31 C
Semarang
Jumat, 7 Mei 2021

Pendidikan Kepemimpinan

Oleh : Rudi Wahyu Ginanjar

DI lembaga pendidikan mulai jenjang SMP sampai Pendidikan Tinggi (PT) sudah melaksanakan sistem pendidikan tentang materi kepemimpinan. Sistem pendidikan kepemimpinan itu didapatkan setiap peserta didik mulai dari kegiatan intra sampai dengan ekstra sekolah. Pendidikan intra yang memasukkan materi kepemimpinan dapat kita temui dalam kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) saat awal peserta didik masuk sekolah.

Sedangkan di jenjang Pendidikan Tinggi, materi kepemimpinan masuk dalam materi intra juga ketika mahasiswa kali pertama masuk kampus, yakni dalam kegiatan Ospek (orientasi dan pengenalan kampus). Kegiatan ekstrakurikuler yang juga memuat materi kepemimpinan dapat ditemui dalam kegiatan OSIS, Kepramukaan, PMR, Pecinta Alam, dan lainnya. Sedangkan pada kegiatan ekskul dalam mengajarkan materi kepemimpinan sering dikemas dalam bentuk LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan.

LDK sebagai salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstra sekolah terkadang sering disalahgunakan oleh panitia kegiatan untuk melakukan perpeloncoan kepada adik tingkat. Sebab, semua itu sudah merupakan “tradisi” yang tidak baik, dan pada akhir-akhir ini hal itu masih sering terjadi. Hal itu menjadi keprihatinan bagi para pendidik / guru, orang tua peserta didik, serta peserta didik itu sendiri.

Kepemimpinan itu memang perlu kita ajarkan, karena merupakan perwakilan dari peserta didik yang sudah mempunyai pendidikan karakter dalam dirinya. Karena pemimpin harus mempunyai 18 karakter sesuai dengan pendidikan karakter dalam dirinya, yakni religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, serta tanggung jawab. Namun, tidak harus diajarkan dengan hal-hal yang menyalahi aturan dengan bentuk perpeloncoan seperti yang sudah kita singgung di atas.

Bisa dengan cara lain yang membuat peserta didik, pendidik, dan orang tua menjadi nyaman. Misalnya, dengan menyisipkan pendidikan karakter itu pada materi pembelajaran yang sedang kita ajarkan. Sehingga membuat peserta nyaman, penasaran, dan senang. Sebagai contoh, Bahasa Jawa yang mempunyai nilai tradisi yang luhur dan bermakna sangat penting bagi pendidikan karakter peserta didik. Karena, dengan lebih memahami nilai tradisi, maka kita akan semakin cinta dengan tanah air serta semangat kebangsaan atau nasionalisme kita dari yang berbeda-beda ini. Itu sudah mencakup dua hal tentang nilai pendidikan karakter dan sudah menjadi bagian dari sosok pemimpin.

Tradisi Jawa juga terselip sebuah cerita pewayangan yang terdapat dalam salah satu tokoh Arjuna. Arjuna digambarkan sebagai sosok pemimpin yang sempurna. Karena, Arjuna mempunyai sifat pemimpin yang disebut dengan Asthabrata. Asthabrata itu merupakan sikap pemimpin yang terdiri atas 8 hal, yakni Watak Bumi (Hambeging Kisma), Watak Matahari (Hambeging Surya), Watak Bintang (Hambeging Kartika), Watak Rembulan (Hambeging Candra), Watak Air (Hambeging Tirta), Watak Langit (Hambeging Himanda), Watak Angin (Hambeging Maruta), dan Watak Api (Hambeging Agni).

Mempunyai watak bumi yang dimaksud dapat menjadi sandaran bagi semua orang (tanggung jawab). Watak matahari dapat menjadi penyinar dari semua kegelapan bagi orang banyak melalui ilmu (komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial). Watak bintang akan mempunyai harapan yang terus digantungkan tinggi (kerja keras). Watak rembulan dapat membuat sejuk bagi siapa saja yang berada di dekatnya (religius, disiplin dan jujur). Watak air dapat memberi penghidupan bagi semua orang(gemar membaca). Watak langit dapat menjadi pengayom bagi semua makhluk (toleransi). Watak angin mampu menyelesaikan masalah dalam bentuk apapun (kreatif, mandiri). Sedangkan watak api mampu mengolah semua hal menjadi pelajaran bagi kehidupannya (demokratis, rasa ingin tahu dan menghargai prestasi).

Semua itu sudah mencakup sebagai sikap pemimpin yang baik. Serta sudah sebagai bentuk pengajaran tentang materi kepemimpinan yang menguasai sifat pendidikan karakter. Karena itu, seyogyanya kita perlu lebih membentuk karakter pemimpin sejak di bangku kelas di setiap diri pribadi peserta didik.  Tidak malah membentuk dari berbagai macam cara dan berakibat peserta didik menjadi tidak nyaman, takut, trauma dan tidak akan menjadi pemimpin baik dan benar. Sebaliknya, menjadi “kakak tingkat” yang selalu ingin melakukan perpeloncoan pada adik tingkatnya. (*)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here