31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Ngamar, 8 Pasangan Dirazia

MAGELANG – Sebanyak 16 orang dari delapan pasangan tak resmi terjaring razia penyakit masyarakat (pekat) saat ngamar di hotel kelas melati dan kos-kosan, Jumat, (27/1) malam lalu.

Mereka pasrah digiring tim gabungan menuju kantor Satpol PP Kota Magelang untuk mendapatkan pembinaan. Selanjutnya dilakukan cek kesehatan. “Kegiatan ini untuk mengempur mindset orang, bahwa biasanya Satpol PP merazia saat malam Minggu saja. Sekarang tidak. Bahkan sewaktu-waktu akan kami lakukan saat siang hari sekalipun,” kata Kepala Satpol PP Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana, saat dihubungi Jawa Pos Radar Kedu.

Satu per satu, petugas Satpol PP mendata nama-nama pasangan yang terjaring. Bersama dengan penyerahan kartu indentitas, mereka diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya. Mirisnya, ada yang masih berusia 17 tahun. “Orang tuanya kami hubungi. Lalu dari pihak perempuan berencana menikahkan putrinya,” ungkapnya.

Dikatakan Singgih, razia ini akan intensif dilaksanakan untuk mencegah perkembangan praktik prostitusi. Agar tidak ada kesan bahwa Kota Sejuta Bunga menjadi tujuan nyaman warga luar kota melakukan perbuatan asusila.

Sebab, dari sekian pasangan yang terjaring, sekitar 10 orang berasal dari luar kota. Seperti Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang dan sekitar 5 orang beralamat Kabupaten Bantul, Jogjakarta. “Jangan sampai orang jauh-jauh datang ke Kota Magelang hanya untuk hal-hal yang nggak bener,” tandasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika melihat dan mengetahui hal yang kurang menyenangkan. Serta bagi pemilik kos diminta aktif melaporkan penghuni kos atau kontrakan. Seperti diamanatkan pasal 9 Perda Kota Magelang Nomor 6 Tahun 2015 tentang Ketertiban Umum.

“Pemilik kos dan kontrakan wajib melaporkan penghuninya secara berkala kepada lurah melalui ketua RT setempat. Penghuninya juga harus laporan,” imbuhnya.

Singgih khawatir, bila pemilik kos cuek, maka orang bebas keluar masuk. Ditakutkan terjadi tindakan kriminalitas, maupun untuk bersembunyi orang bermasalah. “Jangan hanya mengejar bisnis saja, tapi tanggung jawab sosial juga harus diutamakan.”

Kasi Pengendalian Operasi Satpol PP Kota Magelang, Purwadi menjelaskan razia menjelang Imlek itu berjalan lancar.

“Mereka (pasangan tak resmi, Red) langsung naik mobil patroli Satpol PP, dan kendaraan mereka dibawa petugas sampai kantor. Setelah selesai pembinaan, kunci dan motor kami serahkan agar mereka pulang,” tambahnya.

Semetara itu, Kabid Operasional, Trantibum, dan Perlindungan Masyarakat, Satpol PP Kota Magelang, Otros Trianto menegaskan, bila dikemudian hari mereka terjaring lagi akan dikenakan sanksi pidana kurungan paling lama tiga bulan. Dan atau denda paling banyak Rp 50 juta seperti disebutkan pada pasal 37, Perda Kota Magelang Nomor 6 Tahun 2015. “Setiap orang dilarang melanggar norma atau melakukan perbuatan asusila. Sanksinya tipiring,” tuturnya menyebut bunyi pasal 26.

Dalam razia kemarin, tim gabungan terdiri dari Satpol PP Kota Magelang, Subdenpom, Kodim 0705, Polres Magelang Kota, Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Masyarakat (Kesbangpolinmas) dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Magelang. Tim gabungan menyisir hotel dan kos mulai pukul 20.00 malam hinggi dini hari. Pasangan tak resmi dilepas petugas setelah pembinaan selesai pukul 02.30 pagi. (put/lis)

Latest news

Related news