14.9 C
Munich
Sabtu, 31 Oktober 2020

Khotbah Jumat Bukan untuk Mencela

Menarik

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

SEMARANG – Usulan tentang standardisasi khatib atau penceramah salat Jumat yang saat ini merebak, ditanggapi positif oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin. Pasalnya di tengah-tengah masyarakat saat ini banyak ditemukan ceramah yang tidak sesuai esensi dan malah menyebar kebencian.

Lukman mengatakan standardisasi khatib saat salat Jumat bukanlah ide baru dari kementerian. Namun datang dari aspirasi sejumlah tokoh dan masyarakat yang ingin pemerintah ikut serta dalam menjamin kualitas ceramah Jumat. ”Ini bukan ide dari Kemenag, tapi merupakan respons dari aspirasi umat Islam sendiri yang masyarakat ingin pemerintah ikut hadir untuk menjaga kualitas khotbah Jumat,” katanya saat peresmian gedung kuliah dan wisuda sarjana ke-70 di Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, kemarin.

Ia menjelaskan jika khotbah Jumat merupakan salah satu rukun dari salat Jumat. Isi khotbah lanjut dia seharusnya menyampaikan rukun Islam, mengajak bertakwa dan lain sebagainya. Namun kadang ditemui beberapa khatib yang isi khotbahnya malah berpotensi menimbulkan kebencian dan disintegrasi. ”Karena merupakan satu kesatuan, jadi harus dijaga kualitasnya terkait syarat ataupun rukunnya. Bukan malah mencaci, mencela atau menyalahkan,” bebernya.

Masukan tersebut, lanjut Lukman datang dari organisasi Islam seperti MUI, Fakultas Dakwah dan organisasi profesi dai yang menginginkan ada kebutuhan batas minimal kompetensi yang dimiliki khatib. Dia menegaskan hal itu bukanlah bentuk intervensi.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman juga memberikan kuliah umum kepada 750 wisudawan ke-70. Hadir dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G. Rahayu, dan beberapa pejabat Pemprov Jateng.

Sementara itu Rektor UIN Walisongo, Prof Muhibbin menyatakan bangga kepada wisudawan yang telah mengukir prestasi. Lebih jauh, ia berharap agar lulusan UIN bisa memberikan dakwah yang penuh damai dan menjadi lulusan yang berguna serta bisa bersaing di dunia kerja. (den/ric/ce1)

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -

Terbaru

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...