33 C
Semarang
Minggu, 20 September 2020

Sebaiknya Sebelum Usia 35 Tahun, Tingkat Keberhasilan 30 Persen

Program Bayi Tabung, Amankah?

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Bagi pasangan suami istri yang lama membina rumah tangga, namun belum dikaruniai keturunan, program bayi tabung jadi solusinya. Di Kota Semarang, sejumlah rumah sakit sudah membuka pelayanan bagi pasangan yang sulit hamil ini. Amankah mengikuti program bayi tabung?

DIAKUI, sebagian masyarakat ada yang masih menganggap program bayi tabung merupakan hal tabu. Padahal cara ini merupakan salah satu upaya program kehamilan yang wajar. Embrio bayi yang dimasukkan ke rahim merupakan hasil pertemuan sel telur dan sperma milik pasangan suami istri yang sah.

Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan, Dr Fadjar Siswanto SpOG, menjelaskan, ada banyak kode etik yang harus dipatuhi dokter dalam menangani program bayi tabung. Yang paling utama, bayi tabung harus berasal dari pasangan suami istri yang sah. Bagi pasangan yang ingin mendapatkan momongan lewat cara ini, harus menunjukkan surat nikah.

Dikatakan, donor sperma dari pria lain pun haram hukumnya meski calon ayah tidak memiliki sel sperma. Fadjar menceritakan, pernah ada pasien yang memohon sperma yang dimasukkan ke sel telur, diambil dari adiknya. Kontan Fadjar menolak. Menurutnya, teknik reproduksi berbantu (TRB) –istilah kedokteran menyebut bayi tabung– harus bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan agama.

“Kami tidak bisa membantu mempertemukan sperma dan telur dari bukan pasangan sah. Bahkan jika pasien yang meminta. Kami memperhitungkan keturunan. Kalau secara Islam, nanti bin-nya siapa, kan malah jadi tidak benar,” ucap dokter yang membuka praktik di RS Telogorjo Semarang ini.

Dijelaskan, jika kualitas sperma suami tidak mampu membuahi sel telur, tetap masih bisa melakukan bayi tabung. Termasuk jika sperma yang dikeluarkan, mati semua. Caranya adalah menyedot sperma muda, langsung dari testis atau tempat produksi sperma. “Bisa dengan cara mengambil sperma langsung dari ‘pabriknya’. Tapi karena belum matang, harus ada perlakuan khusus, hingga sperma tersebut benar-benar siap membuahi telur,” tegasnya.

Begitu juga dengan sel telur. Jika sel telur istri terbatas, bisa diperbanyak dengan pemberian obat. Obat tersebut akan merangsang agar produksi sel telur melimpah. Hanya saja, cara ini cukup berisiko karena memungkinkan terjadinya ovarian hyperstimulation syndrom (OHSS).

Jika terjadi kondisi seperti itu, sel telur justru tidak bisa diambil. Harus menunggu berbulan-bulan hingga jumlahnya normal. OHSS juga bisa berakibat tidak baik bagi calon ibu karena bisa membuat hormonnya kacau.

Dikatakan Fadjar, jumlah dan kualitas sperma dan telur seseorang dipengaruhi faktor usia. Semakin bertambah umur, semakin turun kualitas dan kuantitasnya. Karena itu, dia mengimbau, pasangan yang berniat memiliki momongan lewat bayi tabung, bisa melakukannya sebelum memasuki usia 35 tahun.

Jika sudah mendekati 40 tahun, prosesnya akan cukup lama, karena butuh perlakuan khusus. Bisa sampai 1,5 bulan. Sepanjang persiapan itu, pasien juga butuh obat-obatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma atau sel telur, misalnya. Praktis biaya pun membengkak. “Persentase keberhasilannya pun menurun,” tegas Fadjar.

Kalau masih di bawah 35 tahun atau kualitas dan kuantitas tidak ada masalah, proses bayi tabung cukup singkat. Rata-rata hanya butuh dua minggu hingga embrio bisa ditanam ke rahim. “Tapi setiap orang pasti berbeda. Lama tidaknya, dipengaruhi banyak faktor. Apakah pernah operasi, ada tumornya atau tidak, kista, dan masih banyak lagi. Itu harus dibereskan dulu. Intinya, TBR merupakan langkah terakhir bagi pasangan yang ingin punya momongan,” paparnya.

Selain itu, juga dipengaruhi kesiapan mental dan fisik pasien. Karena itu, dalam kasus tertentu, butuh pendampingan psikolog untuk memantapkan mental pasien. Sebab, kemantapan ini juga mempengaruhi tingkat keberhasilan proses bayi tabung.

Fajar mengakui, meski teknologi kedokteran sudah sangat berkembang, tingkat keberhasilan bayi tabung masih sekitar 30 persen. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Untuk penanganan paling ringan saja, butuh sekitar Rp 40 juta. Mungkin karena dua faktor inilah, banyak pasangan yang harus berpikir berkali-kali untuk memilih jalur bayi tabung.

