31 C
Semarang
Senin, 17 Mei 2021

Gus Dur Tak Pernah Membenci Orang

Mantan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah wafat. Namun pemikirannya di berbagai bidang terus hidup untuk menginspirasi generasi muda di seluruh penjuru negeri. Saat Indonesia dalam ancaman perpecahan seperti sekarang ini, sosok ”Bapak Pluralisme” ini begitu dirindukan.

ABDUL MUGHIS

HAL tersebut terungkap dalam kegiatan ”Kelas Pemikiran Gus Dur” yang dihelat Komunitas Gusdurian Semarang. Dalam kegiatan yang sudah kali kedua digelar di Kota Lunpia ini, hadir putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau akrab disapa Alissa Wahid, yang menjadi narasumber paling ditunggu dalam acara yang dihelat di gedung C Kampus I Universitas Wahid Hasyim Semarang, Minggu (5/2).

”Saya ke sini khusus untuk Kelas Pemikiran Gus Dur. Bertemu dengan para Gusdurian muda Semarang untuk pelatihan lokakarya Kelas Pemikiran Gus Dur. Antusiasmenya sangat tinggi,” kata Alissa.

Dikatakannya, selama ini kerja-kerja lapangan banyak dilakukan oleh Gusdurian di berbagai daerah Indonesia, meski Gusdurian bukan organisasi struktural. Tapi lebih bersifat komunitas. Alissa juga menandaskan, bahwa jaringan Komunitas Gusdurian tidak berpolitik praktis. ”Jadi, kita tidak terkungkung oleh terstruktur dan tidak harus pakai nama Gusdurian. Yang paling penting adalah teman-teman menggunakan (pemikiran) ’Gus Dur’ sebagai inspirasi untuk melakukan pendampingan masyarakat,” terangnya.

Dia juga menceritakan keseharian Gus Dur selalu saja memiliki nilai-nilai yang bisa dipetik. Gus Dur tidak pernah menilai seseorang berdasarkan agamanya apa. ”Gus Dur tidak pernah membenci orang, tapi menentang perilaku yang tidak adil. Di keluarga, kami tidak pernah diajarkan menilai orang lain derajatnya lebih rendah dari kami. Gus Dur, kalau ada yang bertamu, istilahnya sowan, siapa pun yang datang dan usianya lebih tua, kami diajarkan untuk cium tangan kepada yang lebih tua,” katanya.

Pernah suatu ketika, lanjut Alissa, saat Gus Dur menjadi presiden yang menggelar open house kali pertama di Indonesia. Jadi, semua orang boleh datang di Istana Merdeka. Pejabat pembantu presiden yang bertanggung jawab dalam acara itu telah menata konsep open house secara rapi dan tertata. Mereka kemudian menjelaskan kepada Gus Dur. ”Pak Presiden, nanti menerima masyarakat dengan berdiri di teras Istana. Masyarakat akan bersalaman berurutan. Gus Dur langsung bertanya ’kenapa di teras? Harusnya di ’kredensial’, kasihan kalau di luar,” kata Alissa menirukan Gus Dur.

Kredensial adalah salah satu ruang utama di Istana yang digunakan untuk menerima para duta besar. Pejabat pembantu presiden menjelaskan kalau ’kredensial’ baru saja diganti karpet baru. Kalau diinjak-injak oleh ribuan orang nanti karpetnya rusak. ”Seketika Gus Dur marah ’biarin aja karpetnya rusak, lha wong itu (karpet) dibeli oleh mereka (rakyat),” kata Alissa mengenang. (*/smu/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here