31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Dititipkan di Rahim Wanita Lain, Hukumnya Haram

BAGAIMANA program bayi tabung dari pandangan agama Islam? Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Rofiq, mengatakan, seseorang boleh melakukan program bayi tabung. Dengan catatan, bayi tabung dihasilkan dari sperma pasangan suami istri yang sah. “Bayi tabung  hukumnya mubah (boleh), sebab hal ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama,” katanya.

Meski begitu, bayi tabung merupakan upaya alternatif terakhir dalam kehidupan rumah tangga.  Sedangkan bayi tabung dari pasangan suami istri sah dengan dititipkan di rahim istri lain (misalnya dari istri kedua dititipkan di istri pertama) hukumnya haram. Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia, hukumnya juga haram.

“Sebab, hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam hal kewarisan,” ujarnya.

Dalam fatwa yang dikeluarkan MUI juga menjelaskan bayi tabung yang sperma dan sel telurnya diambil dari selain pasangan suami istri yang sah, maka hukumnya haram. Karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antarlawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina). “Ini berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, yakni untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya,” tambahnya.

Ditambahkan, pasangan suami istri yang salah satu mandul, maka tetap tidak diperbolehkan untuk melakukan bayi tabung. Tetapi boleh untuk mengadopsi anak. Dengan catatan, tetap tidak boleh menutupi nasab si anak yang diadopsi. Begitu juga ketika mengadopsi anak yang tidak diketahui orangtuanya. “Harus dikatakan secara jelas, siapa orangtua aslinya. Jangan sampai ditutupi, karena akan menimbulkan masalah dikemudian hari,” katanya. (fth/aro)

Latest news

Related news