota Semarang. Tapi sampai luar kota. ”Di Salatiga juga melatih, Juwana Pati juga. Ya, nglaju naik motor. Di Manado juga pernah ditawari, tapi saya pikir itu terlalu jauh, akhirnya saya lepaskan,” terangnya.

Menurutnya, melatih barongsai harus memiliki kesabaran tinggi. Ia biasa melatih anak TK tidak lama, hanya sekitar 30 menit setiap kali pertemuan. Namun hal itu dilakukan secara kontinu. Sedangkan melatih orang dewasa bisa sepuasnya. ”Kalau orang dewasa dilatih 1 jam itu pasti kurang. Kalau anak TK, melatih kebiasaan saja supaya motorik gerakannya berkembang. Kalau sudah punya minat ya diajari terus, karena kalau hanya sekali dua kali kan mereka tidak hafal. Paling gak 10 kali latihan baru bisa hafal,” terang warga Pondok Majapahit, Mranggen, Demak ini. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Layani Kebutuhan Fisioterapi Masyarakat

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Jika BPJS Kesehatan tak lagi menjamin layanan fisioterapi, maka Stikes Widya Husada (WH) Semarang kini membuka klinik pendidikan fisioterapi bagi masyarakat umum. Layanan...

Temanggung Lolos ke Porprov 2018

TEMANGGUNG- GOR Gelora Bumi Kartini Jepara menjadi saksi sejarah tim futsal Temanggung. Datang dengan tekad dan semangat yang kuat, tim futsal Pra-Porprov Temanggung berhasil...

Lawan Informasi Hoax dengan Literasi, Independensi dan Justice

WAHIB PRIBADI, MALUKU Gencarnya informasi yang bernada fitnah atau hoax mendapat sorotan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Untuk mengatasi membanjirnya hoax ini diperlukan langkah...

Talud Perbatasan Jragung-Pringapus Longsor

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Bencana tanah longsor menimpa ujung Jembatan Sunut di perbatasan Dukuh Rajek, Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak dengan wilayah Dukuh Sapen,...

Sarapan Saya: Menu Kuda

Saat ini saya tinggal di desa. Desanya Amerika. Di pelosok sekali. Kalau Anda buka peta Amerika tunjuklah titik tengahnya. Di situlah saya. Di Hays....

Truk Masuk Jurang, Satu Tewas

MUNGKID—Truk bermuatan bir, Jumat (3/2) pagi, pukul 03.45, terjun ke dasar jurang sedalam 20 meter. Kecelakaan tunggal tersebut terjadi di ruas Jalan Magelang -...