31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Pengusaha Tak Gubris Rekomendasi Dewan

SEMARANG – Pengusaha kuliner di Jalan Imam Bonjol Nomor 203 tidak menggubris peringatan dan rekomendasi dari Komisi C DPRD Kota Semarang, untuk membongkar cor beton yang menutup saluran sungai sepanjang 60 meter di depan pusat kulinernya. Bahkan pihaknya tetap melanjutkan aktivitas pembangunan. Di sisi sungai yang ditutup cor tersebut, sedianya akan digunakan untuk lahan parkir.

Komisi C DPRD Kota Semarang, kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek, Rabu (1/2). Sebelumnya, Komisi C telah melakukan Sidak pada Senin (19/9) 2016 lalu dan merekomendasikan untuk disegel.

”Pemilik bangunan tidak patuh terhadap aturan Perda. Sebab, menutup saluran air seperti ini merupakan pelanggaran terhadap Perda Kota Semarang. Sadis lagi, fasilitas umum ini ditutup seolah-olah ini hak milik. Kami sangat menyayangkan, investor di Kota Semarang menghalalkan segala cara, ini tidak benar,” kata Ketua Komisi C Kadarlusman, saat melakukan sidak di lokasi, kemarin.

Dikatakannya, ini sudah sidak kali kedua. Tidak hanya itu, proyek bangunan tersebut diduga juga tidak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), maupun Keterangan Rencana Kota (KRK) dan Rencana Tata Letak Bangunan (RTLB). ”Kami akan memanggil pemilik bangunan terkait pelanggaran tersebut. Tentunya juga kami undang dinas terkait untuk mengetahui apakah telah melakukan pengajuan perizinan atau belum,” tegasnya.

Dikatakan Kadarlusman, penutupan sungai menggunakan cor beton tersebut pelanggaran cukup fatal. Sebab, saluran sungai seperti itu jika ditutup maka akan sangat mengganggu normalisasi saluran drainase di Kota Semarang. Terutama saat saluran tersebut ada sumbatan sampah atau sedimentasi. ”Jika saluran tersumbat, maka akan menyebabkan banjir di perkampungan terdekat,” kata politikus PDI Perjuangan ini.

Pemilik bangunan, Hartono, saat disidak tidak berada di lokasi. Komisi C ditemui oleh anak pengusaha tersebut, Andi. Menurut Andi, alasan penutupan saluran sungai tersebut bertujuan mengantisipasi terjadinya kecelakaan. Misalnya anak kecil terjatuh di sungai. ”Selain itu juga menghindari bau tidak enak,” katanya.

Tetapi pihaknya mengaku akan mematuhi aturan dan membongkar penutup saluran sungai tersebut. Terkait dengan IMB, Andi menjelaskan bahwa bangunan tersebut ada dua, yakni nomor 201 dan 203. ”Untuk bangunan utama yang nantinya digunakan pusat kuliner, sudah memiliki IMB. Sementara untuk lahan yang akan digunakan tempat parkir masih dalam proses pengurusan izin. IMB masih diurus, kalau KRK-nya sudah keluar. Bangunan sudah 90 persen,” katanya. (amu/zal/ce1)

Latest news

Related news