CARI SOLUSI: Para pembicara dari Saka Kalpataru Semarang saat memaparkan materi tentang cara mencintai lingkungan pada kegiatan car free day di jalan Pahlawan, Minggu (29/1). (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)
CARI SOLUSI: Para pembicara dari Saka Kalpataru Semarang saat memaparkan materi tentang cara mencintai lingkungan pada kegiatan car free day di jalan Pahlawan, Minggu (29/1). (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)

SEMARANG – Pembangunan harus memperhatikan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). Termasuk pembangunan jalan underpass di Jatingaleh, yang dimaksudkan untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di daerah tersebut. RTH, bisa mengeliminir pencemaran udara akibat padatnya kendaraan di wilayah Jatingaleh dan Gombel.

”Mengenai ruang terbuka hijau yang hilang karena adanya pembangunan itu, nantinya juga harus ada ruang terbuka hijau pengganti,” ujar pimpinan Satuan Karya Pramuka (Saka) Kalpataru Semarang, Gunawan Wicaksono.

Ia menilai, wilayah Gombel Lama atau di eks Hotel Sky Garden, dapat menjadi alternatif untuk dijadikan ruang terbuka hijau sebagai pengganti RTH yang hilang karena pembangunan jalan. ”Nantinya mungkin dapat dikembangkan RTH di daerah situ. Sesuai UU bahwa 30 persen itu untuk ruang terbuka hijau,” jelasnya.

Sementara itu, Walda Ni’matu R salah satu Dewan Saka mengatakan bahwa menjaga lingkungan menjadi kewajiban semua orang. ”Seperti yang dikatakan bahwa kami juga bisa berperan menjadi polisi lingkungan. Ketika ada pabrik yang tidak benar dalam mengelola pembuangan, kami bisa melaporkannya ke dinas terkait,” ujar Walda pada acara Pengenalan Saka Kalpataru Pemuda Cinta Lingkungan Dinas lingkungan Hidup Kota Semarang, Minggu (29/1) kemarin. (sga/smu/ce1)