Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos

Kemiskinan Tak Halangi Nur Riwayati Meraih Mimpi Bisa Kuliah

17883
TAK PATAH SEMANGAT: Nur Riwayati yang kini menjadi staf front desk Rektor UNNES. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
TAK PATAH SEMANGAT: Nur Riwayati yang kini menjadi staf front desk Rektor UNNES. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

Kisah hidup Nur Riwayati bisa jadi inspirasi. Ia berasal dari keluarga miskin. Namun semangatnya untuk mengejar cita-cita tak pernah surut. Kini, dia sudah menyandang gelar sarjana ekonomi dan bekerja di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Berikut kisahnya?

ADENNYAR WYCAKSONO

Baca Juga:
Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos
Sejak SD, Riwa Sudah Jalankan Pekerjaan sang Ayah
Di Sekolah Biasa Dipanggil ”Sinden”

KONDISI rumah orang tua Nur Riwayati di Dusun Trowangi, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang cukup menggambarkan betapa miskinnya keluarga gadis yang akrab disapa Riwa ini. Rumah sederhana itu hanya berdinding kayu dan bambu tua dengan lantai tanah. Di sejumlah dinding harus ditopang bambu, karena bangunan nyaris ambruk dimakan usia. Kondisi dapurnya juga amat sederhana. Untuk memasak menggunakan tungku tanah lihat dengan bahan kayu bakar.

Meski begitu, tak menyurutkan Riwa untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Padahal secara logika, sulit bagi Riwa untuk bisa menikmati bangku perguruan tinggi. Sebab, untuk makan sehari-hari saja susah. Orang tuanya bekerja serabutan. Bahkan Riwa harus ikut membanting tulang agar bisa mendapatkan sesuap nasi.

”Sejak kecil saya sudah membantu orang tua bekerja di sawah untuk bisa makan. Bahkan setiap pulang sekolah, saya harus mencari rumput untuk memberi makan ternak di mana ayah dan ibu saya bekerja,” kenang gadis kelahiran Kabupaten Semarang, 15 Oktober 1993 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hidup dalam kemiskinan, bukan berarti membuat Riwa dan keluarganya pasrah. Untuk biaya sekolah, Riwa selalu mencari beasiswa pendidikan agar cita-citanya untuk tetap sekolah terwujud. Cobaan dialami putri pertama dari tiga bersaudara ini saat tiba-tiba sang ayah meninggal dunia karena sakit.

”Saat itu, saya masih sekolah di SMK Diponegoro Salatiga. Setelah lulus, praktis saya harus mengubur impian bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya,” kata putri pasangan almarhum Subandi dan Suryanti ini.

Di saat itulah Riwa dipaksa untuk menikah dengan cara dijodohkan. Kebetulan Riwa memiliki paras cantik hingga banyak pria yang menaksirnya. Di desanya menikah dalam usia muda dianggap wajar. Apalagi masyarakat di desanya masih menganggap pendidikan bagi kaum hawa tidaklah penting. Karena ujung-ujungnya nantinya hanya mengurus anak dan melayani suami.

”Setelah lulus SMK, karena saya miskin, saya mau dijodohkan oleh saudara saya. Ibu saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena hanya buruh serabutan, tapi saya mencoba berontak sampai kabur dari rumah karena ingin kuliah,” kenangnya.

Riwa yang punya prestasi akademik di sekolahnya, sempat mengikuti ujian masuk UNNES lewat jalur undangan, SNMPTN, dan SBMPTN. Namun ia selalu gagal. Hingga akhirnya ia mencoba ikut ujian masuk melalui Seleksi Mandiri UNNES. Dengan bekal uang Rp 50 ribu, ia pergi ke Semarang untuk ikut ujian. Dia juga membawa sepucuk surat yang ditujukan kepada Rektor UNNES saat itu, Prof Dr Sudiono Sastroatmojo MSi.

