31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Terbuka bagi Semua Kalangan, Banyak Ukir Prestasi

DOKUMEN PRIBADI
DOKUMEN PRIBADI

Sejak diterbitkannya Keputusan Presiden No 6 Tahun 2000 oleh Presiden Abdurahman Wahid, olahraga barongsai segera hidup lagi dan menjadi atraksi yang memikat di seluruh Indonesia. Kelompok barongsai dan liong pun bermunculan, termasuk di Kota Semarang.

SIGIT ANDRIANTO

BERDIRI sejak 2000 atau sudah hampir 17 tahun, Kelompok Barongsai Elang Terbang Dari Timur (ETDT) Lion dan Dragon Dance Troupe tetap eksis hingga sekarang. Bahkan, kelompok barongsai yang bermarkas di Jalan Seteran Tengah I No 11 Semarang Tengah ini telah memenangi berbagai kejuaraan tingkat lokal, regional, nasional hingga internasional. Salah satunya pada 2006 menjadi juara III dalam kejuaraan dunia kategori North Lion di Surabaya. Dan yang terbaru, perkumpulan ini menjadi Juara Harapan II kejuaraan Barongsai Traditional ITC Cup VIII/2016.

”Kemarin juga meraih medali perunggu di ekshibisi PON 2016,” ujar Candra Wiro Utomo, pemilik dan pelatih Elang Terbang Dari Timur (ETDT) Lion dan Dragon Dance Troupe kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ditemui di rumahnya yang juga menjadi basecamp kelompok ini, Candra menceritakan, EDTD Lion dan Dragon Dance Troupe awalnya berdiri dari sasana perkumpulan yang sudah lama. Kemudian agar bisa lebih berkembang, dibentuklah kelompok barongsai ini.

Hingga kini anggota aktif ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe ada sekitar 40 orang dengan usia termuda adalah usia siswa kelas 1 SMP. Anggota termuda ini, bahkan telah menyabet peringkat 5 nasional. ”Anggota ini dari awal saya yang latih. Namanya Dani Mahendra,” kata pria ramah ini menceritakan prestasi yang diraih.

Mengenai keanggotaan, ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe dikatakan Candra, 80 persennya terdiri atas orang pribumi. Siapa pun yang memiliki niat dan minat, kata dia, dapat bergabung untuk menjadi anggotanya.

”Tidak harus dari keturunan Tionghoa, kita terbuka untuk siapa pun. Karena barongsai sekarang kan sudah dimasukkan dalam kategori olahraga dalam KONI,” jelasnya.

”Kita campuran. Dan barongsai ini menjadi alat pemersatu bangsa. Ada pemain yang jilbaban juga lho,” timpalnya sambil menunjukkan dokumentasi anggota berjilbab saat memainkan Liong.

Sebagai pelatih dan pemilik ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe, Candra mengaku awalnya tertarik dengan barongsai karena sedari kecil ia sudah dikenalkan dengan olahraga ini oleh orang tuanya.

”Orang tua sudah berkecimpung di dunia ini. Sekarang saya meneruskannya sebagai hobi. Latihan juga dari orang tua,” ujar pria yang juga melatih di beberapa kota di Indonesia seperti Sumbawa, Bangka Belitung, Kupang, Bali, Bogor, dan Lampung ini. Ia bahkan sudah mulai melatih memainkan barongsai sejak kelas 3 SMP di Rembang.

Hingga kini, kelompok barongsainya telah tampil di berbagai tempat. Untuk berbagai acara pula tentunya. Baik di wilayah Pulau Jawa maupun Bali. ”Macam-macam, biasanya tampil pada acara ulang tahun, pembukaan, dan acara agama. Dan paling sering ya saat Imlek pastinya,” kata dia.

Dalam setiap penampilannya, lanjutnya, ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe selalu menggunakan barongsai buatan sendiri, karena memang dirinya memproduksi barongsai. Produksi ini, dikatakan olehnya, sudah dimulai sejak zaman kakeknya. Ia merupakan generasi keempat dalam membuat barongsai ini.

