STABIL: Tingkat konsumsi daging sapi di Kabupaten Semarang tidak terpengaruh wabah antraks yang berada di Yogyakarta. Terlihat pedagang daging sapi di Pasar Bandarjo Ungaran tengah sibuk melayani pembeli. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
STABIL: Tingkat konsumsi daging sapi di Kabupaten Semarang tidak terpengaruh wabah antraks yang berada di Yogyakarta. Terlihat pedagang daging sapi di Pasar Bandarjo Ungaran tengah sibuk melayani pembeli. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN – Serangan virus antraks terhadap sapi dan sejumlah warga di Kulonprogo dan Sleman Yogyakarta, tidak mempengaruhi tingkat konsumsi daging sapi di Kabupaten Semarang.

Kondisi tersebut juga sama halnya dengan konsumsi susu sapi yang terpantau masih normal. Dari pantauan dibeberapa pasar tradisional, para pedagang daging sapi tingkat penjualan daging masih normal.

Santoso, 45, padagang daging sapi di Pasar Bandarjo Ungaran misalnya. Dalam sehari penjualan daging sapi dagangannya masih kisaran 60 kilogram. “Pembelian biasa saja, tidak ada pengaruh sama sekali,” katanya, Jumat (27/1).

Harga yang dipatok pun masih seperti sebelumnya, yakni Rp 105 ribu per kilogram. Selama ini ia mendapatkan daging sapi kualitas baik dari para peternak lokal. “Kami tidak pernah beli dari luar Kabupaten Semarang,” katanya.

Dirinya membeli daging sapi melalui suplier yang biasa melakukan pemotongan di rumah pemotongan hewan di Ungaran Barat. “Kalau lewat RPH kan terpantau kesehatan sapi maupun dagingnya,” tuturnya.

Kondisi tersebut nampaknya juga dialami oleh para pengusaha minuman susu kemasan seperti halnya resto Cimory on The Valley. Humas Cimory on The Valley, Arief Prabowo mengatakan adanya virus membahayakan tersebut tidak mempengaruhi jumlah pengunjung di resto tersebut.

Cimory on The Valley merupakan resto yang menyediakan hasil olahan susu sapi kedalam bentuk kemasan siap saji. “Tidak ada pengaruh sama sekali. Kunjungan normal seperti sebelum ada antraks di Yogyakarta,” katanya. (ewb/zal)