31 C
Semarang
Minggu, 9 Mei 2021

Mengenal Ajaran Islam dari Tukang Batu

Nah, dalam pencarian jati diri itu, saya akhirnya kenal Pak Min. Jadi, yang mengenalkan ajaran Islam pertama ke saya seorang tukang batu, bukan ustad.” H Maksum Pinarto

Hari ini, warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek 2568. Tak sedikit, warga keturunan Tiongkok ini memutuskan menjadi mualaf atau memeluk agama Islam. Banyak kisah menarik sebelum membuat keputusan penting dalam hidup tersebut?

HAJI Maksum Pinarto adalah salah satu pengusaha warga Tionghoa. Namun, sejak kecil dia telah memeluk agama Islam. Maksum memutuskan menjadi mualaf setelah bertemu dengan seseorang yang akrab disapa Pak Min, warga Mranggen, Demak. Pertemuan itu terjadi ketika Pak Min menjadi mandor tukang bangunan yang sedang mengerjakan pembangunan rumah orang tua Maksum di Gambiran, Semarang Tengah.

”Saat itu saya masih SD. Saya sering ngobrol dan bercanda sama Pak Min. Saya lihat Pak Min itu tekun salat. Dan, sebelum salat selalu mandi dan wudu. Jadi kalau salat bersih terus, di situ saya merasa penasaran,” ungkap pria yang akrab disapa Maksum ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/1) kemarin.

Begitu lulus SD, Maksum melanjutkan ke SMP Thonya Hwie di Jalan Plampitan, Semarang Tengah. Saat itu, Maksum semakin akrab dengan Pak Min. Sepulang sekolah, dia sering diskusi soal agama Islam. Ia juga dikenalkan ajaran-ajaran agama Islam, termasuk membaca surat Al Fatihah.

”Itu terjadi sekitar tahun 1965, waktu saya masih kelas 1 SMP. Sekarang SMP Thonya Hwie sudah ditutup,” kenangnya.

Maksum mengaku sangat tertarik dengan isi bacaan surat Al Fatihah. Menurut dia, dalam surat itu sangat memuji kebesaran Sang Maha Pencipta.

”Di situ saya berpikir, surat Al Fatihah ternyata di dalamnya ada ikatan antara Allah dan manusia. Manusia dikasih pilihan taat di jalan Allah. Jadi, menurut saya, di situ tidak ada pilih kasih, siapa pun manusia yang dicintai Allah ya harus taat kepada Allah,” katanya.

Dari situ, Maksum semakin tertarik untuk mendalami ajaran-ajaran agama Islam yang disampaikan oleh Pak Min. Hingga akhirnya Maksum dengan ikhlas hati menjadi seorang mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

”Saya mengucapkan kalimat syahadat di depan Pak Min. Ya, di dalam bangunan rumah itu,” ujarnya.

Sejak itu, Maksum semakin rajin mendalami ajaran-ajaran Islam kepada Pak Min. Bahkan, ia sampai belajar di tempat tinggal Pak Min di Mranggen. ”Saya di sana mendalami ajaran Islam, tapi bukan di pondok pesantren,” katanya.

Diakui, orang tua dan saudara-saudara Maksum saat itu adalah penganut ajaran Konghucu. Selain itu, ada yang memeluk agama Kristen. Maksum sendiri sebelum menjadi mualaf, kerap beribadah di Gereja Baptis Jalan Gajahmada mengikuti Buble Study.

Nah, dalam pencarian jati diri itu, saya akhirnya kenal Pak Min. Jadi, yang mengenalkan ajaran Islam pertama ke saya seorang tukang batu, bukan ustad,” katanya.

Diakuinya, saat awal menjadi seorang muslim, orang tua dan saudara-saudaranya tidak ada yang tahu. Justru Maksum sendiri yang akhirnya terbuka pada orang tuanya. Anehnya, saat menceritakan agama baru yang dipeluk, keluarganya tidak ada yang menentang.