”Kita pakai produksi sendiri. Masak produksi sendiri mau pakai dari orang lain,” ujarnya sembari tertawa.

Dari semua penampilannya, ia menceritakan bahwa penampilan dalam pertandingan di ITC lah yang paling membuat dirinya dan tim terkesan. Perjuangan anggota ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe bisa terbayar dengan prestasi yang dapat dibawa pulang.

”Paling berkesan, karena saat tampil di Surabaya itu, sebenarnya ada satu pemain kami sakit. Penyebab sakitnya agak lucu. Ceritanya sampai di hotel masih ngantuk. Nah, saat bersandar di pembatas depan lobi hotel, dia ngglundung. Jadi, tanding dalam posisi tangannya memar. Tapi malah juara,” ceritanya bangga.

Ditanya mengenai besar kecilnya honor yang diterima, ia mengatakan bahwa untuk memainkan barongsai tidak bisa diukur dengan materi. Secara materi, nominal tidak sebanding dengan perjuangan yang dilakukan oleh pemain. Di dalam barongsai, kebersamaan lah yang mampu membuat mereka dapat bertahan dan mengukir banyak prestasi.

”Kebersamaan yang kita cari. Istilahnya makan nggak makan yang penting kumpul,” ujar pria yang mengaku paling banyak menerima job saat Imlek ini.

Ia menambahkan, di dalam barongsai ada salam empat penjuru lima samudra, semua menjadi saudara. Barongsai, kata dia, tujuannya adalah untuk mencari senang, mencari teman, dan saudara.

Pada perayaan Imlek tahun ini, kelompok yang selau mengadakan latihan rutin setiap  Minggu, Rabu dan Jumat di lapangan Kecamatan Semarang Tengah ini akan tampil di beberapa tempat. Dengan membagi anggotanya dalam beberapa tim, ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe akan tampil di Alam Indah, Kampung Laut, Tanjung Laut, Hotel Patrajasa, dan beberapa lainnya dengan membagi setiap tim 15-20 orang.

Menilik kelangsungan barongsai ke depan, Candra menceritakan bahwa cukup susah untuk mencari generasi penerus. Sebab, tidaklah mudah untuk menemukan orang yang benar-benar minat dan niat bergelut di dunia barongsai.

”Kalau yang mau sih banyak. Soalnya ini olahraga yang masih awam. Masyarakat tahunya seni budaya. Padahal sudah diakui KONI dan pada 2020 nanti resmi dipertandingkan di PON  Papua,” kata dia.

Dibanding kelompok barongsai lainnya, kelompok yang memiliki akun Facebook @etdtSemarang dan Instagram @etdt268 ini lebih dikenal di masyarakat. ETDT Lion dan Dragon Dance Troupe memiliki keunggulan yakni memiliki North Lion atau Beishi. Di Semarang, untuk saat ini, hanya kelompok barongsai inilah yang memilikinya. ”Orang lebih kenal dengan sebutan Pekingsay,” ujarnya.

Untuk bisa terus meraih juara, dan tetap memberikan penampilan terbaik, kekompakan menjadi salah satu hal yang wajib untuk selalu dijaga. Pasalnya, untuk memainkan barongsai ini, dua orang harus menjadi satu. ”Pokoknya latihan yang giat, keras, dan pantang menyerah. Dan jangan pernah lelah mencoba sesuatu yang baru. Dalam artian, proses pelatihan yang baru itu wajib,” tegasnya.

Ke depan, Candra menargetkan ETDT di PON 2020 bisa meraih medali emas. ”Kalau perlu go international,” harapnya.

Tidak ada yang susah bagi Candra dan semua anggotanya dalam mencapai obsesi tersebut. Selama ada niat, gerakan-gerakan yang semulanya sangat susah akan dapat dikuasai dengan baik. Meskipun pernah mengalami kecelakaan saat latihan, anggotanya selalu bersemangat untuk dapat membawakan olahraga yang tidak pernah absen dalam setiap perayaan Imlek ini. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news