31 C
Semarang
Selasa, 18 Mei 2021

Pasar Rejomulyo Lama Tetap Digusur Jadi RTH

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberi keputusan tegas sesuai rencana awal. Lahan Pasar Rejomulyo lama atau Pasar Kobong tetap akan ”digusur” menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Praktis, jika proyek RTH ini dimulai, maka pedagang grosir ikan basah Pasar Rejomulyo yang ngotot bertahan, mau tidak mau harus segera pindah.

Menurut Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi, beberapa keluhan pedagang selama ini telah direspons dengan melakukan pembenahan. Namun memang belum sempurna. ”Lha wong anggaran (perbaikan, Red) saat itu cuma Rp 200 juta. Sebaiknya (pedagang ikan basah, Red) sebagai bagian dari masyarakat, harus bisa bersinergi. Kekurangan yang ada, nanti akan diperbaiki sambil berjalan,” kata Hendi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (24/1).

Pasca dilakukan perbaikan beberapa waktu lalu, kata Hendi, pihak pedagang menawar lagi dan belum bersedia pindah. Jika pedagang tidak mau pindah, masalah ini akan berlarut-larut. Bahkan akan menjadi preseden buruk. Sebab, kebijakan maupun rencana program yang telah ditentukan tidak bisa berjalan. ”Mestinya (pedagang) jangan demo, tapi uangnya dialihkan untuk perbaikan lapak maupun kekurangan fasilitas,” ujarnya.

Hendi menegaskan, Pemkot Semarang berkomitmen memperbaiki bangunan pasar tersebut dengan membangun pasar baru untuk pedagang. Karena itu, pedagang mau tidak mau harus segera pindah. Sebab, Pasar Rejomulyo lama akan segera dilakukan pembangunan untuk ruang terbuka hijau. ”Saya tidak ingin ada segilintir kelompok masyarakat menghambat program pemerintah,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya mengaku belum mendapat laporan terbaru dari Dinas Perdagangan Kota Semarang mengenai perkembangan terbaru terkait pedagang ikan basah. Tetapi pada prinsipnya, tegas Hendi, jika proyek RTH mulai dilakukan, maka semua pedagang diminta menempati bangunan baru. ”Tidak perlu otot-ototan dan enyel-enyelan. Jika proyek dilaksanakan, pasti pembongkaran dilakukan. Ini sudah sesuai skenario Dinas Perdagangan,” tandasnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PPIB) Pasar Rejomulyo Semarang, Mujiburrohman, mengatakan, jika tetap dipaksa pindah, maka Pemkot Semarang harus segera mencarikan tempat relokasi yang memadai. ”Terserah mau dicarikan tempat relokasi yang mana, asal memadai sesuai kebutuhan sarana dan prasarana ikan grosir, kami siap. Jadi jangan satu pihak tok. Pemerintah memaksa kami untuk pindah, tapi tidak menyiapkan tempat yang memadai kan sama aja,” katanya.

Menurutnya, jika Pemkot Semarang serius mau mencarikan solusi, sebenarnya ada lahan yang memadai untuk relokasi. ”Itu di belakang PIH (Pasar Ikan Higienis) kan ada tempat kosong, katanya milik pemkot. Seharusnya segera ditindaklanjuti untuk dibangun,” cetusnya.
Menurutnya, lokasi tersebut jika ditata lebih bagus akan sangat bermanfaat untuk menghidupkan PIH, sekaligus menjadi ikon Kota Semarang. ”Apalagi sebentar lagi ada Kampung Bahari, sehingga lokasi tersebut sangat bermanfaat kalau dibangun,” katanya.
Tetapi kalau diminta menempati bangunan pasar baru, pihaknya dengan tegas tetap menolak. ”Kami tetap nggak mau. Kalau dipaksakan, tetap kami akan mati,” tegasnya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news