Belum lagi risiko yang membayangi calon ibu. Yang paling lumrah, adalah risiko kehamilan kembar. Sebab, embrio yang dimasukkan ke rahim, bisa tiga sekaligus. Sebenarnya cara ini untuk meningkatkan persentase kesuksesan mendapatkan bayi. Jika dua mati, masih ada satu embrio yang bisa tumbuh menjadi bayi.

“Kalau jadi semua, malah bahaya. Tingkat risiko kematian ibu dan bayi jadi tinggi. Normalnya, satu rahim hanya dihuni satu bayi. Tapi orang sekarang, ada yang malah suka punya bayi kembar,” ucapnya.

Risiko lain, lanjut dia, adalah ketika memanen sel telur. Sebab, pasien harus menjalani operasi ringan. Dokter akan menggunakan alat khusus, semacam suntikan, untuk mengambil sel telur lewat rongga pinggul. Proses ini bisa mengenai organ dalam lain. “Tapi dengan teknolgi sekarang, risiko itu bisa diminimalkan. Sebab, soal teknis dan ketersediaan alat, klinik-klinik di Indonesia sudah memadai. Tidak kalah dari negara tetangga,” jelasnya.

Sel telur yang sudah dipanen tersebut, akan ditaruh di tempat yang bentuknya semacam cawan kaca yang tidak terlalu dalam. Cawan itu sudah diberi cairan yang harganya cukup mahal. Mencapai jutaan rupiah per cc. Cairan itu berfungsi untuk menahan agar sel terlur tidak segera mati. “Bukan dimasukkan ke tabung. Istilah bayi tabung salah kaprah karena sebenarnya tidak melibatkan bahan berbentuk tabung dalam proses TBR,” cetusnya.

Setelah indung telur diamankan, giliran sperma yang dipersiapkan. Dokter akan memilih sperma yang bagus dan sehat untuk ditaburkan ke sel telur tadi. Cara pembuahan ini ada dua macam, tergantung jumlah sperma yang sehat. Yang pertama adalah pembuahan konvensional. Satu telur, akan dipertemuakan dengan sperma yang jumlahnya ribuan. Nanti hanya ada satu sperma yang masuk ke sel terlur, layaknya pembuahan alami.

Yang kedua adalah pembuahan dengan teknik intracytoplasmic sperm injection. Kondisi ini hanya dilakukan jika jumlah sperma yang sehat, sangat sedikit. Dokter akan memilih satu sperma yang hidup dan sehat, untuk disuntikkan langsung ke sel telur.

Dalam proses ini, sebenarnya dokter bisa memilih sperma dengan kromosom X atau Y untuk menentukan jenis kelamin bayi. Tapi, cara itu dilarang karena dianggap tidak etis. “Gampangannya, bisa berhasil hamil saja sudah syukur. Kok malah mau milih cewek atau cowok,” ucapnya.

Keberhasilan pembuahan ini baru bisa terlihat setelah 24 jam. Jika sudah membelah, berarti sudah menjadi embrio yang bisa berkembang. Ketika sudah menjadi embrio, dokter kembali bisa memanipulasi kondisi calon bayi. Yakni,  membuang genetik yang jelek, dan diganti genetik yang bagus dari hasil pembuahan lain.

Biasanya, untuk satu pasien, dilakukan empat pembuahan. Dari embrio yang jadi, ada genetik yang tidak sempurna. Nah ini bisa diganti dengan genetik dari embrio lain. Ini bisa menghilangkan risiko penyakit keturunan yang bisa diteruskan ke bayi. “Tapi harganya sangat mahal,” katanya.

Embrio yang bisa berkembang tersebut kemudian dimasukkan ke inkubasi. Berupa lemari penyimpanan yang suhu dan zat-zat gas di dalamnya, sudah disesuaikan sedemikian rupa agar embiro bisa terus berkembang. Setelah tiga hari, embiro tersebut akan menjadi morula yang sudah siap ditanam ke dalam rahim. Bisa juga menunggu embrio hingga berumur lima hari atau menjadi  blastula.

Masing-masing jenis embrio tersebut punya kelebihan dan kekurangan. Jika masih menjadi morula, akan ditanam tiga sekaligus. Ini yang membuat risiko bayi kembar. Kalau blastula, hanya ditanam satu saja karena potensi bisa tumbuh di rahim lebih besar. “Tapi iya kalau embrio bisa lima hari di inkubasi. Kalau tidak, kan sayang. Pas menjadi morula saja sudah bisa ditanam kok,” jelas Fadjar.

Proses penanaman embrio di rahim tidak perlu operasi. Morula atau blastula bisa dimasukkan menggunakan selang berdiameter 2 mm lewat mulut rahim. Sebelum proses penanaman ini, dokter harus meperhitungkan kondisi rahim. Seperti umur selaput rahim, posisi penanaman, hingga ketebalan lahan tanam.

Setelah proses tandur embrio selesai, calon ibu harus istirahat total. Setidaknya satu hari penuh untuk meningkatkan persentase kesuksesan. Calon ibu juga wajib mengonsumsi obat yang telah diresepkan untuk membantu embrio bisa tumbuh di rahim.

