31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Ulat Bulu Mewabah di Desa Cepiring

KENDAL—Warga Dusun Cepiring Timur, Desa Cepiring, Kecamatan Cepiring digegerkan dengan kemunculan ulat bulu di lingkungan mereka. Selain membuat gatal dan alergi, jumlah ulat bulu sangat banyak sehingga membuat banyak warga jijik dan geli saat melihatnya.

Sebab ulat bulu yang jumlahnya mencapai ribuan ini, tidak hanya menyerang tanaman. Tapi sudah masuk ke rumah-rumah warga, sehingga banyak warga kebingungan dalam mengatasinya.

Kondisi ini sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk bisa mengusir ulat bulu tersebut. Mulai dari menebang pohon, membakar dan membersihkan lingkungan. Tapi hasilnya sia-sia, ulat bulu tersebut setiap hari semakin banyak dan besar ukurannya.

Malah ribuan ulat bulu tersebut beralih mencari tempat perlindungan dengan masuk-masuk ke rumah warga. Hal tersebut membuat banyak warga terutama perempuan dan anak-anak terserang alergi gatal.

“Jadi kalau bulu si ulat bulu terkena kulit membuat orang terkena gatal-gatal. Bahkan orang yang alergi bisa merasakan panas gatal dan kulitnya bentol-bentol besar kemerahan,” kata Sulkhan, warga setempat, kemarin (31/1).

Diakuinya, ulat bulu tersebut datang seperti wabah. Yakni tiba-tiba muncul tanpa tahu asal-usulnya. Sebab kemunculan ulat ini baru pertama kali di desa tersebut. “Tahun sebelum-sebelumnya tidak pernah ada. Jadi baru kali ini datang dengan jumlah yang sangat banyak,” jelasnya.

Hal senada dikatakan oleh Ernawati, pamong Desa Cepiring. Ia menambahkan, kemunculan ulat bulu sudah terjadi lebih dari sepekan terakhir ini. Akhirnya warga melaporkan kemunculan ulat bulu ini kepada kepala desa. Sampai akhirnya dilaporkan ke Dinas Pertanian dan Pangan. “Pohon sudah ditebangi warga dan setiap hari selalu dibakar, tapi nyatanya tidak membuahkan hasil,” paparnya.

Akhirnya oleh Dinas Pertanian dan Pangan dilakukan pembasmian hama ulat bulu tersebut dengan cara disemprot menggunakan cairan insketisida. “Sekarang masih ada, tapi jumlahnya sudah mulai berkurang,”akunya.

Kasi Perlindungan Tanaman dan Pengendali Hama, Dinas Pertanian dan Pangan, Setyo Budi membenarkannya. Pihaknya bersama-sama warga sudah melakukan penyemprotan terhadap tanaman dan ulat-ulat bulu menggunakan insektisida. “Ada 10 petugas dibantu warga yang menyemprotkan insektisida ke permukiman warga dan lingkungan maupun tanaman,” tuturnya.

Sedikitnya hingga kemarin telah menghabiskan empat liter cairan insektisida.Tapi pihaknya akan terus memantau perkembangannya. Jika memang masih banyak, pihaknya akan melakukan penyemprotan kembali.

Menurut Setyo, kemunculan ulat bulu bukanlah hal aneh. Tapi memang sudah rutin setiap tahunnya pada bulan antara Januari atau Februari. Tapi tempatnya bisa berpindah-pindah. Karena ulat bulu ini berasal ulat yang sudah berubah menjadi kupu-kupu, kemudian bertelur. “Tergantung dari kupu-kupu itu banyak bertelurnya dimana,” akunya.

Di Kendal sendiri, beberapa tempat yang pernah diserang hama ulat bulu di Kecamatan Brangsong, Ringinarum dan Kendal. “Pembiakan jenis ulat bulu memang kerap terjadi pada Januari dan Februari. Awalnya biasanya menyerang daun pohon dan merambah di rumah warga,” tambahnya. (bud/ida)

Latest news

Related news