33 C
Semarang
Sabtu, 30 Mei 2020

Minta Pelaku Dihukum Berat

Kasus Penusukan di Angkringan

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

MAGELANG – Kematian Diki Muhrizal yang tewas akibat ditusuk dengan pisau lipat oleh Dedy Hermawan alias Herman, 36, meninggalkan duka mendalam. Ibunda korban, Ngadimah, 45, meminta pelaku dihukum berat. Bahkan, keluarga korban berjanji akan mengawal kasus tersebut hingga persidangan.

Saat Jawa Pos Radar Kedu menyambangi rumah korban, masih terdapat deretan tumpukan kursi untuk tamu pelayat. Beberapa kerabat dan tetangga datang silih berganti untuk mengucapkan bela sungkawa. Ngadimah masih terlihat lesu. Matanya tampak sembab. Ia kini tidak bisa lagi bertemu dengan putra kelima dari delapan bersaudara itu.

”Masih tidak percaya, anak saya meninggal secepat ini. Apalagi dengan cara dibunuh,” kata Ngadimah saat ditemui kediamannya di Kampung Tegalsari, Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Kamis (2/2).

Menurut Ngadimah, saat di rumah, Diki tergolong anak yang baik. Kendati hanya lulusan sekolah dasar (SD), anaknya sudah mampu mencari nafkah sendiri. Yakni menjaga lahan parkir di sekitar lokasi kejadian. Ia kadang kala juga membantu temannya memproduksi tahu.

”Diki jarang sekali merepotkan orang tua. Kalau minta uang dan saya kebetulan tidak punya, ya sudah. Tapi kalau marah, biasanya dilampiaskan ke tembok rumah, tidak melukai orang lain,” kenang Ngadimah.

Ngadimah berterima kasih kepada aparat kepolisian karena cepat menangkap pelaku penusukan, Herman. Sebab, bila polisi sedikit saja terlambat, dimungkinkan teman-teman anaknya bakal melakukan pembalasan. ”Meski sudah tertangkap, kami berharap polisi tegas dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya,” pinta dia.

Paman korban Suharno mengaku tidak mengatahui persis duduk perkara dalam peristiwa tersebut. Yang ia tahu, Diki datang ke angkringan di Jalan Beringin IV, Kecamatan Magelang untuk membeli nasi bungkus. Namun, setiba di lokasi kejadian, keponakannya terlibat cekcok dengan pelaku. ”Hingga akhirnya Diki ditusuk pelaku. Kata orang-orang di sekitar kejadian, keponakan saya berupaya lari dan sempat dikejar pelaku hingga terjatuh,” jelasnya.

Suharno menuturkan, keluarga belum menunjuk kuasa hukum untuk mengawal kasus tersebut. Hingga kini, ia masih menunggu perkembangan informasi terbaru dari penyidik Polres Magelang Kota. Suharno berharap, polisi dapat menjerat pelaku dengan pasal terberat. ”Kalau penganiayaan saya rasa terlalu ringan karena ancaman hanya tujuh tahun. Saya pribadi berharap polisi menjerat pelaku dengan pasal pembunuhan karena jelas-jelas menghilangkan nyawa seseorang,” ucapnya.

Terpisah, Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo menegaskan, kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Sedikitnya, 5 saksi telah diperiksa untuk melengkapi berkas. Dari hasil pemeriksaan, Hari memastikan, hanya ada satu pelaku tunggal. ”Tersangkanya memang satu. Ini masih menunggu pemeriksaan. Kalau prosesnya selesai, secepatnya kita kirimkan berkas ke kejaksaan untuk segera disidangkan,” tutur Hari.

Hari menerangkan, dalam kasus tersebut, Herman bisa dijerat pasal 338 KUHP ayat 3, tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun juncto pasal 351 KUHP ayat 3 tentang penganiayaan berat hingga menyebabkan meninggal dunia dengan hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Herman ditangkap polisi setelah menusuk Diki hingga tewas. Selain itu ia juga melukai teman Diki, Indra Murza pada bagian punggung. Ketika diperiksa polisi, pelaku mengaku terpaksa menusuk karena dipalak korban.

Kronologi bermula ketika Herman dan Fuad Prasetyo, 23, tengah menikmati secangkir kopi di Angkringan Jalan Beringin, Rabu (1/2) sekitar pukul 01.30 WIB. Di tengah obrolan sembari menyeduh kopi, Diki dan Indra menghampiri pelaku dan meminta paksa uang serta perhiasan. Herman langsung menolak menyerahkan uangnya.

Diki dan Indra lalu memukul Herman hingga gigi Herman tanggal dan mengeluarkan darah segar. Merasa terpojok, Herman mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan dihujamkan ke bagian tubuh dua pengeroyok tersebut. Keduanya lantas tersungkur ke tanah.

”Diki mengalami luka tusuk di bagian perut dan meninggal dunia di RSUD Tidar, Magelang lantaran kehabisan darah. Sementara Indra tertusuk di punggung dan harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter,” terang Kasubag Humas Polres Magelang Kota AKP Esti Wardiani.

Setelah menusuk, Herman buru-buru melarikan diri. Tapi akhirnya ia berhasil ditangkap polisi. Esti menegaskan, meski Herman melakukan serangan balik dengan dalih membela diri, ia tetap digolongkan melanggar hukum. Sebab, perlawanan yangdianggap berlebihan hingga menimbulkan korban jiwa dikategorikan termasuk penganiayaan berat. (cr1/ton)

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Korban Bingung Biaya Pengobatan

RADARSEMARANG.COM - SALAH seorang korban tertimbun longsor, Herman, mengaku trauma. Di RSUD Muntilan, Herman merupakan korban terakhir yang belum pulang ke rumah. Warga Dusun...

Kunjungan Kabid Humas Polda Jateng

RADARSEMARANG.COM - KABID Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triadmaja bersama jajarannya saat berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Semarang Jalan Veteran 55 Semarang....

Warung Makan Dipo Dibobol Pencuri

SALATIGA – Warung makan Dipo yang berada di kompleks asrama Denpom, jalan Diponegoro menjadi sasaran pencuri, Kamis (16/11). Aksi pencurian ini yang kesekian kalinya...

Akibat Jalan Putus, 1535 Warga Terisolasi

KAJEN-Akibat penghubung antara Desa Klesem menuju Dukuh Pringamba terputus dan belum juga diperbaiki sejak seminggu lalu (26/01), sebanyak 1535 warga di Dukuh Priangamba terisolasi....

Pelaku Diduga Dua Orang

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pelaku pembunuhan terhadap driver taksi online Grab Car, Deny Setiawan, warga Margorejo Timur RT 9 RW 5 Kelurahan Kemijen, Semarang Timur,...

Makam Tergusur Tol Segera Direlokasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebuah makam seluas kurang lebih 5.300 meter persegi yang tergusur pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang, tepatnya di dekat terowongan Plampisan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang,...