31 C
Semarang
Senin, 10 Mei 2021

Ekspor Jateng Tumbuh Lambat

SEMARANG –  Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, nilai ekspor Jawa Tengah mengalami peningkatan 8,2 persen. Yaitu dari 483,89 juta US Dollar pada November menjadi 523,58 juta US Dollar pada Desember.

Kepala BPS Jawa Tengah, Margo Yuwono mengatakan, eskpor Jawa Tengah mengalami kenaikan, baik bila dibandingkan bulan per bulan, maupun secara kumulatif dari Januari – Desember 2016 dengan Januari – Desember 2015 yang mengalami peningkatan 0,27 persen. “Tapi sayang peningkatan masih tipis. Padahal, ekspor kalau bisa meningkat tajam dari tahun sebelumnya. Karena hal ini merupakan indikator kemampuan daya saing produk kita di luar,” tandasnya, kemarin.

Menurutnya, negara-negara yang semula masuk kategori berkembang kemudian menjadi negara maju, karena mereka mampu membuka keran ekspor hingga meningkat tajam. Salah satu upayanya dengan mempelajari kebutuhan barang-barang negara lain untuk diproduksi dan dipasarkan. Kedua variasi produk yang perlu ditambah. Saat ini, untuk ekspor, Jawa Tengah masih mengandalkan produk dari kayu, tekstil dan barang-barang dari plastik. “Harusnya kita yakin bahwa dengan kemampuan dan potensi Jawa Tengah kita mampu mengekspor kebutuhan lain selain tiga itu,” ungkapnya.

Namun begitu, untuk negara tujuan ekspor, Jawa Tengah mengalami perbaikan. Dari yang semula 5 negara menjadi 6 negara utama. Yaitu USA, Tiongkok, Jerman, Jepang dan Malaysia ditambah Korea Selatan. “Korea Selatan baru-baru ini menjadi salah satu negara tujuan ekspor utama. Namun komoditasnya masih seputar tekstil dan barang-barang kayu,” jelasnya.

Margo berharap, sebagai provinsi yang cukup kuat di sektor pertanian, Jawa Tengah seharusnya lebih mampu menciptakan industri-industri yang berbasis produk-produk pertanian yang sering disebut sebagai agro industri. “Potensi pertanian kita tinggi. Komoditasnya bisa dikembangkan menjadi produk-produk industri untuk kemudian diekspor. Sehingga komoditas ekspor kita lebih variatif,” ujarnya.

Konsumen Optimistis

Sementara, Bank Indonesia (BI) melapaorkan, hasil survei pada 700 responden rumah tangga di Jawa Tengah pada bulan Desember, menunjukkan keyakinan konsumen yang sedikit melemah dari periode sebelumnya, saat ini berada pada level optimis.

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra mengatakan, hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Desember yang tercatat sebesar 12,51 atau menurun 7,5 poin dari bulan sebelumnya.  “Meski begitu, IKK Desember 2016 meningkat 0,9 poin dibanding dengan periode yang sama sebelumnya sebesar 124,3,” paparnya, kemarin.

Konsumen, lanjutnya, memperkirakan kenaikan harga akan terjadi pada Maret 2017. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang tercatat lebih tinggi 0,5 poin menjadi 172,2.  “Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yang meningkat 2,3 poin serta kelompok perumahan, listrik, gas dan bahan bakar juga meningkat 1,0 poin dibandingkan periode sebelumnya,” ujarnya. (dna/smu)

Latest news

Related news