31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Ngaku Intel Polda, Dita Gagahi Anak di Bawah Umur

KENDAL—Pemerkosaan terhadap anak di bawah umur terjadi di Kendal. Ironisnya, modus pelaku dengan mengaku sebagai seorang anggota polisi yang bertugas di Unit Intel Polda Jateng.

Pelaku diketahui bernama Dita Nurcahya, 26, warga Cepiring. Sedangkan korban berinisial WS, 16, warga Cepiring. Uuntuk memuluskan rencananya, pelaku mengaku sebagai seorang polisi dan mengancam akan menjual korban kepada orang lain, jika tidak menuruti kemauannya.

Dita mengaku perkenalannya dengan korban bermula dari situs jejaring sosial Instragram. Pelaku mengaku, awalnya akun Instagram miliknya dibajak atau di-hack oleh seseorang. Namun segera ia pulihkan karena akunnya terdaftar dengan nomor handphone miliknya.

Setelah ia cek, akunnya sudah berganti nama. Banyak inbox masuk dari akun yang tidak ia kenal sebelumnya. Salah satunya dari korban WS. Semenjak itulah keduanya berkomunikasi aktif. Lebih kurang selama dua pekan, kemudian pelaku mengajak korban untuk ketemuan.

“Saya jemput pelaku di rumahnya. Setelah itu saya ajak ke salah satu swalayan. Tapi korban menolak, karena tempatnya terlalu ramai. Kemudian saya ajak korban ke salah satu hotel di daerah Kaliwungu,” katanya saat diperiksa penyidik, Selasa (24/1) kemarin.

Di hotel tersebut pelaku melancarkan niatnya untuk menyutubuhi korban. Pelaku mengancam akan menjual korban kepada seorang germo, jika tidak mau melayaninya. “Saya copoti pakaian korban. Setelah itu saya setubuhi korban sekali,” paparnya.

Puas menyetubuhi korban, pelaku kemudian memofoto korban yang masih dalam keadaan bugil. Tujuannya untuk mengancam korban agar tidak cerita kepada siapapun mengenai hal tersebut. Pelaku mengancam akan menyebarkan foto-foto bugil korban jika sampai cerita kepada orang lain atau melapor ke polisi.

Selang beberapa hari kemudian, pelaku menghubungi korban dan mengirimkan beberapa foto telanjang korban. Pelaku mengajak korban ketemuan di hotel yang sama dan mengancam memberikan foto-foto bugil tersebut ke kepala sekolah tempat korban bersekolah.

Akhirnya korban WS menuruti kemauan korban, lantaran takut dan malu jika foto-fotonya yang tanpa busana sampai ke tangan kepala sekolah. Korban takut jika sampai harus dikeluarkan dari sekolah. Diketahui korban merupakan siswa salah satu SMK di Mangkang, Semarang.

Kasatreskrim Polres Kendal, AKP Arwansa mengatakan korban yang takut akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan hal tersebut kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua kemudian melaporkan pelaku ke Satreskrim Polres Kendal.

“Modus pelaku, yakni mengelabui korban dengan berpura-pura mengaku sebagai seorang anggota polisi yang bertugas di Intel Polda Jateng. Korban juga diancam pelaku, sehingga ini masuk pidana kekerasan seksual pada anak perempuan di bawah umur,” kata Arwansa.

Penyidik, lanjut Arwansa langsung menetapkan pelaku sebagai tersangka. Pelaku dijerat dengan Pasal 81 dan atau 82 Undang-undang (UU) nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Yakni setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan. “Ancaman pidananya Maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 300 juta,” paparnya.

Kasus ini, lanjut Arwansa, agar menjadi pembelajaran bagi warga masyarakat atau mengawasi anak-anaknya dalam penggunaan gadget HP atau pengawasan situs jejaring sosial. “Jangan mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal,” tambahnya. (bud/ida)

Latest news

Related news