31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Terkesan dengan Surat Al Baqarah Ayat 2

HAJI Iskandar El Hasani, Msi, CI, RFP atau dikenal dengan nama Cina, Chang I Pao sudah mulai belajar Islam sejak 1985. Saat itu, usianya 20 tahun. Beberapa bulan belajar Islam, alumni SD Xaverius Bandar Lampung ini memantapkan diri memeluk agama Islam pada tahun yang sama.

Diakuinya, proses menjadi mualaf tidak begitu sulit. Karena ayahnya, Chang Gwen Kui, yang awalnya juga seorang pemuka agama Kristen di Lampung lebih dahulu memeluk Islam. Justru saat ayahnya mengutarakan untuk berganti keyakinan, cukup mengejutkan keluarganya. Sebab, saat itu ayahnya baru selesai mengikuti pendidikan sekolah Bibel (sekolah Alkitab). Tapi begitu pulang ke rumah, ayahnya justru memutuskan diri menjadi seorang muslim.

”Awalnya ayah (Chang Gwen Kui) yang masuk Islam lebih dulu, kemudian anak-anak dikasih kebebasan memilih agama. Saat itu, ayah sempat membacakan surat Al Baqarah ayat 2, di situlah hati saya tersentuh,” kenang Iskandar saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Selasa (24/1).

Hingga akhirnya dari 6 saudaranya, tiga saudara laki-laki mengikuti jejak sang ayah menjadi muslim, termasuk ibunya. Sedangkan tiga saudara perempuannya masih menganut agama lama.

Alumni SMP Negeri 2 Lampung dan SMA Negeri 57 Jakarta ini mengaku belajar Islam diawali pada 1985. Saat itu, ia belajar baca Alquran kepada H Murjono. Kemudian pada 1987, ia belajar Islam di Pondok Pesantren Annida Salatiga di bawah asuhan almarhum KH Ali Asad.

Tak hanya itu, untuk menggali ajaran Islam lebih mendalam, alumni IAIN Salatiga ini juga belajar otodidak dari buku-buku dan menyerap ilmu dari dialog yang dilakukan bersama kiai dan ulama yang ditemuinya.

Puncaknya, pada 1997, Iskandar yang pernah kuliah sarjana di Universitas Pembangunan Indonesia Jakarta  mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji yang dibiayai oleh Robitoh Alam Al Islami melalui Yayasan Karim OEI Jakarta.

Alumni mahasiswa program Magister Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini mengaku semua itu tidak lepas dari hidayah Allah SWT, karena dalam proses pembelajaran yang dilaluinya selalu merasa ditunjukkan jalan untuk memilih Islam sebagai agama yang dianutnya. Bahkan sekalipun sudah memilih Islam, keluarga besarnya walaupun berbeda keyakinan tetap saling toleransi dan mengutamakan perbedaan tetapi tunggal ika. Hanya saat kali pertama memeluk Islam memang banyak tetangganya dan orang-orang selalu mengamatinya saat menjalankan ibadah salat, karena dianggap aneh.

”Keluarga besar saya mayoritas nonmuslim, kalau dari keluarga besar memang sempat mempertanyakan di awal-awal, namun semua sudah biasa sekarang dan toleransi tetap terpupuk dengan baik. Yang paling berkesan awal memeluk Islam itu saat puasa, karena nggak biasa sahur, jadi seringnya makan mi instan,” kenangnya sambil tersenyum.

Saat perayaan Imlek, Iskandar mengaku kadang ikut hadir untuk sekadar bergembira bersama. Perayaan itu biasa dilakukan dengan cara kumpul keluarga dan makan bersama. Hanya saja makanan yang dibawa semua sudah saling memahami antara muslim dan nonmuslim. Sama halnya dengan kegiatan bersih-bersih kubur atau peribadatan dan persembahyangan, juga kadang ia ikuti bersama seluruh keluarga besarnya. Namun ia hanya hadir mendampingi kalau bukan makam keluarga muslim.

Termasuk Imlek kali ini, organisasinya bersama PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) Jateng juga sudah merencanakan membuat acara besar berupa makan bersama ’Lontong Opor Cap Go Meh’ yang akan digelar di Masjid Agung Jawa Tengah.

Suami Harni Yunita ini mengaku, sebagai orang yang pernah menganut ajaran Kristen dan Konghucu, sebelumnya pernah mengonsumsi daging babi dan lainnya. Sementara untuk acara kelenteng, diakuinya, sekarang sudah tidak pernah dilakukan, kecuali saat ada undangan budaya atau acara sosial. Termasuk acara Kongco atau Makco, ia hanya mengerti, namun tidak melakukan, karena sebelumnya ajaran agamanya adalah Kristen, sehingga tidak begitu memahami acara tersebut.

Ke depan, Iskandar memiliki cita-cita mulia mendirikan pondok pesantren, masjid, lembaga pendidikan, pusat kursus, kebudayaan Islam, ekonomi dan rumah tinggal dengan konsep Arwana (Arab, Jawa dan Cina). Semua itu sudah tahap pembangunan di atas lahan seluas 200 meter persegi di Jalan Argoloyo  RT 01 RW 11 No 18 A, Nganglik, Ledok, Kota Salatiga. Namun demikian bangunan itu saat ini belum selesai secara maksimal, karena prosesnya dibuat secara bertahap.

Saat ini, Iskandar menjadi dosen tetap non PNS Fakultas Ekonomi Bisnis Islam di IAIN Salatiga. Dia juga Direktur Syamila Kids, coach dan motivator pada Sinergi Lintas Sukses (lembaga training), serta Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat‎ Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng. Iskandar juga menjabat Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, serta pengurus PSMTI.

Dari perkawinannya dengan Harni Yunita, Iskandar dikarunia tiga anak, yakni Anisa Rahmayanti yang saat ini sedang menjalani kuliah di Tiongkok, Ardian Rizki Ramadani mejalani pendidikan di Pondok Pesantren Al Irsyad Tengaran‎, Kabupaten Semarang, dan Amira Rifda Rahmania, masih duduk di kelas V SDIT Nurul Hikmah, Salatiga. (joko susanto/aro/ce1)

Latest news

Related news