31 C
Semarang
Sabtu, 8 Mei 2021

Sembilan Pasar Hewan Disterilkan

TEMANGGUNG– Dinas Perikanan dan Peternakan (Disperikan) Kabupaten Temanggung melakukan sterilisasi atau pembersihan di pasar hewan sebagai antisipasi penyebaran penyakit antraks. Sedikitnya ada sembilan pasar hewan di daerah setempat yang disasar.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disperikan Kabupaten Temanggung Esti Dwi Utami menuturkan, sterilisasi dengan menyemprotkan cairan desinfektan ini untuk mengantisipasi kejadian antraks, sebagaimana yang terjadi di Kulonprogo Jogjakarta pekan lalu.

“Jangan sampai, peristiwa yang terjadi Kulonprogo Jogjakarta, terjadi di Temanggung,” ucapnya di sela kegiatan sterilisasi pasar ternak terpadu Kranggan Temanggung, kemarin (24/1).

Esti melanjutkan, selain melakukan sterilisasi dengan desinfektan, untuk mengantisipasi antraks, pihaknya juga melakukan pengawasan atau pengetatan lalu lintas ternak. Bidikannya adalah di pasar hewan. Lalu melakukan edukasi terhadap para pelaku usaha maupun masyarakat yang setiap hari melakukan aktivitas di pasar hewan.

“Khusus untuk mengantisipasi kuman antraks ini, kami melakukan penyemprotan desinfektan lebih intensif. Jika sebelumnya dilakukan setelah pasaran (lima hari) sekali, kini sebelum dan sesudah pasaran kami lakukan desinfektan,” ungkapnya.

Esti mengimbau para peternak untuk mewaspadai keluar masuknya hewan, terutama terhadap ternak masuk. Kalau memang mau membeli ternak, tanyakan dulu surat kesehatan hewan dari mana ternak itu berasal.

Jika menjumpai ternak dengan ciri-ciri khusus seperti antraks, berternak dapat berkoordinasi dengan petugas kesehatan hewan. Ciri tersebut antara lain tiba-tiba ternak kehilangan keseimbangan atau yang lebih ekstrem lagi keluar leleran darah berwarna hitam dari lubang-lubang alami tubuh hewan.

Bagi masyarakat yang biasa mengonsumsi daging, pihaknya mengimbau untuk membeli daging yang berasal dari rumah pemotongan hewan (RPH) yang representatif.

“Jangan tergiur dengan harga daging murah. Belilah daging di los-los yang sudah terjamin. Masaklah daging dengan sempurna, karena pada prinsipnya antraks mati dalam pemanasan 100 derajat celcius dalam jangka waktu lima hingga 10 menit,” jelasnya.

Terpisah, belum ada temuan kasus antraks di wilayah Kabupaten Purworejo. Meski demikian, ada beberapa desa di Kecamatan Kaligesing yang berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo DI Jogjakarta yang berisiko tertular bakteri antraks. Desa berisiko terpapar berjarak kurang dari radius lima kilometer dari pusat temuan antraks di Desa Purwosari Kecamatan Girimulyo Kulonprogo.

“Pengawasan harus diperketat, tim monitoring ternak di Purworejo dan Kulonprogo turun ke desa mengecek adakah ternak yang mati mendadak,” Kasi Infovet Balai Besar Veteriner (BB Vet) Wates Jogjakarta drh Putut Purnomo usai sosialisasi antraks kepada sejumlah pemerintah desa di Pandanrejo Kaligesing, Selasa (24/1).

Ia menduga masih ada pedagang dan peternak yang kucing-kucingan dengan petugas untuk mengeluarkan ternak dari daerah tertentu. Spora yang menempel pada kambing berpotensi menginfeksi ternak sehat di daerah lainnya. Potensi penularan tinggi lantaran spora antraks mampu bertahan 40 – 50 tahun. (san/jpg/lis)

Latest news

Related news