31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Rektor Harus Tanggung Jawab

”Sanksi yang diberikan tidak hanya kepada pelaku, pihak kampus juga harus tanggung jawab.” Muhammad Nasir, Menristek Dikti

SEMARANG – Kasus kekerasan yang masih terus terjadi di dunia perguruan tinggi mendapatkan sorotan tajam dari Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir. Pihak kampus harus berani memberikan sanksi tegas berupa pemecatan.

Hal tersebut ditegaskan Nasir saat kunjungannya ke Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jumat (27/1) kemarin. Dicontohkan tiga pelaku kekerasan yang mengakibatkan tewasnya tiga mahasiswa dalam kegiatan pendidikan dasar (Dikasar) mahasiswa pencinta alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UUI) Jogjakarta belum lama ini. ”Kalau ada pelanggaran, apalagi masuk tindak pidana harus ditindak tegas, bahkan bisa diskorsing atau dikeluarkan dari kampus. Biar kepolisian yang mengambil tindakan atas kasus pidananya,” katanya yang hadir dalam Dies Natalis UNNES ke-52.

Nasir menegaskan, kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus sudah tidak bisa ditolelir lagi, karena mencoreng nama institusi pendidikan tinggi. ”Kami juga akan meminta pertanggungjawaban dari pihak kampus jika ditemukan lagi kasus kekerasan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Dia menambahkan, pada awal 2017 ini tidak boleh lagi ditemukan adanya kasus bullying, kekerasan verbal, fisik ataupun psikologi. Sanksi yang diberikan tidak hanya kepada pelaku, pihak kampus juga harus mempertanggungjawabkan. ”Saat ini fokus sebagai universitas bagaimana meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan, bagaimana membangun universitas makin berkualitas. Bukan radikalisme ataupun kekerasan dan bullying terhadap junior,” imbuhnya.

Nasir mewajibkan semua rektor di Indonesia, baik negeri ataupun swasta untuk bisa menjaga wilayah kampus dari kekerasan dan bullying. ”Saya wajibkan semua rektor untuk turun tangan dan bertanggung jawab, pokoknya tidak boleh lagi ada kekerasan di dalam kampus,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor UNNES Prof Fathur Rokhman memastikan di kampusnya tidak ada kasus kekerasan dan bullying terhadap junior dari senior dalam kegiatan apa pun. ”Selama ini belum ada dan tidak pernah terjadi,” katanya.

Terkait kegiatan Dies Natalis, UNNES mendapat akreditasi A Nomor 3174/SK/BAN-PT/Akred/PT/XII/206. Menurut Fathur, akreditasi adalah salah satu penanda penting dalam sejarah Universitas Berwawasan Konservasi ini. Di satu sisi capaian itu patut disyukuri dan dibanggakan. ”Akreditasi memperkuat kepercayaan publik bahwa UNNES adalah perguruan tinggi unggul. Pengakuan demikian tidak hanya bersifat institusional, tetapi juga pada individu sehingga membawa manfaat besar bagi mahasiswa dan alumni,” tandasnya. (den/zal/ce1)

Latest news

Related news