Dinas LH Tegur Pabrik Pengolahan Kayu

19561

UNGARAN–Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Semarang kembali mengingatkan PT Makmur Alam Sentosa (MAS) untuk segera memperhatikan pengelolaan limbah produksinya. Pasalnya, pabrik pengolahan kayu di Desa Patemon Kecamatan Tengaran tersebut ditengarai membuang hasil limbah produksi di sungai.

“Dari laporan warga masyarakat begitu. Apalagi beberapa waktu lalu, Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Jateng juga turun langsung menginvestigasi hal tersebut,” kata Kepala Dinas LH Nurhadi Subroto, Selasa (31/1) kemarin.

Dikatakan Nurhadi, terkait hal itu pihaknya juga sudah terjun ke lokasi sungai terdekat pabrik yang juga dikeluhkan warga setempat. “Itu masuknya Sungai Nobo. Dimana lokasi sungai, persis di belakang lokasi pabrik,” katanya.

Kasus tersebut sebenarnya sudah terjadi dari 2008, 2014 dan 2015. Dijelaskan Nurhadi, hal yang menjadi keluhan warga setempat yaitu perubahan warna air sungai menjadi hitam pekat. “Itu dari laporan warga, perubahannya tidak setiap hari, namun kadang dua hari sekali kadang tiga hari sekali,” tuturnya.

Selain itu, perusahaan pengolahan kayu tersebut ditengarai tidak memiliki izin P3, izin pembuangan limbah dan izin tempat penyimpanan sementara limbah. “Dari laporan beberapa pihak perusahaan tersebut tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah), kita juga akan melakukan pengecekan hal tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan Nurhadi, pada 2015 sudah dilakukan pengawasan oleh Dinas LH. Dalam pengawasan tersebut sudah disampaikan temuan kepada perusahaan PT MAS terkait izin pembuangan limbah, ijin tempat penyimpanan sementara limbah, cerobong asap agar lebih ditinggikan lagi dan kolam khusus penyimpanan limbah.

Begitu pula terkait IPAL limbah padat seperti kardus, hasil olahan amplas kayu dan bekas-bekas gergaji. Namun hal tersebut tidak dihiraukanoleh pihak perusahaan. “Terakhir, hasil investigasi lapangan pada 17 januari 2017 ada temuan supaya perusahaan mengoptimalkan kinerja IPAL tersebut,” katanya.

Dikatakan Nurhadi, peringatan tersebut akan disampaikan secara tertulis kepada pihak perusahaan. “Jangan sampai tiba-tiba pihak kementerian turun dan menyegel pabrik,” katanya. Beberapa waktu lalu, Kementerian Lingkungan Hidup menyegel salahsatu pabrik pengolahan oli bekas di Kabupaten Semarang.

Penyegelan dilakukan lantaran buruknya pengolahan limbah B3 oleh pabrik tersebut. Ketika dikonfirmasi, General Affair (GA) PT Makmur Alam Sentosa (MAS), Nur Wasesa mengklaim pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepala desa, RT dan RW sekitar perusahaan terkait dengan pengelolaan limbah produksi. “Kita akan segera perbaiki,” katanya.

Terkait surat izin limbah yang selama ini diduga belum dimiliiki oleh perusahaan pengolahan kayu tersebut, Nur Wasesa juga mengakui hal itu. “Pengajuan izin masih mental karena belum mencapai parameter. UKL/UPL sudah ada dari dinas, tapi utk ijin Amdal masih dalam proses penyesuaian,” katanya.

Diakuinya, limbah yang mencemari Sungai Nobo itu berasal dari emisi cerobong (air arang) di perusahaannya. Saat hujan deras, emisi cerobong itu mengalir ke sungai Nobo sehingga warna airnya menjadi hitam pekat. (ewb/ida)