31 C
Semarang
Kamis, 6 Mei 2021

Uang NKRI Harga Diri Bangsa

PEKALONGAN – Di balik kemunculan berbagai polemik dan isu negatif terkait beredarnya pecahan uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru, semua sepakat bahwa uang NKRI Harga Diri Bangsa. Hal tersebut ditegaskan dalam seminar dan diskusi interaktif bertajuk “Sosialisasi uang baru dalam rangka memberikan perlindungan dan kepastian hukum serta menjaga kestabilan rupiah” yang digelar di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan, Sabtu (28/1).

Seminar menghadirkan narasumber Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Prof Hendrawan Supratikno dan Ketua Tim Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Semarang FX Bambang Santoso, yang dipandu moderator Heriono.

Ketua Tim Pengelolaan Uang Bank Indonesia Semarang, FX Bambang Santoso, menegaskan bahwa pada uang baru tidak ada unsur SARA. “Kami akan terus sosialisasi terkait ini (uang baru). Bagimana proses pembuatannya sampai diedarkan sekarang,” katanya.

BI, menurutnya, akan terus mengkonter berita hoax terkait uang baru. Untuk itu, jika ada masyarakat yang menyebarkan berita hoax terkait uang baru lewat medsos maupun sejenisnya, baik hanya share akan dijerat hukum yang berlaku.

Dikatakan, peredaran uang baru sesuai aturan dilakukan secara periodik untuk menambah unsur keamanan. Dalam pembuatannya, kata dia, juga butuh waktu dua tahun. Termasuk gambar yang akan diterapkan pada setiap lembarnya.

Pemilihan setiap pahlawan juga dengan berbagai pertimbangan. Sehingga muncul isu, pahlawan kafir, uang dengan model Yuan (mata uang Cina), pahlawan tidak terkenal, sampai gambar Cut Mutia tidak mengenakan jilbab dipermasalahkan.

Dikatakan, rectoverso juga menjadi primadona. Gambar air logo BI yang bisa dilihat secara utuh, dituduh sebagai simbol PKI, dan kini dalam perkara hukum. “BI tidak pernah terbesit sedikitpun untuk menaruh logo organisasi terlarang yang dituduhkan. Bahkan, logo rectoverso ini sudah diberlakukan sejak 2001, dengan model yang mirip,” jelasnya.

Prof Hendrawan Supratikno menerangkan, dengan era kemudahan akses, terlebih kini semua memegang gadget dan online, sehingga informasi apapun bisa didapat secara cepat.  “Saya contohkan saat kemarin sidang paripurna saja, anggota dewan sempat-sempatnya interupsi. Untuk mengabarkan bahwa mantan Presiden BJ Habibie meninggal. Dan ternyata itu isu gosip, sampai dibela-belain memotong sidang,” katanya.

Gosip tidak benar atau diistilahkan hoax, kini juga memberitakan isu negatif pada uang baru, terutama isu menggunakan logo palu arit. “Dengan kondisi politik negara ini, apapun bisa jadi bahan untuk memecah belah. Bisa juga dibuat-buat. Untuk itu, kami melakukan sosialisasi ini untuk beri penjelasan yang gamblang,” ujar anggota dewan yang juga seorang dosen ini.

Ditegaskan Prof Hendrawan, sebagai bentuk harga diri bangsa, kini negara juga tegas dalam aplikasi UU Nomor  7 Tahun 2011. Di mana di seluruh wilayah NKRI harus menggunakan mata uang rupiah. “Jika ada oknum tertentu masih mencantumkan mata uang non rupiah, diimbau dulu. Kalau membangkang, laporkan,” tegasnya.

FX Bambang Santoso  menambahkan, terkait aturan penggunaan mata uang rupiah memang mutlak harus digunakan. “Saya sampai sekarang sering menegur pengusaha yang tidak tahu, seperti pengusaha elektronik di mal dan biro umrah. Kalau masih promo pakai mata uang asing, langsung saya peringatkan, harus ganti rupiah,” katanya dalam seminar yang juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Batang, Imam Teguh Raharjo ini.

Di akhir dseminar yang dihadiri ratusan kader PDIP Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan dan Batang ini, ditutup dengan pembagian secara simbolis uang rupiah baru oleh Prof Hendrawan. (han/adv/aro)

Latest news

Related news