KAJEN-Para perajin batik di Kabupaten Pekalongan, ternyata masih sangat rendah pengetahuannya tentang filosofi batik. Umumnya para perajin batik hanya mengetahui bahwa kain batik adalah batik tulis, batik cap dan printing. Mengesampingkan bahwa batik merupakan hasil karya budaya bernilai tinggi yang patut dihargai dengan nilai tinggi pula.

Karena itulah, kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Kabupaten Pekalongan, Hj Munafah Asip, Dekranasda bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Budaya Pekalongan, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi UMKM, dan Dinas Pariwisata Pemuda Olah Raga, bersama Komunitas Tutur Batik akan membuat pertunjukan seni dan budaya berupa sendratari yang merepresentasikan filosofi motif batik.

Pagelaran perdana sendratari akan digelar pada Kamis, 26 Januari 2017 di Pendopo Bupati Bupati Pekalongan, dengan tema Presentasi Batik Kawung. Acara ini melibatkan 120-an penari lokal dari Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pekalongan, dan 30-an penari profesional dari Jakarta dan Surakarta.

“Tutur Batik ini akan memberikan pesan kepada masyarakat, tentang pendidikan bertutur akan motif batik yang selama ini belum pernah dilakukan. Sehingga dengan adanya pertunjukan sendratari ini, masyakarat dapat mengetahui betapa dahsyatnya motif batik yang selama ini ada,” ungkap Hj Munafah Asip.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa pertunjukan seni dan budaya Tutur Batik akan menampilkan 7 adegan sendratari yakni, tari Kuda Kepang, tarian rakyat Pekalongan, tarian Sepi Suwung, tarian kontemporer, tarian Bedayan Tebu, tarian Sufi dan tarian Kawung Unggulan.

“Disamping itu ada pagelaran fashion show batik, pelelangan batik, aneka jajanan kuliner tradisional, serta penampilan tari batik oleh artis Iga Mawarni,” kata Hj Munafah Asip.

Sementara itu, seniman dan pemerhati tari nusantara, Elly D Luthan, menjelaskan bahwa munculnya Komunitas Tutur Batik di Kabupaten Pekalongan, karena Rizaldi Siagiaan, seorang etnomusikolog merasa prihatin akan kondisi batik saat ini.

“Dalam pertunjukan pagelaran Tutur Batik ini, ada pesan yang terkandung atau filosofi tertentu dari motif batik yang dituangkan dalam sebuah pertunjukan. Dan pagelaran ini, baru pertama kali ada di Indonesia,” jelas Elly D Luthan.

Dengan pagelaran tersebut, imbuhnya, diharapkan pemahaman masyarakat akan nilai tinggi batik meningkat. Hal itu akan berdampak pada mahalnya batik dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dimana batik bukan hanya industri masal, namun juga sebuah budaya lokal yang mendunia. (thd/ida)