31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Sayuran Hidroponik Layak Masuk Swalayan

Usaha sablon yang dirintis Sekolah Luar Biasa (SLB) Dena Upakara disambut baik pasar luar daerah. Produk dari hasil usaha sablon kaus dan pembuatan berbagai jenis baju sudah mendapatkan pesanan dari Papua dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Begitu juga dengan usaha kuliner dan pertanian organik mulai laku di pasaran. Ketua Yayasan Dena Upakara, Suster Yuli mengungkapkan, dibukanya ragam bidang usaha produktif di kampusnya untuk mengasah keterampilan dan merangsang jiwa entrepreneurship siswi sekolah. Tujuannya, agar siswi usai lulus sekolah nanti, lebih siap menghadapi tantangan hidup, meski dengan berbagai keterbatasan.

“Memiliki bekal berupa keterampilan akan sangat bermanfaat bagi anak-anak kami. Harapannya mereka kelak bisa lebih mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun,” tegas Suster Yuli di sela menerima kunjungan Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagiyo beserta anggota Komisi D DPRD Handayani, dan mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Wonosobo, Agus Purnomo ke SLB Dena Upakara, Rabu (25/1).

Mengenai usaha sablon kaus dan konveksi yang mulai diminati pasar luar daerah, menurut Yuli, usaha tersebut belum lama. Usaha sablon baru saja dimulai setelah mendapat bantuan peralatan kerja dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah untuk melatih keterampilan peserta didik.

Semangat jajaran dena upakara untuk maju dan mandiri mendapat apresiasi positif dari Wakil Bupati Agus Subagiyo. “Ini luar biasa karena ternyata di balik segala keterbatasan, anak-anak Dena Upakara ini mampu menelurkan karya-karya yang layak diterima pasar,” ungkap wabup.

Bahkan Agus berujar bahwa produk yang dihasilkan, mulai dari produk konveksi, kuliner hingga sayuran hidroponik, layak masuk ke pasar swalayan maupun pasar luar daerah. “Sayurannya sangat berkualitas, dan saya pikir ini harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, bahkan mungkin bisa menembus luar Jawa,” tandasnya.

Pujian serupa juga disampaikan anggota Komisi D, Handayani, saat melihat proses pembuatan baju di bengkel konveksi. “Baju dan kaus, sampai aneka kerajinan berbahan kain yang diproduksi juga sudah sama, bahkan banyak yang lebih bagus daripada yang di toko modern,” kata Handayani. (cr2/lis)

Latest news

Related news