Panen Tebu Dijual ke Jatim

  • Bagikan

SEMARANG  – Kesejahteraan para petani tebu di Jateng masih minim. Dewan mulai menggagas rancangan perda tentang rendemen. Ini sebagai salah satu upaya untuk memberikan perlindungan kepada petani tebu di Jateng.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo mengatakan perda tentang rendemen itu merupakan perda inisiatif dari Komisi B. Perda tentang rendemen dibuat agar rendemen tebu bisa tinggi dan para petani tebu dapat sejahtera. Sehingga mampu mewujudkan swasembada gula di Jateng. ”Semua orang tahu jika petani tebu di Jateng belum sejahtera. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” katanya.

Ia menambahkan, rendemen di Jateng masih jauh dibandingkan dengan Jatim. Tidak mengherankan jika kemudian banyak petani tebu Jateng menjual hasil panen tebu ke Pabrik Gula (PG) yang ada di Jatim. Hal itu terjadi karena PG di Jatim mampu membeli tebu dengan harga lebih tinggi dari PG yang ada di Jateng. ”Kondisi ini secara tidak langsung membuat kondisi pergulaan yang terjadi di Jateng sangat memprihatinkan. Padahal, Jateng termasuk salah satu penghasil gula terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Ikhsan Mustofa, menambahkan, kebutuhan gula konsumsi saat ini masih kurang dari produksi gula yang ada. Sehingga menjadi peluang para petani tebu agar bisa memenuhi kebutuhan tersebut. ”Dengan rendemen tinggi, memicu para petani tebu untuk menanam komoditas tebu dan tidak beralih ke komoditas yang lain. Dengan sendirinya, menekan angka impor gula,” katanya. (fth/ric/ce1)

  • Bagikan