”Orang tua saya hanya berpesan, jangan sampai nanti ngisin-ngisini orang Tionghoa dan orang Islam. Jangan judi, jangan makan babi. Bahkan kalau makan, piringnya lauknya dibedakan,” kenang putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Mak Soek Law (asli Tiongkok) dan Raniwati (asli Semarang) ini.

Saat ini, Maksum satu-satunya yang memeluk agama Islam. Namun hal ini tidak menjadikan kendala dalam berkumpul di keluarganya. Ia tetap bersilaturahmi dengan sanak saudaranya.

”Keluarga saya semua masih Konghucu. Sembahyangnya ke kelenteng. Kalau dari istri memang ada yang agamanya Kristen,” jelasnya.

Dari pernikahannya dengan Fina Fiolita, 50, asal Singkawang, Maksum dikaruniai dua anak. Putri sulungnya, Klara Violita sudah kuliah, sedangkan anak kedua bernama Kalvin Rasiko, masih duduk di bangku SMA Nusa Putra. ”Alhamdulillah anak dan istri saya muslim semua,” kata pria yang sudah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci ini.

Dalam membina rumah tangga, Maksum selalu mengajak anak istrinya rajin beribadah. Namun dia tidak membatasi pergaulan anak-anaknya. ”Kalau saya masalah agama tidak bisa memaksakan, anak ikut sendiri. Klara bergaul dengan komunitas Islam, juga ada Kristen juga. Di rumah salat bareng, berbuka puasa bareng,” ujarnya.

Maksum juga mengaku, sering berziarah ke tempat makam Walisongo. Ia punya pengalaman menarik dalam perjalanan memeluk agam Islam, yakni ketika hendak menjalankan salat di sebuah masjid di daerah Purwodadi.

”Pas mau salat di masjid, saya mau wudu dikira mau kencing. Bilangnya di sana pak toiletnya. Terus saya jelaskan, akhirnya warga itu hanya senyum, dan akhirnya usai salat malah ngobrol bareng,” kenangnya.

Meskipun telah memeluk agama Islam, Maksum tidak menjauh dengan masyarakat sekitar yang nonmuslim. Termasuk dengan saudara-saudaranya sesama keturunan Tionghoa. ”Kita saling silaturahmi dan berkumpul. Termasuk di acara Imlek, bagi saya yang penting tidak mengikuti kontak ritual agamanya,” katanya.

Saat tahun baru Imlek ini, Maksum selalu berkumpul di rumah orang tuanya di daerah Sriranda. Ia tetap mengikuti kontak sosialnya, tapi bukan kontak ritualnya.  ”Ya, masih bagi-bagi angpao ke keponakan dan keluarga besar. Anak-anak saya juga terima angpao. Juga bikin opor cap go meh,” akunya.

Di Kota Semarang, Maksum menjabat Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Semarang. Organisasi tersebut diikuti sejak lama, dan mulai menjadi pengurus sejak 1980. ”Sekarang ini di Jateng terdapat 4.000 anggota, sedangkan di Kota Semarang 400 anggota,” ujar pengusaha di bidang penyaluran tenaga kerja ini.

Tak hanya itu, Maksum juga menjadi pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Bahkan, kesuksesan usaha yang dijalankan membuat hatinya selalu berkeinginan menyebarkan ajaran agama Islam dengan membangun masjid.

”Saya termasuk pendiri yayasan Masjid H Muhammad Cheng Ho. Ada 18 masjid yang saya bangun, di antaranya di Surabaya, Semarang, Probolinggo, Madura, Palembang, dan Banyuwangi masjid sama pondok modern,” terangnya.

Alasan memberikan nama Cheng Ho, Maksum menjelaskan sosok Cheng Ho sesorang yang cerdas. Bahkan, sosok Cheng Ho menjadi kenangan semua golongan etnis.

”Cheng Ho punya misi ketatanegaraan, budaya, perdamaian, dan pengetahuan pertanian, kedokteran, dan astrologi. Dia jadi kenangan etnis semua golongan,” katanya. (m hariyanto/aro/ce1)

Latest news

Related news