31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

PDIP Kukuhkan Partainya Wong Cilik

MUNGKID— DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magelang di era kepemimpinan Sariyan Adi Yanto mengukuhkan kembali sebagai partainya wong cilik. Hal itu ditandai dengan kegiatan puncak HUT ke-44 yang digelar di kaki Gunung Sumbing Dusun Kacetan Desa Ngargosoko Kecamatan Kaliangkrik.

Kegiatan yang berkonsep Ragam Budaya Negeri Atas Awan itu mengolaborasikan kegiatan pengukuhan pengurus PAC se-Kabupaten Magelang dengan pergelaran budaya seniman gunung. “Kita ingin kembali mengukuhkan sebagai partainya wong cilik. Dekat dengan masyarakat dan berbaur dan kita menonjolkan aneka keberagaman,” kata Ketua DPC Sariyan Adi Yanto.

Dipilihnya Dusun Kacetan, sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Secara filosofi Kacetan yang dalam bahasa Indonesia berarti menegaskan memiliki tujuan bahwa kegiatan ini sebagai langkah menegaskan kepengurusan DPC PDI Perjuangan di bawah kepemimpinannya.

Di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, seluruh pengurus anak cabang (PAC) se-Kabupaten Magelang dikenalkan. Secara resmi mereka juga diberikan Surat Keputusan (SK) Kepengurusan dari DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah. Proses penyerahan dilakukan oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Nusyirwan Sudjono.

Selain itu, dia menegaskan Kacetan sebagai salah satu wilayah ujung Kabupaten Magelang yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Bentangan alam di lereng Gunung Sumbing itu cukup menggambarkan keindahan Kabupaten Magelang.

“Magelang yang indah dan sangat luar biasa ini ada di Kacetan. Dan dari sini saya melihat masa depan Kabupaten Magelang yang lebih baik,” kata Sariyan.

Ketua DPP PDI Perjuangan Nusyirwan Sudjiono merasa kagum dengan konsep kegiatan HUT ke-44 yang digelar di Kabupaten Magelang. Bahkan, saat memekikkan kata merdeka dia mengaku merinding melihat suasana di sekitar panggung yang dipenuhi masyarakat.

“Pemandangan alam di sini sungguh luar biasa. Sebuah apresiasi kami berikan kepada DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magelang yang memilih tempat ini untuk memperingati puncak HUT ke-44. Ini juga sesuai intruksi ibu ketua umum (Megawati), agar kita kembali ketujuan awal. Yakni kembali melihat alam, memperhatikan seni budaya tradisional dengan tetap merengkuh wong cilik,” kata dia.

Usai prosesi pemberian SK, kegiatan dilanjutkan dengan kolaborasi unik seniman gunung. Setelah sebelumnya dibuka oleh kesenian leak dari dusun setempat.

Masyarakat begitu antusias dan terhibur melihat kegiatan tersebut. Apalagi, kolaborasi seniman gunung begitu memukau.

Kesenian yang terlibat di antaranya goh muko Bandongan, kemudian wayang gunung dengan lakon Banteng Gunung, kemudian jingkrak sondang dari Sanggar Saujana, topeng abang Sanggar Warangan Merbabu dan ditutup soreng banteng dari Padepokan Wargo Budoyo.

Selama pementasan masyarakat dan pengurus partai terlihat berbaur menjadi satu. Kagum dan bergembira bersama. “Kegiatan ini terjadi berkat gotong-royong masyarakat, seniman dan kader partai. Seluruh seniman yang terlibat datang dan bermain secara sukarela, dan masyarakat nyengkuyung acara ini luar biasa,” kata Sariyan.

M Yusuf Sakir, Wakil Ketua Panitia HUT ke-44 mengatakan rangkaian kegiatan HUT PDI Perjuangan sudah dilakukan sejak dua hari lalu. Di antaranya dengan melakukan penanaman 100 ribu bibit pohon di lima gunung. Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Menoreh.

Menurutnya, kegiatan ini juga terselenggara kerja sama dengan para pegiat lingkungan. Mereka bersama-sama menanam dan melakukan konservasi untuk menjaga kelestarian alam.

Pimpinan Padepokan Wargo Budoyo Merbabu, Riyadi mengapresiasi perayaan HUT ke-44 PDI Perjuangan, yang menggandeng dan melibatkan masyarakat serta seniman tradisional. “Saat ini, sudah jarang sekali HUT partai menggandeng dan melibatkan secara langsung masyarakat. Ini sangat menyentuh,” ungkapnya. (vie/lis)

Latest news

Related news