33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Pemkab Tak Serius Kembangkan Desa Wisata

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

UNGARAN – Pemkab Semarang dinilai tidak serius menggarap potensi desa wisata. Terbukti sejumlah desa wisata kondisinya memprihatinkan. Tidak terurus dengan baik. Seperti Desa Bejalen.

Desa yang terletak di Kecamatan Ambarawa tersebut pengelolaannya masih amburadul. Sehingga potensi yang ada di desa tersebut tidak bisa tergali. Bahkan selama ini tidak ada campur tangan Pemkab Semarang dalam pengelolaan desa wisata. “Sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada 2006 penanganannya masih tidak jelas karena tidak ada suport dari Pemkab Semarang,” ujar Kades Bejalen Nowo Sugiarto, Jumat (3/2).

Dikatakan Nowo, anggaran pembangunan pun hanya diberikan pada tahun pertama pasca penetapan desa wisata. Anggaran sebesar Rp 1 miliar itupun dari pemerintah pusat yang digunakan untuk pembangunan tambak ikan. “Sementara dari pemkab hanya sebatas pembangunan infrastruktur jalan dan pembangunan gapura saja, tanpa membangun SDM (Sumber Daya Manusia),” katanya.

Dijelaskan Nowo, Desa Bejalen memiliki banyak potensi, seperti  wisata air karena berada di tepi Rawa Pening. Namun sayangnya penetapan Desa Bejalen sebagai desa wisata tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik dari Pemkab Semarang. Sehingga desa wisata tersebut tidak bisa berkembang.

Salah satu tujuan pembangunan desa wisata sebagai peningkatan perekonomian masyarakat setempat juga belum bisa terealisasi. Alhasil, warga setempat kembali kepada mata pencaharian awal yaitu sebagai buruh tani dan nelayan musiman. “Setelah dibangun pada 2006, ya sudah. Tidak ada kejelasan bagaimana pengelolaannya,” katanya.

Beberapa hektare tambak ikan yang dulunya dibangun dengan anggaran pemerintah pusat sebagai penarik wisatawan kini juga tidak terurus dengan jelas. “Saat musim hujan ikanya pada kabur entah kemana,” katanya.

Pelatihan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) pun hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dikatakan Nowo, pihak desa pernah menggagas akan memulihkan kembali sektor wisata tambak menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk pembangunan tambak. “Namun sudah ter plot ke hal yang lain yang lebih penting,” ujarnya.

Sementara Dana Desa (DD) setempat saat ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa. Adapun jumlah warga Desa Nowo saat ini sebanyak 1700 an. Hampir 90 persen warga setempat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan nelayan musiman. “Dulunya berharap dari sektor desa wisata, namun karena pengelolaannya yang saat ini tidak jelas, otomatis kembali ke pekerjaan awal yaitu buruh tani dan nelayan musiman,” katanya.

Saat ini, di Kabupaten Semarang ada 35 desa wisata. Semuanya memiliki potensi berbeda yang dapat menarik minat wisatawan. Beberapa waktu lalu, Pemkab Semarang juga meresmikan Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat sebagai salahsatu desa wisata.

Kades Lerep, Sumaryadi mengatakan pengelolaan desa wisata wilayahnya lebih memaksimalkan peran BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Selain itu melibatkan masyarakat setempat secara langsung dalam pengelolaanya. “SDM kita sudah siap,” katanya. Pihaknya juga akan memanfaatkan media sosial untuk memberitahukan kepada masyarakat luas tentang keberadaan Desa Wisata Lerep. (ewb/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...