31 C
Semarang
Selasa, 18 Mei 2021

Dua Kali Gagal, Sehari Konsumsi 10 Butir Telur

MENGIKUTI program bayi tabung merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh pasangan Bambang Hermawan, 38, dan Retnowati, 38, warga Banyumanik Semarang. Pasalnya, saat itu saluran telur Retnowati harus diangkat karena sebelumnya ia hamil di luar kandungan pada 2008. Belum selesai, satu saluran telur yang tersisa mengalami gangguan dan harus diangkat pula.

Keinginannya untuk memiliki keturunan tidak berhenti. Hingga akhirnya, atas saran dari dokter, pasangan suami istri ini memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung pada 2011.

”Setelah disarankan oleh dokter, kemudian kami cari informasi. Ada beberapa tempat yang tingkat keberhasilannya tinggi. Salah satunya di RS Siloam Surabaya. Kemudian kami pilih di sana dengan pertimbangan jarak,” ujar ibu tiga anak yang mengaku saat program bayi tabung ditangani dr Auky Ginting, dokter yang juga menangani proses bayi tabung pedangdut Inul Daratista.

Retnowati mengaku, sempat dua kali mengalami kegagalan. Namun kegagalan tersebut tidak lantas membuat keduanya menyerah. Upaya terus dilakukan disertai doa untuk bisa memiliki buah hati.

”Setelah saya bersama suami memutuskan untuk operasi saluran telur yang satunya, karena saat itu bengkak dan menurut informasi akan mempengaruhi perkembangan janin, Alhamdulillah penanaman untuk yang ketiga akhirnya berhasil,” kata perempuan asal Jepara ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tidak semudah yang dibayangkan untuk mengikuti program bayi tabung. Banyak perjuangan yang harus dilewati, baik Retnowati maupun pasangannya. Sebelum menguikuti program ini, ia harus mempersiapkan segalanya. Baik biaya, fisik, dan mental.

”Mental harus kuat. Karena dalam mengikuti program ini kan hasilnya hanya berhasil atau tidak. Kalau berhasil sudah pasti bahagia. Kalau tidak, ya mental harus dipersiapkan. Karena banyak juga pasangan yang sampai teriak-teriak ketika diumumkan mereka belum berhasil,” ceritanya.

Selain itu, ia juga harus mempersiapkan diri dengan mengatur pola makan. Salah satuya dengan memakan telur sehari 2 butir. Bahkan setelah menjalani proses di Surabaya, konsumsi telurnya meningkat. Setiap hari ia harus makan 10 butir putih telur selama sebulan.

Ia katakan, semua calon ibu memang harus memakan putih telur untuk asupan protein. Nah, karena hanya putih telur saja yang dimakan, sampai-sampai setiap hari ada pengusaha pastel yang datang untuk mengambil kuning telur sebagai isian makanan ringan yang dibuatnya.

”Selain itu, saya harus minum susu. Tiap pagi harus jalan. Juga makan sayuran seperti brokoli yang hanya dimakan dengan direbus saja. Kemudian buah alpukat. Emang serba tidak enak, seperti orang diet. Tapi ini demi rahimnya bagus,” kenangnya.

Selama mengikuti program bayi tabung itu, berat badannya sempat turun. Namun Retnowati tidak berjuang sendiri. Karena suaminya juga menemaninya berjuang dengan rutin makan semangka merah dan daging kelinci sebelum berangkat ke Surabaya. Hal ini ia katakan agar kualitas sperma sang suami menjadi bagus.

Setelah sampai di Surabaya, mereka masih harus makan daging kelinci. Namun mereka makan tanpa menggunakan vitsin (penyedap rasa), karena memang tidak diperbolehkan.

Perjuangannya tidak berhenti di situ. Setelah sedikit bahagia karena penanamannya berhasil, ia masih melanjutkan perjuangannya. Dengan tiga bayi yang dikandungnya, ia harus bed rest total. Ia tidak boleh banyak gerak, karena membahayakan kandungannya.  Retnowati harus ekstra hati-hati. Ia hanya meninggalkan tempat tidur untuk keperluan buang air saja.

”Makan saya diambilkan. Untuk salat, saya sambil duduk. Bahkan di usia kehamilan 3 bulan sempat dirawat 11 hari karena plasentanya hampir lepas,” ceritanya.

Namun perjuangannya membuahkan hasil yang sangat manis. Kini ia dianugerahi tiga jagoan yang ketiganya tumbuh dengan sehat, tampan, dan aktif. Mereka adalah Abbas Arif Hermawan, Ariq Ibnu Hermawan, dan Athallah Irfan Hermawan yang lahir pada 30 Juli dengan bantuan dr Purnomo Hartanto di RS Panti Wilasa Citarum pada 2013 silam.

”Meski kadang agak kerepotan, tapi kami sangat senang dengan anugerah ini. Dulu waktu hamil itu, kalau gerak, semuanya gerak, rasanya,.. hmmm,” ucap Retnowati didampingi suaminya.

Kepada para pasangan suami istri yang masih berusaha untuk mendapatkan momongan, ia berpesan untuk tetap berusaha dan tidak menyerah. Dan untuk yang mengikuti program bayi tabung, ia katakan agar mempersiapkan segalanya sebelum mengikuti program. ”Terutama harus cari informasi dari yang sudah berhasil, mengenai persiapan kehamilannnya,” ujar dia. (sigit andrianto/aro)

Latest news

Related news