31 C
Semarang
Rabu, 5 Mei 2021

Dirut RAW Diperiksa 2 Jam

SEMARANG – Direkrut Utama Biro Umrah dan Haji PT Rihlah Alatas Wisata Ahmad Fuadi diperiksa selama dua jam oleh penyidik Sat Tipikor Polrestabes Semarang, Kamis (26/1). Pemeriksaan sebagai saksi terkait dugaan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Eko Agung Raharjo.

Fuadi menjalani pemeriksaan mulai pukul 10.00 sampai 12.00. Di hadapan penyidik, Ahmad Fuadi dicecar 17 pertanyaan seputar hubungan kerja sama antara RAW pusat dengan Agung yang menggunakan nama biro miliknya.

”Ini kedua kalinya yang bersangkutan kami panggil untuk diperiksa sebagai saksi. Hasil pemeriksaan, RAW Pusat tidak pernah memerintahkan membuka kantor cabang kepada Agung, hanya MoU,” ungkap Kasubnit Tipikor Satreskrim Polrestabes Semarang Aiptu Arief Setiawan.

Namun demikian, pada kenyataannya Agung mengaku sebagai Kepala Pimpinan Cabang RAW di Kota Semarang. Bahkan, pada proses mencari calon jamaah, Agung juga membentuk agen dengan menarik biaya yang di luar kewajaran. ”Ini yang kita cari asetnya (Agung). RAW pusat juga menyatakan sudah putus hubungan dengan Agung,” jelasnya.

Sementara, Ahmad Fuadi mengaku pihaknya sangat dirugikan oleh tersangka Agung yang mencari calon jamaah dengan mengatasnamakan Kepala Cabang RAW di Kota Semarang.

”Kami dari RAW Pusat sangat dirugikan oleh saudara Agung yang telah memakai nama Rihlah Alatas Wisata. Sehingga nama kami yang ada di seluruh Indonesia tercoreng. Dengan itu kami mengklarifikasi,” ungkapnya usai pemeriksaan.

Menurut Fuadi hubungan RAW dengan Agung hanya sebatas MoU tertanggal 21 Oktober 2016 dan berakhir 1 Desember 2016 lalu. Bahkan atas perbuatan tersangka, pihak perusahaan RAW Pusat juga mengalami kerugian mencapai ratusan juta. ”Kerugian sekitar Rp 400 sampai Rp 500 juta dari booking-an pesawat dan hotel yang hangus. Masalah itu mungkin kami bisa carikan solusinya. Tapi yang sangat merugi adalah nama baik kami. Apalagi kami sudah hampir 17 tahun. Sementara kerja sama kami dengan Agung hanya kisaran dua bulan,” jelasnya.

Pihaknya juga sangat menyayangkan terhadap tersangka yang telah membentuk agen untuk mencari calon jamaah. Pasalnya, uang yang ditarik Agung dari agen tidak sesuai dengan kesepakatan MOU dengan PT RAW Pusat. ”Agung ini menjual harga kepada agen Rp 10 sampai Rp 13 juta. Padahal di MoU kita menjual harga Rp 23 juta. Kalau kita tanyakan dengan pihak kepolisian motivasinya biar mendapat jamaah banyak. Tadi ada 17 pertanyaan dari penyidik,” katanya.

Pihaknya juga mengakui RAW Pusat tidak lagi memiliki agen-agen di wilayah termasuk di wilayah Jawa Tengah. Sehingga kepada masyarakat yang ingin berangkat umrah melalui PT RAW langsung berkomunikasi dengan Pusat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terulangnya kembali kasus serupa. (mha/zal/ce1)

Latest news

Related news