31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Usaha Mendidik Patriotisme

Oleh: Usman Roin

SIKAP bangga anak bangsa terhadap Indonesia tidak akan pernah terjadi tanpa pendidikan yang tepat. Apalagi bumbu terorisme sepertinya menunjukkan ketidakrelaan –untuk senantiasa muncul– hingga selalu mencari celah menebar ketidaktenteraman di negara tercinta ini. Ditambah juga berita hoax  (bohong) yang akhir-akhir ini menjadi celah baru disharmonisasi bangsa, tentu menjadi PR besar di tengah kecilnya upaya mempertahankan kecintaan kita kepada tanah air.

Perihal menanamkan rasa cinta terhadap Indonesia, tentu akan menjadi lebih ringan bila semua orang punya keinginan untuk saling tenggang rasa memupuknya. Ini artinya, keberadaan institusi pendidikan –mulai  dari ranah keluarga, kemudian sekolah dan masyarakat– menjadi elan vital dalam rangka menanamkan kecintaan anak sebagai generasi muda pada tanah airnya.

Keberadaan keluarga sebagai elemen utama pendidikan patriotisme bisa dilakukan dengan menjaga keutuhan keluarga. Ini berarti, dari rumpun terkecil dan terdekat kedamaian keluarga selalu menjadi nomer satu. Tujuannya, agar jangan sampai disharmonisasi menjadi fakta dan membudaya hingga keberadaan anak –sebagai anggota keluarga– menjadi tidak nyaman, tidak kerasan akibat percekcokan yang sering terjadi.

Selanjutnya sekolah sebagai lanjutan pendidikan keluarga, tidak hanya belajar menyampaikan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) saja. Tetapi anak secara nyata juga diajak belajar bersosialisasi dengan cara membentuk komunitas sebagai bagian dari entitas terkecil dari entitas besar (masyarakat) yang lengkap dengan ragam perbedaan. Sehingga, dari entitas terkecil yang bernama sekolah itulah, proses sosialisasi yang terjadi dalam rentan waktu yang ditentukan akan memberikan pengaruh nilai patriotisme kelak ketika ia besar.

Sejak Dini

Melihat pentingnya korelasi pendidikan dari tiga lingkungan tersebut, maka antara rumah, sekolah dan masyarakat haruslah sejalan beriringan. Namun hemat penulis, usaha mendidik patriotisme perlu ditumbuhkan sejak dini dari keluarga dahulu. Apalagi patriotisme adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi Bangsa dan Negara. Ini artinya, semangat patriotisme –melalui pendidikan keluarga– mengejawantahkan semangat cinta, rela berkorban demi bangsa yang akhir-akhir ini makin pudar kerena kealpaan akibat kemewahan hidup dan pengaruh budaya dari luar.

Oleh karena itu, membangun sikap patriotisme melalui pendidikan bagi penulis bisa dielaborasikan dengan sejak dini anak ditanamkan bahwa setiap warga negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga dan membangun negara Indonesia tercinta tanpa melihat status, golongan ataupun jabatan. Ini artinya, dari keluargalah signifikansi mendidik patriotisme bisa dilakukan, antara lain:

 Pertama, lewat teladan sederhana. Dalam hal ini, untuk menumbuhkan patriotisme orang tua hanya perlu memberi teladan yang sederhana. Misal dengan merawat kebersihan rumah sebagai bentuk nyata cinta tanah kepemilikan. Karena dari nilai kebersihan rumah yang ditanamkan itu akan menjadi bukti bahwa tanggung jawab untuk mencintai tanah kepemilikan –sebagai bagian dari tanah air– haruslah dimulai, lalu meluber ke masyarakat sebagai entitas kebangsaan.

Hal lain, ketika datang hari besar nasional –kemerdekaan satu misal– orang tua bisa mencontohkan dengan ikut mengibarkan atribut bendera sebagai bagian dari simbol nasionalisme. Alhasil, bila teladan tersebut sudah diberikan, maka semangat cinta tanah air akan mudah terwariskan pada mereka dengan sepenuh hati.

 Kedua, sediakan bahan bacaan tentang kepahlawanan. Ini memberi maksud, guna mempertebal sikap patriotisme pada anak, orang tua tidak hanya menceritakan secara verbal tentang perlawanan para pahlawan saat mengusir penjajah. Melainkan juga memberikan bukti dokumentasi yang kemudian bisa dibaca atau dilihat. Tujuannya tidak lain, agar generasi muda tidak mudah alpa atau ahistory, bahkan skeptis, melainkan sudah mulai ikut berpikir bagaimana menjaga kecintaan terhadap tanah air melalui dokumentasi sejarah yang ditorehkan.

 Ketiga, berkunjung ke museum. Ini memberi maksud, peninggalan para pahwalan yang tersimpan rapi, tentu menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya perjuangan pendahulu. Hal ini sekaligus mempertegas kepada anak bahwa berbekal senjata seadanya saja para penjajah bisa terusir. Untuk kemudian di era sekarang, perjuangan cinta terhadap tanah air bisa dikonstruksikan melalui kegiatan-kegiatan positif agar patriotisme bisa berkembang dan terpelihara dari masa ke masa.

Alhasil, siapapun ternyata dapat melakukan tanggung jawabnya menanamkan sikap patriotisme sesuai dengan peran apapun yang diembannya. Hingga, generasi muda merasa dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia, tanpa perlu lagi mempertanyakan apa yang telah diberikan negara padanya, melainkan mempertanyakan pada mereka apa yang akan diberikan untuk memajukan negara dan menyelamatkannya dari disintegrasi bangsa.

Apabila hal itu sudah disadari, akan tertanamlah bahwa tanggung jawab ke-Indonesia-an bukan hanya milik pemerintah dan para pengambil kebijakan, namun merupakan tanggung jawab segenap bangsa melalui nilai-nilai patriotisme yang tertanam dari tiga pilar pendidikan. (*/aro)

Latest news

Related news