31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Geliatkan Kembali Dunia Sinematografi di Semarang

Kopos atau Komunitas Photography dan Sinematografi berupaya menggeliatkan kembali sinematografi di Semarang. Khususnya, para sineas dan penggemar film-film Indie. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

PROGRAM Dolan Museum Ndelok Film yang rutin digelar di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita belakangan mulai dikenal. Para penikmat film dari berbagai usia maupun kalangan kerap berkumpul di museum tersebut bersama para penggiat sinematografi untuk saling berbagi ilmu maupun ide.

Gelaran tersebut merupakan salah satu acara yang diinisasi oleh Kopos Universitas Wahid Hasyim (Unwahas). Ini sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap karya para pegiat film, khususnya film-film Indie.

”Sebelumnya ada program Dolan Museum, terinspirasi dari situ kami mikir, mosok dolan tok? Selain mengitari museum, kenapa nggak dibikin kegiatan lagi. Nonton film salah satunya, dan di situ juga ada fasilitasnya. Jadi klop,” beber Syarif Hidayatullah, salah seorang pengurus Kopos kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain program Dolan Museum Ndelok Film, komunitas yang berdiri pada 2013 ini juga menggelar Nyemarang Ndelok Film. Sedikit berbeda dengan Dolan Museum Ndelok Film yang memiliki tempat pemutaran tetap, yakni di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, Nyemarang Ndelok Film lebih ke arah nomaden alias berpindah-pindah tempat.

”Program ini kita gelar setiap akhir bulan di tempat berbeda, dengan tema berbeda. Biasanya kita sharing berbagai hal yang sedang hangat di dunia perfilman. Seperti tren sineas yang awalnya bergerak di film-film pendek dan kini mulai merambah ke film panjang. Dari tema-tema tersebut kami diskusikan,” ujar mahasiswa jurusan Ilmu Politik Unwahas ini.

Menurutnya, berbagai apresiasi yang dilakukan tersebut sebagai salah satu upaya untuk menggeliatkan kembali dunia sinematografi di Semarang. Dengan harapan, berbagai komunitas sinematografi yang ada di Semarang bisa kompak untuk bersama memajukan perfilman di kota ini.

”Program-program yang kami bikin ini seperti apresiasi untuk menggelitik teman-teman di Semarang, semacam manas-manasi biar semangat lagi bikin film,” katanya.

Kopos sendiri, lanjutnya, berawal dari ajang kumpul-kumpul para pencinta fotografi dan sinematografi. Dari sekadar kumpul dan berbagi informasi seputar dunia fotografi dan perfilman itu, akhirnya terbentuklah komunitas ini pada 2013.

Saat ini, Kopos menjadi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mahasiswa Unwahas. Kopos memiliki agenda internal, mulai perekrutan anggota saat penerimaan mahasiswa baru, serta masa orientasi selama 4 bulan. Masa orientasi terdiri atas pemberian materi sinematografi, pengaplikasian teori di lapangan hingga produksi dan membuat karya mereka sendiri.

”Setiap anggota memiliki kewajiban bikin film, tapi sebelumnya tentu dibekali dulu. Anggota baru kebanyakan bikin film fiksi. Sisanya dokumenter,” ujarnya.

Ke depan, lanjut Syarif, dengan berbagai kegiatan serta program yang dilakukan baik secara internal maupun menggandeng berbagai pihak ini bisa terus ’menghidupkan’ dunia sinematografi di Semarang.  ”Intinya ayo bareng-bareng bikin acara, bikin program, agar dunia sinematografi kita bisa lebih maju dan berkualitas,” harapnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news