Kondisi rumah orang tua Nur Riwayati di Banyubiru, Kabupaten Semarang. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
Kondisi rumah orang tua Nur Riwayati di Banyubiru, Kabupaten Semarang. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

”Saya bawa surat yang isinya curhatan kenapa anak kurang mampu dan miskin susah kuliah karena biaya yang sangat mahal. Apakah anak-anak miskin harus menelan pil pahit dan menghadapi perjodohan serta menikah muda dengan orang yang tidak dikenal, karena tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” ceritanya sambil terisak.

Tiga kali Riwa mengirim surat ke Rektor UNNES kala itu. Hingga akhirnya surat yang ketiga mendapatkan respons. Ia pun diberikan beasiswa bidik misi dan kuliah di UNNES pada 2011. Sebelumnya, Riwa nekat pergi dari rumah untuk melihat hasil pengumuman dengan bekal uang Rp 50 ribu pinjam teman. Saat itu, lanjut dia, ia sempat dicibir oleh tetangga dan saudaranya.

Meh sekolah duwur yo nggo opo? Wong wedok paling mung macak, manak karo masak, tibone yo podo (Mau sekolah tinggi-tinggi buat apa, wanita paling kerjaannya hanya merias, melahirkan dan memasak atau mengurus suami. Jatuhnya juga sama, Red),” katanya.

”Ada juga yang bilang, saya nanti jadi perawan tua, dan tanggapan miring lainnya. Ya, meski banyak yang mencibir, saya bersyukur bisa kuliah. Bagi saya dengan pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” sambungnya.

Setelah menjadi mahasiswi UNNES, Riwa harus hidup prihatin. Sebab, untuk mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, ia harus membanting tulang dengan menjadi buruh cuci pakaian milik teman kosnya. ”Uang buat makan atau uang saku saya dapatkan dengan mencuci pakaian teman. Pernah juga mijitin teman kos, kadang dikasih uang, kadang juga hanya dibeliin makan,” kenangnya pilu.

Riwa yang punya kemampuan menyanyi keroncong dan sinden, pernah ikut grup keroncong serta campur sari Dewan Kesenian Kabupaten Semarang. Ia beberapa kali mendapatkan job menyanyi. Sekali menyanyi, Riwa mendapatkan bayaran sebesar Rp 100 ribu yang langsung diberikan kepada ibunya. ”Kalau dapat bayaran, saya kasihkan ke orang tua agar adik-adik saya bisa makan. Intinya buat menyambung hidup keluarga,” katanya.

Saat kuliah, kemampuannya di dunia tarik suara itu terus dikembangkan. Ia beberapa kali tampil menyanyi. Riwa juga sempat ikut dalam kegiatan forum beasiswa nasional dan bertemu Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat itu, Muhammad Nuh di Jakarta.

”Ketemu beliau (SBY) bangga banget, seakan perjuangan saya dulu lunas, saya juga diberi motivasi untuk terus belajar dan berusaha walaupun hidup dalam keterbatasan,” ucapnya.

Setelah lulus UNNES, Riwa diangkat menjadi staf front desk Rektor UNNES sekarang, Dr Fathur Rokhman MHum. Setelah bekerja, ia kini bisa sedikit mengangkat derajat keluarganya untuk lepas dari jerat kemiskinan. Saat ini, Riwa terus berjuang untuk meneruskan studi strata 2 (S2) dan berusaha mendapatkan beasiswa.

”Harapannya pemerintah lebih memperhatikan siswa yang tidak mampu, tak sedikit siswa miskin menginginkan pendidikan yang layak. Apalagi menurut saya dengan pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan,” ujar gadis yang mengaku masih jomblo ini.

Riwa pun berhasil membuktikan kepada warga di desanya bahwa kemiskinan tidak harus hilang semangat untuk meraih cita-cita. Selain itu, menikah muda sudah bukan zamannya lagi.

”Saya coba membuktikan dan mengedukasi warga di desa saya untuk tidak menikah muda dan tetap menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kemiskinan bukan halangan, jika memang ada niat dan kemauan, pasti semua kendala bisa teratasi,” kata dara berhijab yang lulus dari UNNES pada 2015 dengan IPK 3,63 ini. (*/aro/ce1)