31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Kebocoran Parkir Dimakan Jukir

KENDAL—Dinas Perhubungan Kendal mengakui banyak kebocoran dalam pengelolaan parkir di Kendal. Kebocoran disinyalir karena lemahnya manajemen dalam pengelolaan titik parkir dan banyaknya juru parkir (jukir).

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Muhamad Toha mengatakan bahwa sedikitnya ada 212 titik parkir yang tersebar di seluruh wilayah di Kendal. Tapi, kenyataannya pendapatan asli daerah (PAD) dari parkir di Kendal ini masih sangat kecil. Yakni hanya Rp 220 juta pada tahun 2016.

PAD tersebut menurutnya sangat jauh dari target PAD yang telah ditetapkan tahun sebelumnya. Yakni sebesar Rp 436 juta. “Padahal dari jumlah titik parkir yang ada, potensi PAD dari parkir yang bisa dihasilkan bisa mencapai Rp 4 miliar,” tuturnya.

Makanya, tahun ini pihaknya menaikkan target PAD parkir menjadi Rp 650 juta. Target tersebut menurutnya tidaklah berlebihan. Karena jika setiap titik parkir dikelola dengan baik, pihaknya yakin PAD Kendal bisa mencapai Rp 4 miliar lebih.

“Kelemahannya adalah dalam realisasinya. Selama ini ternyata sangat kecil karena sebagian besar hasil parkir digunakan untuk gaji jukir yang jumlahnya cukup besar. Bahkan, bisa dua kali lipat dari titik parkir yang dikelola,” jelasnya.

PAD dari parkir sebesar Rp 4 miliar, menurutnya, bukanlah hal mustahil. Asalkan ada perbaikan manajemen parkir serta pengawasan jukir yang nakal. Ia mencontohkan dengan lahan parkir di Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal yang hanya satu titik dengan ruang terbatas, bisa menghasilkan uang sebesar Rp 1,3 miliar. “Kendal ini ada 212 titik. Kalau semua dikelola secara benar, PAD dari parkir itu bisa tinggi,” tambahnya.

Menurut Toha, pengelolaan parkir di ruang tertutup dan terbuka jauh berbeda. Kalau di ruang tertutup tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sedikit. Sedangkan parkir di ruang terbuka sangat banyak.

Dicontohkan, di Kecamatan Boja ada sekitar sepuluh titik parkir dan rata-rata pendapatan parkir satu titik sekitar Rp 40 ribu. “Tapi setoran ke PAD hanya sekitar Rp 4 ribu saja, 36 ribu sisanya untuk kantong jukir,” jelasnya.

Target di 2017 yang dinaikkan menjadi Rp 650 juta, menurutnya, mudah tercapai. Caranya yakni mengurangi jumlah jukir dan menekan kebocoran dari jukir yang nakal. Sehingga dengan begitu parkir bisa maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Kendal, Bintang Yudha Daneswara mengatakan bahwa pihaknya berencana menaikkan tarif retribusi parkir. Yakni dari retribusi parkir dari Rp 500 menjadi Rp 1.000.

Menurut Danes, perda parkir yang lama sudah tidak relevan. Sebab sebenarnya PAD dari pakir bisa dimaksimalkan. Tapi kenyataannya selama ini banyak lahan parkir yang tidak terkelola dengan baik, sehingga hasilnya tidak masuk ke kas daerah. “Kami melihat banyak terjadi kebocoran dari retribusi parkir,” ujar Danes.

Dishub, lanjut Danes, nantinya akan menjadi leading sector untuk pengelolaan parkir. Dengan begitu, ada pengawasan terhadap titik-titik tertentu yang rawan terhadap perparkiran di Kendal. “Sehingga hasil retribusi parkir bisa maksimal masuk ke Kas Daerah,” paparnya. (bud/ida)

Latest news

Related news