Pemprov Didesak Bantu Ngesti Pandawa

883

SEMARANG  – Grup Wayang Orang Ngesti Pandawa sejak 2015 tidak lagi mendapatkan bantuan dana hibah dari Pemprov Jateng. Adanya aturan dari Kemendagri yang mensyaratkan untuk mendapatkan hibah harus berbadan hukum menjadi salah satu penyebabnya.

Ketua Ngesti Pandawa, Joko Mulyono berharap pemprov memberikan apresiasi dan memperhatikan Ngesti Pandawa. Akibat tidak adanya bantuan, otomatis berbagai kegiatan menjadi tidak maksimal. Padahal selama ini Ngesti Pandawa sudah ikut berperan dalam pembinaan dan nguri-uri kebudayaan Jateng. ”Sudah dua tahun ini tidak ada bantuan, akhirnya pengurus harus patungan sendiri untuk menutup biaya kegiatan,” katanya.

Ia menambahkan, Ngesti Pandawa mendapatkan bantuan dari pemprov terakhir 2014. Bantuan itu sangat berharga karena bisa menghidupkan dan menutup operasional. Meski sudah tidak ada bantuan, Ngesti Pandawa tetap melakukan pentas setiap Sabtu malam. Ia mengaku sudah mengadu ke DPRD Jateng dan berharap ada dorongan agar bisa kembali mendapatkan bantuan. ”Ini bentuk komitmen kami untuk nguri-uri wayang orang,” ujarnya.

Ia berharap pemprov bisa lebih memperhatikan grup kesenian itu. Sebab dalam satu tahun anggaran yang diajukan tidak lebih dari Rp 350 juta. Itu sudah untuk kegiatan pentas serta mencari bibit-bibit unggul wayang orang di Jateng. ”Kami berharap ada bantuan dan perhatian. Jangan sampai anak-anak muda kita lupa dan tidak tahu dengan wayang orang,” tambahnya.

Ketua Komisi E DPRD Jateng, AS Sukawijaya mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami Ngesti Pandawa. Pihaknya langsung bergerak cepat, dan ternyata setelah ditelusuri harusnya Ngesti Pandawa mendapatkan bantuan rutin dari APBD Jateng. Karena sudah ada SK Gubernur No 430/7 Tahun 2014. ”Itu harusnya sudah jadi acuan, pemprov bisa mengeluarkan anggaran untuk Grup Wayang Orang Ngesti Pandawa,” katanya.

Dewan mengaku akan terus memperjuangkan keberadaan Ngesti Pandawa. Sebab perannya cukup besar untuk ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat Jateng. Terlebih sudah berdiri sejak 1937 dan masih tetap eksis meski tidak mendapatkan bantuan dari pemprov. ”Grup Ngesti Pandawa sudah merupakan aset pemprov. Jadi harus ada intervensi. Apalagi perannya sebagai ujung tombak wayang orang di Jateng,” tambahnya.

Sementara itu, Pemkot Semarang akan menjaga eksistensi Wayang Orang Ngesti Pandawa. Salah satunya dengan memasukkan agenda pertunjukan Ngesti Pandawa ke dalam paket wisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Masdiana Safitri menjelaskan, keberadaan Ngesti Pandawa tidak pernah lepas dari perhatiannya. Apalagi, grup wayang orang ini sudah menjadi ikon budaya Kota Semarang. ”Sebenarnya sudah dari dulu kami berupaya mengangkat kembali kejayaan Ngesti Pandawa,” ucapnya, Jumat (27/1).

Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng pun kerap bekerja sama untuk menarik penonton agar mau menyaksikan wayang orang yang lahir sejak 1940 silam ini. Main wayang orang bareng, misalnya. Pejabat pemprov dan pemkot, pentas bareng Ngesti Pandawa memainkan sebuah lakon dengan kemasan humor.

”Diharapkan, ini bisa nguri-uri budaya Jawa. Kami juga sudah mengenalkan pelajar dengan wayang orang. Harapannya, mereka muncul keinginan untuk menonton Ngesti Pandawa secara langsung,” tegasnya.

Dalam waktu dekat ini, Masdiana akan memasukkan jadwal pentas Ngesti Pandawa ke dalam paket wisata Kota Semarang. Tentu dengan kemasan yang apik. Harapannya, jadwal manggung Ngesti Pandawa setiap pekan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) bisa menarik wistawan seperti sendratari Ramayana di Candi Prambanan. ”Kami juga akan merenovasi TBRS agar lebih rapi. Agar pengunjung nyaman di sana,” imbuhnya. (amh/fth/ric/ce1)