Dijelaskan Fadjar, kegagalan proses bayi tabung paling banyak ada di tahap ini. Embrio kerap tidak mau berkembang setelah ditanam di rahim. “Biasanya, tunggu seminggu dulu. Jika tidak mens, bisa tes kehamilan. Lewat cek darah, atau tes urine,” bebernya.

Jika dinyatakan positif, ibu hamil bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Perlakuan ibu hamil lewat bayi tabung dan konvensional, tidak ada bedannya. Semua punya risiko keguguran. “Aktivitaslah layaknya ibu hamil muda. Jangan terlalu dikekang. Nanti malah stres dan justru berpengaruh pada metabolisme. Malah mengganggu proses kehamilan,” cetusnya.

Psikolog Universitas Diponegoro (Undip), Hastaning Sakti, mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pasangan suami istri mengambil keputusan menjalani program bayi tabung. Alasan tersebut meliputi infertilitas, pemilihan embrio untuk mencegah penyakit genetik, maupun keguguran berulang.

“Setelah sekian lama pasangan suami istri berusaha sekian tahun dengan berbagai cara, maka bisa dilakukan dengan cara inseminasi atau bayi tabung itu, itupun dengan berbagai persyaratan,” ungkapnya.

Hasta menceritakan, orang yang ingin melakukan program bayi tabung haruslah dalam keadaan yang sangat baik. Dalam arti, kesepakatan sudah terjalin dari kedua belah pihak, termasuk keluarganya. Salah satu pasien yang pernah ditanganinya diminta oleh dokter untuk bertemu dengannya agar dapat mengecek kondisinya bahwa pasien harus dalam keadaan tenang dan bisa menerima, baru dapat dilakukan inseminasi. Sebab, faktor stres akan sangat mempengaruhi hormon, peredaran darah dan lainnya.

Sehat secara fisik meliputi kesehatan benih dan diambil pada kondisi yang tepat, seperti pada saat berhubungan, sehingga sperma yang didapat nantinya adalah yang terbaik yang akan membuahi. “Hal-hal seperti itu yang mesti disampaikan kepada pasangan suami istri bahwa untuk mendapat sperma yang terbaik harus diproduksi dengan hubungan layaknya suami istri,” ujarnya.

Proses bayi tabung sendiri pada akhirnya sama dengan kehamilan pada umumnya. Si ibu tetap akan merasakan hal tidak nyaman layaknya orang hamil secara alami. Selanjutnya pasangan harus menjaga hubungan dan komunikasi dari suami, sehingga istri bisa tenang. Karena ibu hamil dengan kondisi seperti itu sangat sensitif dan risiko kegagalannya tinggi.

Ia mengatakan, paling tidak lima sampai 6 bulan jelang pernikahan sudah melakukan primarial test dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat bibit virus seperti toxsoplasma dan semacamnya. “Sebaiknya pasangan yang sudah berencana untuk menikah itu melakukan primarial test, itu penting.  Artinya memeriksa juga kesuburan keduanya. Hal ini sangat penting agar nantinya tidak terjadi hal-hal di kemudian hari,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk melakukan program bayi tabung yang diperlukan adalah kesiapan mental baik istri maupun suami. Kemudian hal itu juga harus didukung dengan baik oleh keluarga dari kedua belah pihak, orang tua harus menjaga emosinya agar tidak mempengaruhi mental pasangan yang akan melakukan proses inseminasi. (amh/mg26/aro)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Hasil Survei Bisa Berubah

SALATIGA- Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang berlaga dalam Pilwalkot Salatiga harus kerja keras untuk menarik dukungan saat coblosan 15 Februari...

Aktifkan KIM Bantu Transparansi

KENDAL—Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kendal akan menggerakkan kembali pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Hal itu menyusul akan dibentuknya desa online. Kepala Diskominfo Kendal, Muryino...

Mengembangkan Potensi Non Akademis Peserta Didik

RADARSEMARANG.COM - Paradigma yang beredar luas dimasyarakat adalah sekolah merupakan lembaga formal yang bertujuan untuk pencapaian prestasi akademis dari peserta didiknya. Rangking walaupun sekarang...

Rakyat Jangan Mau Jadi Korban Ekonomi

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN - Rakyat kecil dan miskin sering jadi korban kebrutalan ekonomi. Untuk itu, anggota Komisi XI DPR RI Prof Dr Hendrawan Supratikno mengingatkan agar rakyat...

Gelar Tablig Akbar, Amankan Pemilukada

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Personel Polrestabes Semarang diminta selalu mengawal dan mengamankan pada setiap tahapan Pemilukada 2018. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mewujudkan situasi keamanan ketertiban masyarakat (Kamtibmas)...

Penanganan Bencana Alam Tak Maksimal

SEMARANG-Penanganan bencana alam di berbagai daerah di Jateng menghadapi persoalan klasik, yakni masalah kewenangan. Akibatnya, meski lokasi di Jateng, tapi kewenangannya Pemerintah Pusat, sehingga...