33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Tetap Antar Ibu ke Kelenteng

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu untuk beribadah di kelenteng.” Eko Heru Nur Fathoni

EKO Heru Nur Fathoni atau Made Luan Mase adalah warga keturunan Tionghoa yang merasakan hidup di tengah keluarga berbeda agama. ”Ayah saya muslim, ibu keturunan Tionghoa yang memiliki kepercayaan Konghucu. Saya sendiri muslim,” kata Eko kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/1).

Namun demikian, seiring waktu berjalan, keluarganya ditimpa ’cobaan hidup’ yang membuat keluarga ’goyah’. ”Ibu dan ayah sekarang pisah rumah. Salah satunya  karena beda keyakinan,” kata pemuda yang saat ini menuntut ilmu Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Semarang (USM) ini.

Namun apa boleh buat, masalah itu kini telah menjadi guru kehidupan untuk disikapi secara bijak. Ayahnya tetap memilih jalan hidup dengan beragama Islam. Sedangkan ibundanya tetap di jalur keyakinannya. ”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu (Hanifah Ali atau Lii Xchee, 57) untuk beribadah di kelenteng,” ujarnya.

Hidup di lingkungan Tionghoa, Eko mengaku masih menjalankan tradisi yang tidak bertentangan dengan keyakinannya. ”Misalnya saat merayakan Imlek, saya turut melaksanakan tradisi budaya Tionghoa seperti tukar kue keranjang ke sanak saudara, makan bersama, kumpul bersama, berbagi angpao untuk keponakan-keponakan, dan seterusnya,” kata dia.

Diakui, sewaktu kecil, Eko mengaku tidak asing lagi dengan masakan babi panggang. Sebab, babi panggang menjadi menu favorit saat Imlek tiba, sebagaimana opor ayam saat orang muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). ”Pernah makan itu, waktu kecil. Tetapi begitu dewasa (menjalankan keyakinan muslim) sudah tidak pernah lagi,” ujar pria kelahiran 15 Maret 1990 ini.

Dikatakannya, ibunda tercinta mengedepankan toleransi dan tidak pernah memaksa untuk memercayai keyakinan tertentu. Sehingga ia sebagai muslim pun tetap menjaga kebersamaan meski beda keyakinan. Baginya, ibu adalah sosok yang menjadi bagian hidup. ”Saya merayakan Imlek di Jakarta, karena ibu bersama nenek saat ini tinggal di Jakarta,” ujarnya.

Di Semarang, selain sedang menyelesaikan studi S2 di USM, Eko juga sembari bekerja di Semesta Hotel Semarang. ”Kerja sejak September lalu, sambil menyelesaikan tesis. Selain pulang di Jakarta, kadang juga pulang ke rumah nenek di Purwosari RT 3 RW 3, Sayung, Demak,” katanya. (abdul mughis/aro/ce1)

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bersama Melindungi Masa Depan Anak

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ketahanan dan harmonisasi keluarga sangat penting sebagai salah satu upaya melindungi dunia anak-anak di Jateng. Sebab, di era saat ini banyak...

Selesaikan Pasar Kanjengan, Digelontor Rp 37 Miliar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Proyek pembangunan Pasar Kanjengan tahap II akan segera dilakukan. Kementerian Perdagangan telah menggelontorkan bantuan dana untuk kelanjutan pembangunan pasar tersebut sebesar...

Mohammad Nuh Luncurkan Tiga Buku di Usia 60 Tahun

Sudah lebih dari setengah abad usia Mohammad Nuh. Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu pun bertekad menebus sisa usia dengan melakukan kebaikan yang menyentuh...

Kesandung Hukum Perdata dan TUN, Kejari Siap Bantu Pemkab

BATANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang dalam menjalankan roda pemerintahannya kini akan lebih terarah dan aman. Pasalnya, jika tersandung masalah hukum perdata dan tata usaha...

Hendi Konsisten Gerakkan Warga Bersih-Bersih Masjid

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi terus menggerakkan seluruh masyarakat Kota Semarang agar aktif membersihkan masjid dan musala di lingkungan tempat tinggalnya....

Guru Korban Penipuan Bertambah

JOGJA—Korban penipuan voucher wisata palsu di Gunungkidul, DIY, semakin bertambah. Polsek Wonosari mencatat, setidaknya 30 guru dan karyawan sekolah yang diduga menjadi korban penipuan...