31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Bangun Komunitas, Ajak Warga Terlibat

UNTUK mewujudkan kota impiannya, ia tidak sendirian. Ia mengajak masyarakat secara luas berperan serta di dalamnya. Caranya, ia membangun komunitas di Semarang sebagai wadah berkumpul dan bertukar pikiran.

There, bersama Koalisi Pejalan Kaki dari Jakarta telah membentuk Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang sekitar Februari 2015 lalu. ”Komunitas ini sebagai platform bagi pejalan kaki, kaum difabel, dan pengguna transportasi umum di Kota Semarang untuk menyuarakan aspirasinya,” ujarnya.

Sekitar Agustus 2016, There juga mengajak teman-temannya membentuk Komunitas Sahabat Trans Semarang. Komunitas ini selalu berdiskusi via grup WhatsApp mengenai persoalan Bus Rapit Transit (BRT) di Kota Semarang. Diskusi ini menghasilkan solusi atau berupa masukan yang disampaikan kepada manajemen Trans Semarang.

Masih banyak kegiatan lain yang dilakukan komunitas ini. Salah satunya, kampanye mengajak warga Semarang agar menggunakan transportasi umum. Seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan mengajak wartawan Jawa Pos Radar Semarang menjajal armada baru BRT Semarang.

”Sebenarnya, kota-kota di Indonesia memiliki persoalan yang sama seperti kemacetan, polusi, dan sangat bergantung pada kendaraan pribadi. Ditambah lagi, kurangnya penghijauan/taman, karena sebagian besar jalan digunakan untuk parkir kendaraan pribadi. Maka grup ini saya dirikan dengan menarik anggota dari luar Kota Semarang agar saling berbagi best practiced di kota masing-masing,” jelasnya.

Bersama dengan teman-teman di komunitasnya, ia berusaha mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan Semarang yang ramah pada setiap orang. Ia tak segan mengingatkan orang yang mengganggu kelangsungan fasilitas umum, baik disengaja atau tidak. Seperti membuang puntung rokok tidak pada tempatnya.

”Sebenarnya, saya selalu mengingatkan dengan mencoba tidak menyinggung perasaan orang lain. Senyum dulu. Atau saya lebih berani sama yang lebih muda dari saya,” ujar wanita ramah ini berkelakar.

Upayanya ini dilakukan dengan senang hati. Itu bagian dari upayanya memperjuangkan haknya ketika ia sudah beranjak tua nanti. “Suatu saat kita akan difabel juga,” tegasnya.

Dirinya berharap, Kota Semarang ramah sama manula juga. “Saya tidak berharap, saat tua nanti, hanya di rumah saja. Makanya mumpung masih muda, secara sederhana saya memperjuangkan hak saya,” ujar perempuan yang saat ini sibuk mengembangkan usaha suaminya PT Primastar Mandiri di bidang pemasangan pelapis lantai yaitu dengan vinyl dan karpet.

Dirinya juga berharap agar pemerintah pusat dapat mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan kendaraan pribadi dan ketegasan dalam perbaikan sistem Surat Izin Mengemudi (SIM) serta menjadikan kendaraan umum sebagai pilihan utama untuk mobilitas sehari-hari. ”Meskipun untuk hal-hal tertentu, aksesnya bisa menggunakan kendaraan pribadi. Tapi dengan konsisten menggunakan kendaraan umum, bisa menumbuhkan rasar lebih peduli pada lingkungan,” jelasnya.

Meski tak mudah, perjuangannya ini, banyak memberikan manfaat baginya. Selain menambah relasi, ia merasa senang karena bisa menyampaikan apa yang tidak bisa disampaikan oleh masyarakat umum. Apalagi, sebagian besar warga, banyak yang sungkan mendesak pemerintah agar melakukan perbaikan fasilitas umum. Karena budaya yang terbangun bukan untuk bicara menuntut hak, tapi lebih ke menerima. ”Saya melihat banyak orang tidak mau menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, karena tidak ingin dikucilkan. Justru saya mencoba mengambil risiko di situ,” ujarnya. (sga/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here